Friday, 1 February 2013

Belajar dari Orang Sukses

Artikel ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang sedih, nyaris putus asa karena merasa sudah berusaha namun belum melihat titik terang dari perjuangan Anda. Tahukah Anda di balik setiap kisah orang sukses ada pengalaman, perjuangan dan prinsip hidup yang bisa kita pelajari? Kesuksesan bukan suatu pemberian yang langsung Anda peroleh tanpa usaha. Kalau Anda melihat ada orang yang akhirnya dapat berhasil mencapai kesuksesan dengan mudah, hal itu berarti orang tersebut sudah lulus dalam masa belajarnya. Sekarang tinggal menuai hasilnya.

Bahkan di kitab suci pun kita bisa belajar bahwa seringkali Allah memberikan janji, tapi pemenuhan janji itu kadang membutuhkan waktu yang tidak pendek. Allah menjanjikan Abraham akan menjadi Bapa orang beriman atau Bapa segala bangsa. Saat itu Abraham masih berumur 75 tahun. Tapi ternyata Sara, istri Abraham mandul. Akhirnya Ishak lahir pada saat Abraham berusia 100 tahun dan Sara berusia 91 tahun. Berapa lama Abraham harus menunggu pemenuhan janji Allah? Bahkan saat Allah menegaskan kembali janjinya, Sara sudah tidak percaya karena saat itu dia sudah menopause. Tapi ternyata bagi Allah segala sesuatu mungkin.

Kisah lainnya adalah janji Allah pada orang Israel. Melalui Musa, Allah berjanji memberikan tanah Kanaan. Tapi sebelum Allah menggenapi janjinya, Allah menuntut bangsa Israel mematuhi hukum-hukum-Nya. Ketika bangsa Israel memberontak pada Allah dalam ketidakpercayaan dan menolak masuk Kanaan karena takut akan penduduknya, Allah marah dan membuat bangsa Israel mengembara di padang gurun selama 39 tahun.

Masih banyak kisah-kisah lain baik dalam kitab suci yang bisa kita baca. Dari kisah-kisah tersebut kita bisa belajar sekalipun Allah sudah berjanji memberikan sesuatu pada kita, tetap butuh waktu untuk penggenapan rencana Allah itu. Selain itu ada hal yang dituntut dari kita. Dalam masa penantian itu, Allah ingin kita belajar, kita ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, agar kita layak mendapatkan janji Allah. Jika kita memberontak atau tidak taat atau menolak melakukan kehendak-Nya, pemenuhan janji itu bisa menjadi lebih lama waktunya. Tapi untunglah waktu Tuhan tidak pernah terlambat.

Sekarang mari kita belajar dari kisah orang-orang sukses di sekitar kita. Pada saat orang sudah sukses kita bisa melihat uang mengalir ke rekening mereka dengan mudahnya. Kelihatannya apa yang mereka kerjakan langsung bisa menghasilkan duit. Seringkali hal itu membuat diri kita menjadi iri. Mudah sekali bagi orang yang sudah sukses untuk menarik orang lain mengikuti jejaknya. Mereka merekomendasikan produk A, banyak sekali orang yang langsung antusias membeli. Saat kita bergabung menjadi reseller, ikut menjual produk yang sama, kok yang beli cuman sedikit? Orang sukses menulis di facebook, langsung banyak orang mengklik like dan mengomentarinya. Saat kalimat yang sama kita salin di facebook kita, kok responnya biasa-biasa aja ya :).

Tapi tahukah Anda semua orang yang sekarang sukses itu dulunya juga melalui tahapan yang kita lalui sekarang. Mereka juga mengalami saat-saat orang menertawakan mimpi-mimpi mereka, saat orang menolak produk yang mereka tawarkan, saat-saat blog / account facebook sepi komentar dan sepi pengunjung. Tapi mereka semua belajar, bekerja keras membangun kredibilitas, dan dengan tekun meniti kesuksesan.

Perjuangan sesungguhnya justru dimulai saat orang memutuskan untuk mengapai mimpinya. Saat itu mulailah hidup kita seperti ditempa, kadang kita merasa sudah berusaha, namun hasilnya belum juga terlihat. Kita sudah mencontoh apa yang dilakukan orang sukses tapi ternyata respon yang didapat berbeda.  Kalau saat ini Anda mengalami hal itu, bersyukurlah. Inilah saat-saat kita perlu belajar banyak. Semua ini perlu terjadi pada hidup kita agar kita menghargai kesuksesan. Agar kita tahu sukses itu perlu perjuangan dan agar kita kuat dalam menghadapi kehidupan ini.

Di saat menemui jalan buntu atau kehilangan ide, saya senang belajar dari orang-orang yang sudah sukses. Saya jadi teringat tulisan Anne Ahira, yang sekarang terkenal sebagai Ibu Guru di Asian Brain, tempat kursus internet marketing di Indonesia. Perjuangan menuju suksesnya tidak mudah, saya sampai meneteskan air mata ketika membaca saat titik balik hidupnya. Saat orang tuanya datang ke tempat kostnya dan mendapati mata Anne Ahira merah. Orang tuanya mengira gosip yang beredar selama ini benar. Ahira dikira sudah jadi perempuan tidak benar, mata merah karena kurang tidur dikira karena terlibat obat-obat terlarang. Mendengar tuduhan itu, apalagi tuduhan itu diucapkan oleh orang tuanya, Anne Ahira berdoa sambil menangis. Ajaibnya, semenjak saat itu kondisinya berubah. Hasil belajarnya mulai berbuah.   Anda bisa mendengarkannya di audio Diriku dan Perjalanan.
  
Kemarin saya mampir ke facebook Steven Chang, orang yang menjadi terkenal di kalangan internet marketing setelah Pak Sukarto BBI memperkenalkannya sebagai lulusan BBI yang akhirnya sukses menjadi Milyader Toko Online. Saya merasa penasaran karena Pak Sukarto cerita awalnya Steven Chang sama sekali tidak mengerti tentang internet marketing. Bahkan 7 minisite awalnya dibuat dengan penuh perjuangan. Tapi Steven Chang bukan orang yang mudah menyerah. Berkat rutin konsultasi dan menurut pada mentor, akhirnya Steven Chang menjadi orang pertama di angkatan itu yang pecah telur (berhasil mendapat dollar). Kisah ceritanya di bagian catatan sungguh menginspirasi. Silakan dibaca sendiri http://www.facebook.com/notes/steven-chang/coretan-kisahku-mendapatkan-18-juta-perbulan-dari-bisnis-internet/10150245343293382.

Tanggal 4 Agustus 2012 saat Steven Chang sudah mulai merasakan kesuksesannya dia menulis:
I ask my mentor about success.. Pernah terbersit kesuksesan kecilku hanyalah sebuah "HOKI" karena memilih bisnis yg kebetulan tepat. Dan jujur saja dgn attitude yg biasa2 saja, disiplin yg kurang dan malas sebenarnya belum layak utk sukses, tp entah kenapa krn memilih bisnis yg tepat aku akhirnya mendapatkan kesuksesan kecil setelah lama berkutat dgn yang namanya kegagalan.. That's why I think that my little Success just about "LUCK (HOKI)"

And my Mentor say :

Untuk hidup orang bilang utk SUKSES perlu "HOKI" memang betul, tapi supaya bisa HOKI orang harus berusaha dan bekerja keras, makin berusaha makin HOKI. Saya melihat pengalaman saya dan teman2 yang lain dan semuanya begitu. Struggle dan kerja keras bertahun2 tidak ada hasil, tapi karena terus jalan tiba2 ada titik balik, dan tiba2 naiknya "Exponential". Ingat, jangan terlena dgn sukses kecil tetap kembangkan utk semakin maju. Dan yang pasti dgn kesuksesan jangan membuat kita sombong.. ^^

#My Mentor Quote


Bila kita pelajari lebih jauh perjuangan orang-orang dalam mencapai sukses, belum tentu kita mau mengalami hal yang sama, seperti yang telah dialami mereka. Tempaan hidup yang mereka lalui tidaklah mudah. Tapi karena mereka punya prinsip hidup yang benar, tidak mudah menyerah, percaya pada mimpinya, akhirnya cita-cita mereka dapat terwujud. Sukses yang mereka raih adalah buah dari perjuangan yang telah mereka lakukan sebelumnya. Pada akhirnya saat proses belajar telah berlalu, buah yang manis dapat mereka petik.

Nah saat Anda merasa putus asa karena bisnis yang Anda jalankan belum membuahkan hasil, ingatlah dulunya orang-orang yang sekarang sudah sukses pun pernah mengalami hal yang sama. Jika kita menyerah, maka kita akan tetap pada kondisi saat ini, bahkan mungkin lebih rendah karena kita cenderung menyalahkan diri kita sendiri. Tapi kalau kita terus berjuang sambil berdoa pada Tuhan, jalan akan mulai terbuka. Dengan bimbingan Tuhan, jalan yang kita lalui akan terasa lebih mudah. Ayo teman, kita terus berjuang mencapai mimpi kita, menuju kesuksesan. Mari kita belajar dari orang sukses.

Read More......

Tuesday, 15 November 2011

Dampak dari Pemberlakuan Cinta Bersyarat pada Anak


Anak bermasalah menjadi anak berprestasi (Dampak dari pemberlakuan cinta bersyarat pada anak)

Sharing ini ditujukan bagi para orangtua yang merasa memiliki anak yang bermasalah, terutama yang masih balita,  yang iri dengan adiknya, dan sering mengganggu temannya.

Saya ibu 2 orang anak cowok. Anak pertama saya Steven sekarang berusia 8 tahun lebih, duduk di kelas 3, sedangkan adiknya Kevin 7 tahun, duduk di kelas 2. Selisih umur mereka 1,5 tahun.

Saat ini kalau memandang Steven dan Kevin, saya bisa merasakan rasa sayang dan bangga. Tapi dulu tidak begitu. Masing-masing anak sempat mengalami fase sulit yang membuat saya nyaris putus asa.

Steven terlahir maju 17 hari dari jadwal karena ketuban pecah dini. Karena belum ada tanda-tanda lahir, akhirnya saya diinduksi. Sakitnya luar biasa. Untuk menghindari infeksi, Steven bayi diinjeksi antibiotik. Kemudian karena kuning, dia juga disinar. 2x24 jam penyinaran hanya mampu menurunkan sedikit kadar bilirubinnya. Akhirnya dia boleh pulang tapi masih harus minum obat dan dijemur setiap pagi.

Sejak bayi kecil, Steven sudah menunjukkan kalau dia bayi yang berwatak keras, susah diatur. Banyak sekali peristiwa yang membuat saya kewalahan. Sampai-sampai saya berpikir, “Kalau masih bayi kecil seperti ini aja sudah enggak bisa diatur, gimana nanti besarnya. Saya tidak boleh kalah dengan anak ini... “.

Tapi ternyata sikap yang saya ambil salah. Semakin saya keras, tingkahnya semakin menjadi.  

Pada umur 3 minggu, saat itu sekitar pukul 10 pagi, Steven sedang ditidurkan di ranjang. Tiba-tiba dia menangis keras sekali, tangisan melengking yang susah sekali dihentikan. Mukanya sampai merah, dia seperti sedang kesakitan. Saat itu saya belum punya pembantu, tapi untunglah ada mama yang langsung bergegas menolong, menggendong dan menenangkan Steven. Butuh waktu lama untuk membuat tangisan Steven berhenti. Akhirnya karena kecapekan dia tertidur.

Sorenya hal itu terulang lagi. Karena kuatir kami membawanya ke dokter. Ternyata dokter bilang Steven terkena kolik. Penyakit kolik diderita sejak bayi berumur 3 minggu dan akan sembuh sendiri saat bayi berumur 3 bulan. Begitulah sejak hari itu sampai Steven  berusia 3 bulan kurang 1 minggu, setiap malam kami tidak dapat tidur nyenyak. Baru saja kami berhasil menidurkannya, 5 menit kemudian tangisan menyayat hati  itu kembali terdengar. Kami harus kembali menggendongnya sambil berjalan hilir mudik menenangkannya. Setelah kelelahan dia tertidur, karena tidak ingin dia terbangun lagi, seringkali kami biarkan Steven tidur di gendongan. Tak jarang saya atau mama tidur sambil duduk menggendong Steven, kadang meringkuk di sofa. Kalau tiba-tiba dia terbangun dan menangis lagi ya kami harus menenangkannya. Sungguh ini merupakan 2 bulan yang sangat menyiksa dalam hidup saya.

Selama 1 tahun pertama kehidupan Steven, kami sering sekali membawanya ke dokter. Bahkan karena tidak sabar dan ingin mencari pendapat lain, kami pernah gonta-ganti dokter. Steven kecil pernah mengalami  diare, kolik, demam, alergi susu sapi, alergi susu soya, kulit kepala berkerak, pipi bengkak, seluruh tubuh merah-merah, bisulan, rewel, batuk pilek, infeksi perut, dsb.

Dulu sering Steven dirujuk ke laboratorium untuk periksa darah, akibatnya dia menjadi trauma terhadap jarum suntik. Apalagi saat bayi banyak jadwal imunisasi yang harus dijalani. Saking seringnya ke lab dan dokter, Steven berontak. Pertamanya, dia menolak masuk ke ruang periksa. Lambat laun pemberontakan di mulai dari depan rumah dokter. Begitu mobil berhenti di rumah dokter dia nangis berontak enggak mau turun. Ketiga, saat mobil belok di jalan menuju rumah dokter dia sudah menjerit-jerit nangis. Itu semua terjadi sebelum dia berusia 1 tahun. Ingatan yang sangat hebat untuk ukuran anak usia 1 tahun.

Untungnya  dari sisi tumbuh kembang Steven tidak ada masalah, bahkan dia termasuk anak yang cerdas. Sejak kecil minat belajarnya tinggi. Perkembangan bahasa kurang baik, tapi dia mengerti perintah, bisa diajak komunikasi. Pada umur 2,5 tahun akhirnya dia bisa berbicara normal.

Permasalahannya pada perilaku dan sikapnya, sejak umur 7 bulan Steven menolak memakai sepatu, sandal, bahkan kaos kaki dan itu terjadi sampai dia berusia 2 tahun lebih.

Steven termasuk anak yang aktif, tidak bisa diam, banyak maunya, saat marah suka menangis menjerit-jerit. Perilaku Steven ini seringkali membuat saya kehilangan kesabaran. Steven kecil sering sekali saya cubit dan pukul karena saya kewalahan tidak mampu mengendalikannya. Tapi… cara saya yang salah ternyata membuat tingkah Steven semakin sulit diatur, akibatnya saya makin stress, Steven juga makin nakal.

Hufff… seperti lingkaran setan situasi saat itu. Makin nakal, makin dikerasin, makin menjadi.

Puncaknya saat Steven masuk playgroup. Saat itu dia berusia 2 tahun lebih. Kevin sudah lahir, berusia 9 bulan. Berbeda dengan Steven, Kevin bayi merupakan bayi yang anteng, tidak banyak tingkah. Tapi mungkin juga karena perbedaan yang mencolok ini tanpa kami sadari kami dan orang-orang sering membanding-bandingkan Steven dan Kevin. Hal itu membuat Steven kecil makin merasa tidak nyaman, tidak dicintai, dan menjadi iri dengan adiknya.

Hari pertama Steven masuk playgroup saya masih sempat mendampingi. Saat itu dia sudah terlihat tidak nyaman berada di kelas yang tertutup. Tapi karena di hari perkenalan itu dibagikan balon, perhatiannya masih bisa dialihkan. Meskipun ada pemberontakan tapi dia tidak menangis dan hari itu bisa dilalui dengan baik.

Malamnya ayah mertua yang beberapa hari masuk rumah sakit mendadak meninggal dunia. Kami berduka cita dan  sibuk mengurusi pemakaman. Steven masih tetap sekolah ditemani oleh pembantu. Sekitar  2 minggu kemudian setelah semua urusan beres, saya baru bisa mendampingi Steven sekolah lagi. Betapa terkejutnya saya karena ternyata Steven bermasalah. Ada orang tua yang melapor kalau anaknya diserang Steven, digigit tangannya, dsb.

Pagi sebelum kejadian penggigitan itu, kebetulan Steven mengganggu Kevin dan oleh neneknya dia ditegur. Kevin selamat dari gangguan Steven, tapi akibatnya dia mencari pelampiasan ke anak yang lebih kecil dari dia.

Hari itu saya mendampingi Steven masuk kelas dan saat istirahat masuk ke  ruang bermain. Di ruang bermain itu ada castle dan rumah-rumahan. Steven tidak bisa bermain membaur dengan teman lainnya. Tingkahnya susah diatur. Saat  dia melihat teman perempuannya yang cantik dan kecil mungil, tiba-tiba Steven menyerang temannya itu sampai leher anak itu merah. Para guru ada yang langsung mengendong anak itu, ada yang berusaha menenangkan Steven. Tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu bercampur antara malu, marah, putus asa. Saya sampai sempat bertanya pada wali kelas Steven, bagaimana ini apa Steven masih boleh sekolah di sana...

Mungkin karena penanganan yang salah, semenjak kejadian itu tingkahnya semakin menjadi. Setiap kali mau berangkat sekolah menjadi masalah baru. Steven berontak tidak mau mandi, tidak mau berangkat sekolah. Kami berusaha membujuk, merayu, dan kerana tidak mempan akhirnya mengancam, memarahi, menghukumnya, dsb. Kalaupun kami berhasil mengantarnya ke sekolah, tetap saja kami harus menahan perasaan karena Steven tidak mau belajar, tidak mau baris, tidak mau masuk kelas, dsb. Semakin lama emosi saya makin meningkat.

Saya sempat konsultasi dengan kepala sekolah bagaimana sebaiknya menghadapi anak seperti Steven. Sebenarnya kepala sekolah play group saat itu sudah memberi nasehat yang bijaksana. Beliau bilang, “Biarkan saja dulu Bu, jangan dipaksa. Ajak aja Steven main-main ke sekolah, tidak usah pakai seragam. Pagi ajak jalan-jalan, mampir ke sekolah, biarkan dia adaptasi dulu. Kalau hari itu bukan hari dia sekolah pun tidak apa-apa (play  group masuk 3 hari dalam seminggu). Dampingi saja, kalau dia tidak mau masuk kelas jangan dipaksa, ajak main-main dulu...”

Sayangnya nasehat yang bijaksana itu saya lakukan dengan setengah hati. Saya mengajaknya ke sekolah, mendampingi meskipun cuman melihatnya main mobil-mobilan. Kalau Steven sudah bosan ya sudah kami pulang. Tapi melihat kemajuan teman-temannya membuat saya tidak sabar. Dalam pikiran saya saat itu.”Kok enak, si Steven ! Harusnya anak salah ya dihukum biar dia tahu kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi khan.. ?“

Di rumah Steven saya intimidasi. Saya gemas, kalau seperti itu terus kapan pinternya... Saya lupa kalau saat itu Steven masih berusia 2 tahun lebih...

Kemudian terjadilah kejadian yang membuat saya berpikir...Sabtu pagi Steven sedang dihukum. Seisi rumah tidak boleh ada yang mengajaknya bermain dan bercakap-cakap. Saya berkata kepadanya,”Karena Steven enggak mau sekolah, ya sudah enggak ada yang mau sama Steven. Kalau Steven pinter, baru papa mama sayang sama Steven. Enggak boleh ada yang ngajak Steven main sampai Steven berjanji mau jadi anak pinter, mau sekolah.”

Steven kecil berusaha mencari perhatian tapi dilihatnya semua orang cuek. Saya dan papanya membaca koran di ruang tamu. Neneknya membaca koran di ruang keluarga, duduk di lantai sambil koran menutupi wajahnya. Pembantu duduk di sofa sambil menepuk-nepuk Kevin. Akhirnya Steven bilang minta susu. Pembantu membuatkan dan memberikannya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Sambil membawa susu botolnya, Steven mencari tempat yang dirasanya enak untuk minum susu. Dilihatnya box bayi Kevin yang saat itu diletakkan di ruang keluarga. Dia naik ke sana. Box bayi itu lumayan tinggi. Dulu kami membelinya dengan pertimbangan biar bayi aman di dalam box, bahkan saat bayi belajar berdiri. Siapa sangka hal itu malah jadi bumerang saat anak kecil yang membawa botol susu berusaha naik sendiri. Steven kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba terdengar gedebug yang sangat keras. Steven terbanting ke lantai dan kepalanya yang terlebih dahulu membentur lantai.

Setelah itu Steven bilang ngantuk dan pindah ke kamar untuk tidur. Tak lama kemudian dia muntah. Kami menjadi panik, kata orang kalau muntah berarti gegar otak. Steven kami bawa ke rumah sakit untuk dirontgen kepalanya.

Di rumah sakit Steven berontak, sehingga butuh beberapa orang untuk memeganginya. Waktu menunggu hasil foto, Steven muntah lagi beberapa kali. Ketakutan mulai melanda diri saya. Satu-satunya hal yang membuat saya bangga pada Steven saat  itu adalah kecerdasannya. Saat itu ingatan Steven sempat hang saat saya ajukan beberapa pertanyaan. Banyak pertanyaan yang dulunya sudah dikuasainya dijawabnya dengan tidak tahu. Saya menjadi takut. Bagaimana kalau gara-gara jatuh itu terus Steven menjadi bodoh?

Saya merasa ditegur oleh Tuhan.

Apakah begitu tak berharganya Steven sampai  saya menyia-nyiakannya seperti itu. Apa saya rela kalau seandainya Tuhan mengambil Steven kembali?

Sebenarnya yang harus saya lakukan mencintainya dengan sepenuh hati, membantu dan mendampinginya agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, bukannya terus-menerus memarahi dan membuatnya merasa tidak dicintai. Di rumah sakit itu saya berdoa, mohon ampun dan mohon diberi kesempatan lagi. Saya memohon kepada Tuhan agar Steven tetap bisa menjadi anak yang pandai dan mohon supaya kami bisa membesarkan dan mendidiknya dengan baik.

Singkat cerita dokter bilang tulang kepala Steven tidak ada yang retak, kami boleh pulang dan diberi obat minum. Meski awalnya terasa sulit, saya berusaha keras memenuhi janji saya. Mengubah sikap, tidak lagi marah-marah, berusaha instropeksi diri. Saya berusaha keras tidak memukuli dan mencubitinya lagi. Berusaha lebih dekat, lebih mengerti dia, mengajaknya mengobrol, bercerita,dsb. Semua itu butuh proses dan tidak terjadi secara instan. Tapi pelan tapi pasti semenjak saya berubah, sikap Steven pun berubah menjadi lebih baik.

Suatu hari saat jalan-jalan ke Gramedia, mata saya seolah terpaku pada buku “Ibu Dengarkan Aku” karangan Dra V. Dwijani. Buku itu masih terbungkus plastik sehingga saya tidak bisa membacanya di sana. Rasanya ada dorongan untuk membeli  buku tipis yang berisi kumpulan curahan hati anak-anak pada ibu mereka. Ternyata benar buku itu berhasil membuat hati dan pikiran saya terbuka. Saya jadi tahu kalau jalan pikiran anak-anak seringkali berbeda dengan pemikiran orang dewasa.

Dalam perjalanan waktu, secara tak sengaja saya menemukan situs sekolahorangtua.com . Kembali saya belajar, ternyata menjadi orang tua yang baik perlu proses pembelajaran.

Semenjak kejadian itu, keadaan menjadi lebih baik. Hasilnya pun terlihat. Jika di play group A awal Steven sering dirasani orang tua lainnya karena kenakalannya, seiring berjalannya waktu orang mulai melupakan kejadian yang lalu dan memuji kepintarannya. Di play group B Steven berhasil meraih prestasi, menjadi The King (Juara 1 cowok dalam bidang akademis, perkembangan sikap, perilaku, dan aspek-aspek lainnya).

Di TK dia juga beberapa kali dapat piala karena hal yang berhubungan dengan akademis. Para guru bilang sikapnya baik.  Di SD juga perkembangannya bagus. Guru-guru bilang Steven pinter, baik, tidak ada masalah, sikapnya dewasa, mandiri, dan kalimat pujian lainnya.

Saya bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk berubah. Sampai saat ini saya masih terus belajar. Saya belajar bahwa dalam hidup pasti ada permasalahan, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Sikap yang salah bisa membawa dampak yang buruk. Sebaliknya bila kita mampu memilih sikap yang benar, permasalahan yang tadinya terasa berat pun bisa terselesaikan dengan baik.

Saat ini bila melihat antara Steven dan Kevin mulai timbul perselisihan atau rasa iri, saya instropeksi diri. Seringkali hal itu imbas karena perlakuan orang tua yang dirasa tak adil bagi anak. Saat tangki cinta mereka penuh, mereka merasa disayang oleh orang tua dan diperlakukan adil, perilaku mereka pun menjadi baik.

Hasil instropeksi saya membuahkan hasil yang manis. Bila mereka berselisih, mereka segera minta maaf,  langsung bersenda-gurau  dan rukun lagi. Sebaliknya, saat tangki cinta mereka kosong, banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi. Begitu besar peran kita sebagai orang tua...

 Mari kita belajar dari pengalaman orang lain agar mampu menyerap nilai-nilai yang baik dan tidak mengulang kesalahan. Semoga kita semua bisa mengajari anak tekun berjuang mencapai impian, menjadi orang tua yang baik dan memiliki anak yang dapat dibanggakan.

Nb : Instropeksi dan belajar terus menerus adalah kunci penting menjadi orangtua yang lebih baik lagi. 

Read More......

 

blogger templates | Make Money Online