Saturday, 22 November 2008

Di Balik Anak yang Sukses, Ada Orangtua yang Hebat

Memiliki anak-anak menjadi dambaan bagi sebagian besar orang tua. Terlebih bila anak itu terlahir normal, tumbuh menjadi anak yang sehat, cantik / tampan, cerdas, pintar, penuh percaya diri, juara, dan hal-hal positif lainnya. Siapa ya yang bangga? Pasti deh kedua orang tuanya, eh biasanya kakek neneknya enggak kalah juga lho bangganya.

Sebaliknya saat anak menghadapi masalah, kita sebagai orang tua juga ikut pusing. Terlebih bila permasalahan yang terjadi berlarut-larut. Biasanya orang tua ikut terbawa emosi, jadi sering marah-marah melulu. Pernahkah Anda merasakan hal seperti itu?

Kenapa kita merasa seperti itu? Karena sebagian besar orang merasa kalau anak sukses, orang tua juga kecipratan dapat nama baik khan. Sebaliknya kalau anak bermasalah, terus orang tua dipanggil ke sekolah, aduh malunya, kita sebagai orang tua ikut juga merasakan kegagalan itu.

Nah benernya apa sih yang harus kita lakukan bila kita ingin anak kita sukses, berprestasi, percaya diri, dan sikap positif lainnya? Kita sebagai orang tua harus dapat membangkitkan semangat dan citra diri positif anak kita. Peran orang tua pada perkembangan kepribadian anak memang sangat besar. Memang benar di balik anak yang sukses biasanya ada orang tua yang hebat. Orang tua yang perhatian, yang memberi support, kata-kata positif, efeknya sangat besar pada kepribadian anak.

Kalau orang tua mencintai anak dengan tulus, maka anak akan merasa dihargai, berbahagia, dan akan bersikap baik pula. Memang ada orang tua yang tidak mencintai anak dengan tulus? Ehm coba renungkan pernahkah Anda berkata kepada anak Anda kata-kata seperti ini:
- Kalau kamu ingin disayang mama, makanya jadi anak yang pinter, jangan nakal.
- Enggak, kamu nakal, mama enggak mau sama kamu. Sudah mama mau sama adik saja.
- Ayo teruskan bertengkar, mama kirim kalian ke panti asuhan. Ayo ringkas pakaianmu, mama antar kalian ke panti asuhan, biar kapok, di sana.....
- Kalau kamu enggak berhenti nangis teriak-teriak seperti itu, mama kurung di gudang lho ya.
- Sudah, mama capek. Kamu gak bisa diatur. Sudah kamu dikasih ke ..... (tukang rombeng, kakek / nenek, tukang becak, dsb) aja.
dsb
Hiii kelihatannya kalimatnya serem ya. Masa sih ada orang tua yang bersikap seperti itu pada anak-anaknya? Survey kecil-kecilan, maksudnya dari cerita-cerita para ibu yang lagi berkeluh-kesah di sekolah, membuktikan banyak juga lho dan cukup sering kalimat-kalimat serupa itu terlontar kalau orang tua lagi kesal. Termasuk saya sendiri juga kok ....

Apakah kami, kaum ibu memang sungguh-sungguh dengan kalimat itu? Oh tentu saja enggak. Kami sayang banget dengan anak-anak kami. Tapi kadang capek banget, kesal kalau mereka tidak bisa diatur. Itu khan hanya kalimat ancaman aja. Biasanya manjur tuh. Setelah itu mereka akan menangis dan berjanji tidak nakal lagi. Mereka akan berkata aku sayang mama, jangan dikasih ke orang, dsb. Setelah itu keadaan akan membaik kok. Ehm benarkah demikian?

Ternyata kalimat-kalimat yang biasa kita ucapkan saat kita marah, emosi tersebut berdampak sangat besar lho pada perkembangan anak-anak kita. Coba lihat lagi kalimat-kalimat tersebut. Apa efeknya pada anak kita? Apa makna yang tersirat dari kata-kata di atas?

Pada sebagian besar kalimat itu menyiratkan kalau kita tidak mencintai anak dengan sepenuh hati, cinta kita tidak tulus. Saat anak mengalami masalah, kita tidak mau repot-repot mencari sumber permasalahan dan mencarikan jalan keluar. Kita lebih memilih ancaman agar anak takut, kemudian menurut pada kita. Apakah hal ini efektif? Biasanya sih iya untuk saat itu. Karena merasa cara tersebut berhasil makanya diulang lagi khan. Kalau kurang mempan ya ancamannya yang ditambah. Ehm orang tua merasa menang, bisa mengendalikan anaknya.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi pada diri si anak. Kenapa mereka mau menurut? Ya karena mereka takut. Anak mana yang mau dikurung di gudang yang gelap, yang katanya ada tikusnya? Siapa yang mau dikasih ke panti asuhan yang katanya ......, siapa yang mau dikasih ke tukang rombeng, tukang becak, dsb. Ya mending berhenti nangis deh daripada mama lebih marah lagi, dan ancaman yang lebih hebat keluar dari mulut mama. Tapi, apakah anak kita merasa puas? Apakah problem mereka terselesaikan? Hah? Memang problem mereka apa? Tuh khan kita malah enggak tahu ada apa sih di balik rengekan, pertengkaran, dan kerewelan mereka itu....

Dengan ancaman tersebut memang anak kita menjadi diam, tapi diamnya terpaksa. Dalam hati sebenarnya sangat tidak puas. Harga diri mereka terkoyak, merasa tidak dicintai atau dicintai dengan syarat tertentu, batin mereka akan terluka. Efek ini bila tidak terselesaikan akan terbawa sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri, peragu, pemalu, rendah diri, merasa serba salah, tidak bisa mengambil keputusan, penakut, dsb tergantung seberapa parah luka batin yang terjadi.

Aduh, terus apa nih yang perlu kita lakukan sebagai orang tua? Ya tentunya setelah tahu dampaknya yang sedemikian besar kita perlu melakukan instropeksi deh. Benarkah cara didik kita selama ini sudah benar? Apakah sikap anak kita sudah positif? Apakah mereka juara dengan motivasi yang benar atau karena takut tidak dicintai? Coba deh kita dekati anak-anak kita, ajak bicara dari hati ke hati. Buat mereka merasa nyaman, dicintai dengan sepenuh hati. Mari kita selesaikan permasalahan yang ada, mumpung bom waktu itu belum meledak. Hypnosis mereka dengan kata-kata yang positif. Kita tentunya ingin menjadi orang tua yang hebat dan memiliki anak yang sukses khan. Yuk kita berjuang untuk hal itu...terlebih saat anak kita masih kecil, saat kesalahan-kesalahan kita masih bisa diperbaiki.

Read More......

Tuesday, 18 November 2008

Tips Agar Anak Tidak Peragu

Hari ini saya membaca Newsletter Hypnoparenting edisi 02 yang berjudul "Anak-anak yang Bingung". Isinya sangat menyentuh karena saya pernah bahkan sering mengalami hal ini. Kelihatannya anak saya, terutama Steven, tumbuh menjadi anak yang peragu juga. Betapa gembiranya saya, bisa mendapatkan newsletter ini, gratis lagi. Beruntung banget deh ternyata keraguan dan kebingungan ini ada teorinya. Terima kasih Pak Ariesandi dan Pak Sukarto atas ilmu ini.

Hari ini mata saya baru terbuka, ternyata hal-hal yang diucapkan orang tua kepada anak, terutama jika perbuatan dan perkataan itu sering diulang maka pikiran bawah sadar anak akan menangkapnya dan menyimpannya sebagai fakta kebenaran. Apapun faktanya, positif ataupun negatif, akan dianggap sebagai kebenaran dan diwujudkan dalam realita fisik si anak. Ini yang disebut hypnosis.

Seringkali, entah disadari atau tidak, kita telah menghypsosis anak-anak dengan perkataan dan perbuatan kita. Cara komunikasi dengan anak yang salah, yang bila sering dilakukan akan mengakibatkan anak tumbuh dengan perasaan ragu-ragu dan takut melakukan kesalahan.

Berikut ini adalah contoh kata-kata yang sering orang tua ucapkan dan membingungkan bagi anak:
1. Saat anak kita berebut mainan, kita tidak tahu duduk persoalan sebenarnya, tapi langsung saja dari jauh mengomentari, Ayo teruskan, ganggu adikmu terus. Nanti mama hukum kamu kalau terus mengganggu adikmu. Khan adikmu masih kecil, kamu yang lebih tua ngalah dong!
Pernahkah Anda bersikap seperti itu? Yuk kita telaah mengapa kata-kata ini membuat bingung anak:
a.1. Ayo teruskan ya...ganggu adikmu terus...
a.2. Nanti Mama hukum kamu kalau terus ganggu adikmu.
Lihat kedua kalimat ini sangat kontradiktif. Katanya disuruh meneruskan, tapi kok malah dihukum? Bagi anak kecil kalimat ini membuatnya bingung dan dapat mengakibatkan dia tumbuh menjadi anak peragu.

b.1. Khan adikmu masih kecil
b.2. Kamu yang lebih tua ngalah dong
Selamanya adik selalu lebih kecil dari kakak, berarti kakak harus ngalah terus dengan adik? Tidak peduli kalau adiknya yang nakal? Kenapa adik tidak dihukum kalau nakal? Kenapa kakak terus yang dimarahi?

2. Saat anak melakukan sesuatu yang buruk, misal nilai ulangan jelek. Mama memarahi dan berkata bahwa mama dulunya tidak pernah mendapat nilai jelek seperti itu. Papanya yang mendengar tersinggung, merasa tersindir dan membela diri, terus ikut berkomentar bahwa papa dulu juga selalu juara.
Nah si anak yang mendengar pertengkaran tersebut menjadi bingung, kemudian berpikir Mama pintar, Papa juga pintar, berarti aku anak siapa ya? Kenapa aku sendiri yang bodoh? Kok gara-gara nilaiku papa dan mama jadi bertengkar sih? Apa salahku? dsb.

Sikap kita sebagai orang tua yang seperti itu, bila dilakukan berulang-ulang, akan menjadikan anak kita:
1. Selalu / seringkali bersikap penuh keraguan dalam bertindak
2. Takut dikritik, perfeksionis, tidak berani mengambil keputusan
3. Saat besar nanti menjadi kurang berinisiatif dan tergantung pada orang lain.

Terus apa nih yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan itu? Berikut ini tips dari Hypnoparenting agar anak-anak kita tumbuh dengan baik, tidak bingung dan peragu lagi:

1. Katakan apa yang Anda inginkan terjadi, jangan membuat anak mencari-cari sendiri makna dari ucapan atau tindakan Anda. Janganlah terlalu suka memelototi anak dan berharap mereka
akan mengerti apa maksud Anda, mereka akan mencari makna dan akhirnya tumbuh dengan sikap penuh keraguan dan takut berbuat salah. Jika Anda ingin dia menghentikan tindakannya langsung katakan, "Sudah cukup. Hentikan sekarang. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"

2. Akui dan hargailah perasaan mereka.
"Kamu lagi jengkel ya, sedih ya, atau kecewa? Kamu jengkel karena ...... (mainanmu direbut oleh adik ya, atau Mama/Papa membentak kamu ya, atau apapun penyebabnya). Yaa .... Mama/Papa mengerti dan bisa merasakan hal itu. Mama/Papa sendiri juga akan jengkel atau marah jika diperlakukan seperti itu. Menurut kamu apa yang bisa dilakukan agar perasaan jengkelmu hilang? Apa kamu mau minum dulu? Atau melakukan .....

3. Bersikaplah konsisten. Tindakan dan ucapan kita harus selaras.
Selain itu kita sebagai pasangan juga harus konsisten dan sepakat dengan berbagai aturan. Jangan sampai kita mengijinkan hal tertentu tetapi pasangan kita mengijinkannya atau sebaliknya. Jika hal itu sering terjadi maka si anak juga akan mencari sendiri kebenaran makna dari ucapan atau tindakan itu.

Hm suatu nasehat yang bijaksana. Pak Ariesandi dan Pak Sukarto juga mengingatkan karena kita sebagai orang tua senantiasa menghypnosis anak kita, pastikan kita menghypnosis mereka dengan hal-hal yang benar. Orang tua yang melakukan suatu hypnosis positif pada anak-anaknya, akan membawa mereka menuju kesuksesan saat anak-anak itu tumbuh dewasa.

Jika Anda merasa artikel ini bagus dan berguna bagi Anda, daftarkan nama dan alamat email Anda pada Sekolah Orangtua. Anda akan mendapatkan ebook dan newsletter gratis mengenai tips mendidik dan mengasuh anak. Topik newsletter berikutnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan. Hm menarik banget tuh, saya tidak sabar ingin membaca newsletter berikutnya. Bagaimana dengan Anda? Masihkan Anda ragu?

Read More......

Saturday, 8 November 2008

Menghilangkan Kebiasaan Suka Menjerit Pada Anak

Apakah anak Anda bila marah suka menangis sambil menjerit-jerit? Terutama jika keinginannya tidak dituruti? Anak saya dulu juga pernah seperti itu, hm bikin orang tua tambah kesal aja. Kalau dibiarkan siapa yang tahan mendengarnya, dimarahi eh tambah kencang jeritannya. Dituruti? Wah enak banget, ntar malah jadi kebiasaan dong, bisa jadi senjata dia setiap kali minta sesuatu. Lalu kita harus berbuat apa ya?

Kebetulan sekali waktu itu saya membeli buku kumpulan cerita pendek karya Enid Blyton. Di dalam buku itu kita dapat belajar mengatasi permasalahan anak dengan membacakan cerita. Tapi jangan membacakan cerita saat Anak sedang marah, percuma deh. Sebaiknya kita bacakan cerita saat sedang santai, misalkan menjelang tidur. Nah kebetulan sekali di Buku Monyet Mike ada cerita tentang Sally di Tukang Menjerit. Cerita tentang anak yang suka sekali menjerit-jerit sampai keinginannya dipenuhi. Karena cara itu selalu berhasil, Sally menggunakannya sebagai senjata. Ibunya yang tidak tahan akhirnya mengabulkan permintaannya. Akibatnya makin hari kebiasaan jelek ini makin menjadi-jadi.

Cerita selanjutnya memang agak khayal sih, waktu Sally sedang menjerit-jerit, tiba-tiba datang seorang perempuan tua yang melongokkan kepala melalu jendela. Nenek tersebut berkata bukan main, jeritan Sally hampir-hampir merobohkan rumah. Kemudian nenek tersebut mengajak Sally masuk ke dalam hutan. Di sana ada rumah nenek yang kondisinya hampir ambruk. Sally diminta masuk ke rumah tersebut untuk menjerit-jerit. Katanya sih agar rumahnya cepat ambruk sehingga nenek tua tersebut dapat membangun rumah baru.

Tentu saja Sally marah. Ia menjerit sekuat tenaga sambil menggedor-gedor pintu. Akibatnya atap rumah yang memang sudah rapuh terjatuh. Sally kembali menjerit, kali ini karena ketakutan. Dari luar nenek memberi semangat Sally, ayo menjeritlah lagi, lebih keras lagi, tinggal sedikit lagi rumah itu akan roboh.

Akhirnya Sally berpikir kalau dia menjerit lagi, bisa-bisa rumah itu roboh menimpanya. Lagipula untuk apa dia membantu merobohkan rumah perempuan tua yang tidak dikenalnya itu. Sally marah, tapi dia menahan diri agar tidak menjerit-jerit lagi. Baru kali itu Sally berhenti menjerit sebelum keinginannya terkabul. Sally berjanji tidak akan berteriak-teriak lagi dan perempuan tua tersebut mengijinkan Sally keluar dari rumah yang hampir roboh itu.

Sejak saat itu Sally tidak pernah lagi menjerit-jerit bila sedang marah atau keinginannya tidak terpenuhi. Dia berusaha menahan diri karena tidak ingin perempuan tua itu datang dan membawanya kembali ke rumah yang hampir roboh di tengah hutan. Setiap kali hendak menjerit dia teringat janjinya dan menutup kembali mulutnya.

Cerita diakhiri dengan pesan bahwa sampai sekarang rumah reyot perempuan tua itu masih berdiri di tempatnya - menunggu diruntuhkan. Kalau ada anak seperti Sally dulu yang suka menjerit-jerit tolong beritahukan perempuan tua itu ya!

Nah ketika saya membacakan cerita ini lumayan mengena pada anak saya, tapi pernah suatu ketika dia marah sambil menangis menjerit-jerit. Saat itu saya sudah emosi, terus tiba-tiba teringat cerita tadi. Lantas saya pura-pura lari ke depan sambil berkata neneknya sudah datang belum ya? Anak saya terdiam sebentar, kaget. Rupanya dia juga teringat cerita Sally. Terus saya melihat ke sekeliling aduh temboknya sudah retak, wah bahaya nih. Anak saya kaget, menjerit lagi karena marah, tapi berusaha keras menghentikan tangisan dan jeritannya.

Sejak saat itu setiap kali anak saya mulai marah sambil menjerit-jerit, saya tenang-tenang saja sambil memeriksa tembok, melihat retakannya. Kalau belum berhasil, saya lari ke jendela, pura-pura menunggu kedatangan nenek tua, atau tinggal bilang "Nenek.."Anak saya mengerti dan sekarang sudah menghilangkan kebiasaan buruk marah sambil menjerit-jerit. Bagaimana dengan anak Anda? Berminat mencoba cara ini? Sharing ya gimana hasilnya.

Read More......

Thursday, 30 October 2008

Tips Buat yang Pemalu dan Sulit Bergaul

Beberapa hari lalu saya membantu menjawab pertanyaan di Yahoo Answer. Pertanyaannya 'Saya orangnya pemalu dan sulit bergaul dengan orang lain dan cewek. Bagaimana cara Mengatasinya?' Di jawaban tersebut saya katakan bahwa saya dulu juga seperti itu dan saya beri sedikit nasehat, ternyata hore :~ oleh penanya jawaban saya dipilih sebagai jawaban terbaik. Sebagai ucapan terima kasih saya ingin melengkapi jawaban saya dan sedikit sharing pengalaman.

Yup, saya dulu mulai TK sampai SMA orangnya pemalu, tidak percaya diri, pendiam banget, susah bergaul. Ehm ada enggak ya teman lama yang membaca blog ini? :$ Sebenarnya saya juga pingin bisa punya banyak teman, bersenda-gurau dengan teman-teman, tapi entah kenapa sepertinya ada tembok / benteng yang membuat saya seperti menjaga diri, menjaga jarak, mungkin karena takut disakiti lagi. Hal ini terjadi cukup lama tanpa saya sadari sepenuhnya ada apa gerangan di balik semua hal itu.

Seperti yang saya ceritakan di Memori Masa Kecil Apakah yang Masih Anda Ingat?, secara tidak saya sadari kejadian masa kecil saat saya bertengkar dengan kakak, kemudian lari ke kamar mencari pertolongan mama, tapi karena kebetulan saat itu mama sedang menidurkan adik, bukannya menolong, mama malah memarahi saya, bahkan memukul pantat saya dengan kemucing. Mungkin kejadian itu terlihat sepele tapi memberi kesan yang mendalam dan sangat melukai hati anak kecil. Dari sisi orang dewasa mungkin kita bisa mengatakan kalau saya yang nakal, masa tidak melihat kalau mama saat itu sedang menidurkan adik, lihat adik jadi terbangun gara-gara saya ribut. Coba telaah lagi peristiwa tersebut:
1. Saya bertengkar dengan kakak
2. Saya masuk kamar minta tolong ke mama (mengadu)
3. Mama sedang menidurkan adik, merasa terganggu dengan rengekan saya, menengur.
4. Saya tidak puas, tetap tidak mau pergi dari sana, setelah ditegur malah menangis
5. Adik saya kaget, mama tambah tidak sabar, akhirnya marah, mengambil kemucing, memukul saya
6. Saya menangis lebih keras, merasa kehilangan pegangan. Kakak nakal, mama tidak mau menolong, papa sedang tidak di rumah, apalagi saat itu saat-saat awal punya adik (secara kebetulan jenis kelaminnya cowok lagi, yang sudah ditunggu bertahun-tahun). Secara umum anak kecil yang baru punya adik merasa perhatian orang tua terbagi, timbul rasa iri, tapi karena kejadian ini, saya merasa 'terbuang', tidak lagi disayang, yang ada di pikiran saya saat itu : yang nakal kakak, saya datang untuk minta tolong mama, kenapa mama malah memukul saya?.

Kejadian selanjutnya saya tidak ingat lagi apakah kakak saya mengejek saya yang gagal mendapat pertolongan, apakah akhirnya mama menghibur saya, atau apakah akhirnya saya lari ke pembantu? Sungguh kenangan itu tidak membekas di memori saya. Yang jelas peristiwa tersebut membuat batin saya sangat terluka. Membuat saya kehilangan 'pegangan', jika selama ini kalau kakak nakal saya bisa lari ke mama, tapi semenjak adik saya lahir dan semenjak peristiwa tersebut tidak lagi. Mama bukan lagi dewa penolong.

Sebenarnya mama saya orangnya baik, jarang banget memukul, bahkan peristiwa pemukulan diri saya hanya 1 itu yang saya ingat, saya tidak tahu apakah sebelum dan setelah kejadian itu saya pernah dipukul. Yang saya ingat hanya 1 peristiwa itu. Saya sendiri bukan termasuk anak yang nakal, bahkan cenderung 'lemah' sehingga gampang digarai / diusilin, termasuk cengeng juga. Selisih umur saya dengan kakak hampir dua tahun, sedang dengan adik 4 tahun lebih. Jadi selama belum punya adik, sudah menjadi kebiasaan jika kakak mengganggu, saya lari ke mama, tapi dalam sekejab mata, setelah adik saya lahir, mama jadi berbeda...

Saya tidak ingat apakah setelah peristiwa tersebut saya berubah drastis, menjadi pendiam, pemalu, atau seperti apa, percuma juga saya mendramatisir masalah. Yang saya ingat ketika TK di sekolah saat istirahat teman-teman bermain dengan riang gembira. Sedang saya? Hanya duduk diam termenung sendirian. Waktu itu ada kakak SD yang masuk ke ruang bermain, ada yang mengomentari eh anak itu lho lucu, yang lain berkata lucuan ini lho, sambil memegang pipi saya. Apakah saat itu saya lucu? Entahlah, kalau di foto-foto saat itu terutama pas foto untuk raport hi fotonya serem, saya lagi cemberut berat. :$

Di kelas 1 SD ada teman yang usil, tahu-tahu dari belakang rambut saya dijambak. Ada anak lain lagi yang iseng main gunting, klik lengan baju saya digunting. Apa reaksi saya? Diam, tidak bereaksi. Kelewatan khan diamnya? Paling di rumah saya mengadu, kemudian mama menjahit baju saya yang digunting teman saya tersebut.

Masa TK, SD, SMP, SMA saya terkenal sebagai orang yang pendiam, bahkan kelewat diam. Sampai-sampai teman sebangku saya mencari teman lain untuk diajak ngobrol. Habis ngobrol dengan saya apa menariknya. :(

Efek yang paling mendalam dari peristiwa pemukulan saat saya meminta pertolongan tersebut adalah saya kehilangan kepercayaan pada orang lain, jika menghadapi masalah, seberat apa pun itu, saya lebih suka menangis sendirian, secara diam-diam, memilih menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat. Hal ini mungkin karena dalam kejadian masa lalu tersebut saya dipukul waktu minta bantuan, jadinya trauma deh. Semenjak itu kalau ada masalah, mendingan jangan lari ke mama, mungkin itu yang tertanam di benak saya. Jadi meskipun dari luar hubungan kami terlihat baik-baik saja, tapi mama tidak banyak mengetahui rahasia-rahasia batin saya.

Oh ya sebenarnya ingatan saya pada peristiwa pemukulan itu tidak serta-merta terjadi. Selama bertahun-tahun saya hidup seperti itu tanpa tahu apa yang salah pada diri saya, kenapa saya begitu pendiam, tidak bisa bergaul, pemalu, dsb. Sampai suatu ketika ketika saya berkunjung ke rumah teman yang masih berbau saudara sepupu juga (jadi papa mama teman saya kenal baik dengan papa mama saya). Mama teman saya iseng bertanya, kamu pasti enggak pernah dipukul mama ya? Eh saya langsung menjawab dengan suara keras, suara yang masih penuh rasa sakit hati dan kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun. Pernah! kata saya. Terus sambil menangis saya ceritakan peristiwa tersebut. Pertanyaan tersebut membuka luka batin saya yang tersimpan rapi terbuka. Meskipun sudah lama tersimpan, ketika dibuka masih menimbulkan rasa sakit yang mendalam.

Ketika saya liburan kenaikan kelas di SMA, kakak saya yang sudah mahasiswa dan kost di kota lain memberitahu ada camping rohani untuk anak SMP - SMA. Karena kakak saya mahasiswa dan waktu liburnya berbeda, dia berencana ikut Camping Rohani untuk Mahasiswa. Daripada nganggur di rumah, saya disuruh mendaftar Camping Rohani tersebut. Waktunya 1 minggu. Itu saat pertama saya pergi meninggalkan rumah sendiri dalam waktu cukup lama. Kalau orang lain mungkin sudah cerita ke sahabat-sahabat karib mengajak ikut camping rame-rame. Tapi karena saya tidak gaul, ya sudah saya pergi sendiri, diantar mama.

Sesampai di sana ternyata yang ikut camping rohani ratusan orang dari berbagai kota. Kebetulan yang sudah datang rombongan dari Jakarta dan saya ditempatkan satu kamar dengan mereka (1 kamar berisi 5 orang). Di tempat yang asing dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenal, adanya renungan, penyembuhan luka batin, dsb membuat hati dan pikiran saya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Di sana saya belajar mengampuni dan sedikit berubah.

Selepas SMA, saya sengaja mengikuti jejak kakak, kost di kota lain. Tapi karena beda universitas maka kami tidak satu kost. Lingkungan yang baru ini pun sedikit demi sedikit dapat mengubah saya. Saya tidak lagi sependiam dulu, mulai sedikit terbuka.

Oke berikut tips bagi orang yang menghadapi masalah seperti saya. Bagi yang merasa pemalu, tidak bisa bergaul, dsb:
1. Mungkin hal ini terbentuk dari karakter dasar kepribadian kita, tapi diperparah oleh suatu peristiwa tertentu. Terlebih pada orang melankolis yang suka mengingat-ingat peristiwa yang 'negatif', peristiwa yang tidak enak. Jadi cobalah bersikap lebih rileks, jangan memandang hidup dari sisi negatif saja. Misal ada air berisi setengah. Orang yang optimis akan berkata untung airnya masih ada setengah. Sedangkan orang yang pesimis berkata ya ampun mana cukup airnya tinggal setengah. Lihat khan perbedaannya?

2. Coba ingat-ingat sejak kapan Anda menjadi seperti itu. Kalau pada diri saya peristiwa dimulai dari kecil (4 tahun lebih), jadi mungkin kalau ditanya kenapa saya pendiam, pemalu, mama saya bilang enggak tahu dari dulu seperti itu kok. Bagi mama peristiwa itu sepele banget tapi ternyata tidak bagi saya waktu kecil. Nah hal ini pasti berbeda pada setiap orang. Tujuan kita mencari tahu bukan untuk balas dendam melainkan untuk belajar memaafkan. Selama masih ada dendam di hati, sulit bagi kita untuk berubah.

3. Cobalah untuk mengerti kenapa sampai peristiwa tersebut terjadi. Coba lihat dari sudut pandang orang yang memarahi Anda. Kalau dalam peristiwa saya, saat itu mama lagi kesal karena adik yang sudah hampir tidur jadi terbangun. Sekarang saat saya sudah memiliki anak, mungkin saya beberapa kali melakukan kesalahan serupa (tapi tidak sama) tanpa saya sadari. Ayo buka pintu maafmu.

4. Bila emosi itu masih tersisa dan sangat sulit untuk memaafkannya, coba berdoalah minta bantuan Tuhan. Minta tolong Tuhan membukaan pintu maaf itu, memaafkan kesalahan kita dan kesalahan orang yang melukai batin kita tersebut, orang lain yang menonton dan menertawakan peristiwa tersebut. Proses ini memang tidak mudah, tapi penting. Ayo apakah Anda ingin sungguh-sungguh berubah atau ingin terus hidup di balik bayang-bayang masa lalu?

5. Sekarang bayangkan luka batin Anda pelan tapi pasti mulai menutup. Rasakan sakitnya tidak begitu terasa lagi. Bayangkan lengan-lengan orang terbuka, mereka semua mau menjadi temanmu. Selama ini kita yang menutup diri. Ingat-ingat lagi betapa seringnya kita menolak kalau diajak ke pesta, kalau diajak pergi bareng, dsb. Ditolak sekali-dua kali, lama-lama yang ngajak juga bosen khan? Jangan bilang mereka tidak peduli lagi, siapa tuh yang menolak waktu diajak? Ayo bangkitlah.

6. Lihat diri Anda di kaca. Apa sih kekurangan Anda sampai begitu pemalu, begitu tidak percaya diri? Setiap orang punya kekurangan. Ada jerawat di wajah bukan berarti tidak bisa punya teman atau menjadi terkenal. Coba lihat tuh wajah bintang film atau foto model pun ada yang jerawatan. Merasa diri pendek? Aduh orang nyari teman enggak dari tinggi badan. Kalau kita pendek terus enggak bisa jadi peragawati, pramugari, pilot, tentara, ya sadar diri deh cari profesi lainnya. Ingat cerita gelas yang berisi separuh tadi!

7. Coba bergaul dengan lingkungan baru. Eit ini tidak berarti Anda harus meninggalkan rumah lho. Ntar saya dimarahin orang tua yang protes karena anaknya minta kost semua :# :r .Maksudnya coba berteman dengan orang yang baru Anda kenal. Sekarang tehnologi khan sudah maju, lewat YM, chatting, dsb juga bisa kok. Apalagi kalau di internet khan kita bisa menyamarkan identitas. Intinya bangun rasa percaya diri Anda terlebih dahulu.

8. Membaca buku kepribadian seperti buku Personality Plus karangan Florence Littauer juga banyak membantu lho. Kita jadi tahu tidak semua orang seperti kita. Kalau orang Sanguinis ngomong yang enggak bener tentang kamu jangan dimasukin hati tuh, dia memang seperti itu sifatnya. Ngomongnya cenderung agak berlebihan tapi dia enggak bermaksud jahat karena memang sifatnya easy going, kita aja yang terlalu perasa. Kalau pingin tahu sedikit tentang kepribadian ini bisa dibaca pada artikel Lebih Memahami Anak / Pasangan Hidup dengan Mengenali Tipe Kepribadian.

9. Berpikirlah positif. Lupakan masa lalu yang tidak menyenangkan. Mulailah membuka lembaran hidup yang baru. Isi lembaran yang masih kosong itu dengan hal-hal yang positif. Hapus luka batin Anda. Ayo berdir tegak, tersenyumlah. Anda pasti bisa!

Selamat mencoba, semoga sukses! Oh ya, hal ini tidak semudah membalik telapak tangan ya, butuh proses panjang. Bayangkan berapa tahun Anda sudah menjadi seperti itu. Mencari pokok permasalahan saja butuh waktu. Yah yang penting sekarang pikiran Anda mulai terbuka dan mau berubah. Jangan lupa berdoa minta bantuan Tuhan.

Update: Selamat tahun baru 2017. Di tahun 2017 ini ada program Your Best Life yang dapat membantu Anda merevolusi hidup. Dapatkan ebook plus pendampingan selama tahun 2017 untuk merevolusi hidup. Jadikan tahun 2017 Your Best Life.

Your Best Life



Reblog this post [with Zemanta]

Read More......

Wednesday, 29 October 2008

Hidup Berkeluarga atau Melajang? Mendingan Mana ya?

Kata orang menikah itu ibaratnya perang merebut benteng. Mereka yang berada di luar benteng berebut ingin masuk, sedangkan mereka yang sudah berada di dalam benteng merasa gelisah ingin keluar. Hmm bener enggak sih? :d

Kalau menurut saya pribadi sih, tergantung pada diri kita sendiri juga. Apakah kita merasa bahagia dengan kondisi kita? Kalau kita memiliki keluarga yang bahagia, anak-anak yang sehat, lucu dan cerdas. Pasti kita merasa tidak rela menukarnya dengan apa pun juga (tidak ingin keluar dari 'benteng'). Tapi sebaliknya jika dalam keluarga isinya ribut melulu, terus merasakan ketidak-cocokan, tiada hari tanpa konflik, nah mungkin mereka yang ingin bercerai ini yang ibaratnya merasa tidak kerasan tinggal di dalam benteng yang 'panas' dan gelisah ingin melarikan diri. :z

Untuk yang memilih melajang, sebenarnya enggak masalah juga sepanjang mereka merasa enjoy dan siap dengan konsekuensinya. Biasanya sih sebagian besar orang yang memilih melajang merasa enjoy selama mereka memiliki kesibukan dan karir yang bagus. Mereka sering merasa lebih dapat menikmati hidup, dapat menikmati liburan dengan lebih 'berkualitas', keliling dunia. Bener enggak? Khan kalau kita liburan bersama keluarga harus mengeluarkan uang untuk beberapa orang, nah untuk yang masih melajang dengan budget yang sama bisa digunakan sendiri, jadinya bisa dapat hotel yang lebih bagus, makanan di restoran mahal, penerbangan yang ekslusif, dsb. Si lajang juga tidak perlu ribet mikirin masalah anak, pasangan, mertua, dsb. Enak khan?

Tapi bentar nih, kenapa ya ada orang yang baru pada usia 30 tahun lebih, bahkan 40 tahun lebih yang pertamanya betah melajang eh mendadak bingung mencari jodoh? Kok enggak dari dulu-dulu sih? Apa karena belum nemu jodoh yang cocok atau karena baru sekarang kepikirannya? Yah asal jangan merasa dikejar-kejar umur terus asal pilih aja...

Tuh lihat yang sudah married antri bercerai juga banyak. Berarti apa nih kesimpulannya, mendingan mana sih menikah yang berarti berkeluarga atau melajang? Kayaknya sih ini suatu pilihan yang berhak diputuskan sendiri oleh masing-masing individu, cuman yang perlu diingat:

1. Menikah atau melajang itu suatu keputusan penting, pikirkan dan pertimbangkan baik-baik. Jangan menyesal ketika sudah terlambat atau karena salah mengambil keputusan. Jangan sampai Anda salah melangkah karena hal-hal berikut ini:
a. Cowok yang merasa belum siap menikah terus memutuskan pacarnya. Akhirnya ketika mantan ceweknya married dengan cowok lain, dan ketika usia terus bertambah baru deh nyesel.
b. Pernah patah hati terus jadi sakit hati takut pacaran lagi atau terus terbayang-bayang mantan pacar. :$
c. Terlalu tinggi menetapkan target, pinginnya dapat pasangan yang sempurna. Eit instropeksi diri dulu dong, mana ada orang yang sempurna.
d. Merasa diri pemalu, tidak pandai bergaul, rendah diri.
e. Membangun benteng. Mungkin ada peristiwa di masa lalu yang tanpa kita sadari menimbulkan luka batin. Hal ini berakibat pada dinginnya perasaan pada lawan jenis. Akibatnya begitu ada yang kelihatan gelagat naksir misalnya, sudah ketakutan dan berusaha 'melarikan diri' atau membangun benteng, menutup pintu hati rapat-rapat. Kalau sudah begini yang bisa menaklukkan cuman orang yang bener-bener spesial deh. :)

2. Begitu Anda sudah mengambil keputusan entah itu melajang atau menikah, buatlah komitmen. Kalau Anda memilih menikah, berusahalah keras membahagiakan pasangan hidup dan anak-anak Anda. Menjalani suka dan duka bersama.

Sebaliknya bila Anda memilih melajang pikirkan juga konsekuensinya. Jangan sampai nantinya Anda menyesal, merasa kesepian dan terus merenungi hidup. Biasanya untuk orang yang memilih hidup melajang, kayaknya kasihan masa tuanya. Tetangga saya (Bapak berumur 74 tahun), baru beberapa minggu lalu meninggal dunia. Ketahuan meninggal setelah 4-5 hari. Itu pun karena 'kebetulan' ada tetangga yang peduli, mau ke rumahnya untuk mengucapkan selamat idul fitri. Waktu mengetuk pintu rumah tidak ada yang membukakan pintu, samar-samar tercium bau yang tidak enak. Akhirnya satpam, RT, RW, warga berkumpul. Ketika diperiksa Bapak tetangga yang melajang ini ternyata meninggal duduk di toilet, mayatnya sudah 'bengkak' dan berbau. Kalau mau cerita yang lebih jelas dapat dibaca pada artikel Kisah Tetangga yang Tinggal Sendirian.

3. Rundingkan dengan keluarga terutama orang tua mengenai keputusan Anda. Banyak orang tua di Indonesia yang belum bisa menerima kalau anaknya melajang. Nah daripada terus dinasehatin dan dijodohkan, mending beritahu keputusan Anda.

Jadi baik menikah maupun melajang punya konsekuensi sendiri-sendiri. Pikirkan baik-baik sebelum melangkah. Bila sudah memilih, jangan sesali pilihan Anda. Bertanggungjawablah, bangun kebahagiaan. Kedamaian, kebahagiaan lahir dari hati dan pikiran kita, bukan dari pilihan menikah atau melajang. Buat yang masih bingung dalam menentukan pilihan? Berdoalah, minta petunjuk Tuhan... :y

Read More......

Sunday, 26 October 2008

Lebih Memahami Anak / Pasangan Hidup dengan Mengenali Tipe Kepribadian

Kadangkala kita merasa sulit mengerti jalan pikiran orang lain, entah itu teman, sahabat, terutama pasangan hidup dan anak kita. Mengapa cara didik yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda? Mengapa anak yang dilahirkan oleh orang tua yang sama dengan pola asuh yang sama begitu berbeda dalam bersikap dan bertingkah laku? Mengapa anak yang satu begitu aktif, susah diatur, nakal sedangkan anak yang lainnya pendiam, patuh, sama sekali tidak bermasalah? Bila hal ini sedang berkecamuk dalam pikiran Anda, buku Personality Plus atau Personality Plus For Parents karangan Florence Littauer dapat membantu Anda menemukan jawabannya.


Secara umum kepribadian dasar manusia dibagi menjadi empat, coba check pribadi seperti apakah Anda, pasangan Anda, dan anak-anak Anda:

1. Kepribadian populer (Sanguinis)
Orang / anak yang berkepribadian sanguinis berenergi besar, suka bersenang-senang, dan supel. Mereka suka mencari perhatian, kasih sayang, dukungan, dan penerimaan dari orang-orang di sekeliling mereka. Orang berkepribadian sanguinis biasanya optimis dan hampir selalu menyenangkan, namun mereka bisa tidak teratur, emosional, hipersensitif tentang apa kata orang tentang diri mereka. Tipe sanguinis biasa disebut 'tukang bicara'.

2. Kepribadian kuat (Koleris)
Orang / anak yang berkepribadian koleris kuat adalah mereka yang secara alami berorientasi pada sasaran, yang hidupnya dicurahkan untuk berprestasi, dan cepat mengorganisasikan. Mereka menuntuk loyalitas dan penghargaan dari sesama. Berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasi-prestasinya. Suka ditantang dan menerima tugas-tugas sulit. Disiplin diri dan kemampuan mereka untuk fokus membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang kuat. Namun dorongan dan tekad mereka bisa membuat mereka kecanduan kerja, merasa sok benar sendiri, keras kepala, dan membuat mereka tidak peka pada perasaan orang lain. Tipe koleris biasa disebut sebagai 'pelaksana'.

3. Kepribadian sempurna (Melankolis)
Orang / anak yang berkepribadian melankolis sempurna biasanya pendiam, pemikir, berusaha mengejar kesempurnaan dalam segala hal penting bagi mereka. Bila menghadapi hasil yang kurang sempurna, mereka sering merasa kecewa bahkan depresi.

Orang berkepribadian melankolis membutuhkan kepekaan dan dukungan dari orang lain. Mereka membutuhkan ruang dan ketenangan agar mereka dapat berpikir sebelum berbicara, menulis, atau bertindak. Mereka orang yang berorientasi pada tugas, penuh kehati-hatian, dan terorganisasi. Perfeksionis senang akan keteraturan, Anda dapat mengandalkan mereka untuk menyelesaikan tugas pada waktunya. Namun karena standar diri yang tinggi hal ini dapat membuat mereka pesimis / kritis. Tipe melankolis ini bisa juga disebut tipe 'pemikir'.

4. Kepribadian damai (Phlegmatis)
Orang / anak berkepribadian Phlegmatis damai ini seimbang, mencukupkan diri. Mereka tidak merasa harus mengubah dunia atau mengusik status quo. Mereka tidak suka resiko, tantangan, kejutan, dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Mereka dapat bekerja dengan baik di bawah tekanan, namun karena kurangnya disiplin dan motivasi seringkali membuat mereka menunda-nunda kalau tak ada pemimpin yang kuat.

Orang berkepribadian Phlegmatis cenderung menarik diri, namun suka berada di dekat orang banyak. Walaupun mereka tidak butuh banyak bicara seperti orang berkepribadian Sanguinis, mereka memiliki banyak akal dan suka mengucapkan hal yang tepat di saat yang tepat. Mereka mantap dan stabil, dan karena berorientasi pada ketentraman, mereka suka menciptakan keamanan bagi pasangan dan anak-anaknya. Mereka mencari kedamaian dan ketenangan, cenderung bertindak sebagai negosiator ketimbang melawan. Individu loyal ini menemukan harga diri dalam memberi nafkah pada keluarganya dan orang yang membutuhkan bantuan. Tipe ini dapat disebut sebagai 'pengamat'.

Nah apakah Anda sudah menemukan termasuk pribadi yang manakah Anda, pasangan Anda, dan anak-anak Anda? Ternyata setiap orang dilahirkan dengan bawaan ke arah salah satu (atau lebih) dari keempat tipe kepribadian tersebut. Kebanyakan dari kita memiliki kombinasi dua kepribadian. Kadangkala kepribadian itu seimbang sama rata, namun biasanya yang satu lebih dominan.

Ada 4 kombinasi alami:
1. Kepribadian Sanguinis dan Koleris: bisa berkombinasi secara alami karena keduanya ekstrovert, optimis dan terus terang. Kombinasi ini menghasilkan individu yang sangat enerjik. Anak-anak berkepribadian Sanguinis / Koleris memiliki daya tarik serta banyak bicara sambil menyelesaikan pekerjaan mereka, entah sendirian, atau seringkali dengan membuat orang lain yang mengerjakannya bagi mereka.

2. Kepribadian Melankolis dan Phlegmatis bisa berkombinasi dengan baik karena keduanya introvert, pesimis, dan lembut bicaranya. Orang yang berkepribadian Melankolis / Phlegmatis akan lebih mudah terkuras energinya karena orang lain. Mereka melakukan segalanya dengan sempurna dan tepat waktu sambil bersikap menyenangkan dan tidak konfrontatif. Namun kadangkala sifat ini membuat mereka depresi dan terlalu terkuras energinya untuk melakukan apapun.

3. Kepribadian Koleris dan Melankolis menghasilkan individu yang sangat berorientasi pada tugas. Kombinasi ini akan menjadi peraih prestasi tertinggi, melakukan segalanya dengan cepat sambil menginginkan segalanya sempurna. Namun mereka bisa jadi manipulatif sekaligus berkecil hati karena tak seorang pun melakukan segalanya dengan benar atau tepat waktu.

4. Kepribadian Sanguinis dan Phlegmatis juga mudah berkombinasi, menghasilkan orang yang berorientasi pada hubungan. Mereka dikagumi karena rasa humornya, selalu rileks dan menerima Anda apa adanya. Namun mereka cenderung tidak disiplin atau kasar dan tidak mau melakukan apa pun. Mereka mudah melupakan tanggung jawabnya namun selalu dapat merayu orang lain untuk mengerjakannya bagi mereka.

Nah itu baru sebagian kecil dari isi buku Kepribadian Plus untuk orang tua. Bila Anda berminat mempelajarinya lebih lanjut, dapat mencarinya di toko-toko buku. Dengan mengetahui tipe-tipe kepribadian ini dapat membuat kita lebih mengerti jalan pikiran pasangan hidup dan anak-anak kita. Dengan demikian permasalahan yang ada dapat dicarikan jalan keluarnya. Buku tersebut bagus lho, banyak contoh-contoh praktisnya. Semoga info ini dapat bermanfaat bagi Anda.

Read More......

Mengoptimalkan Kecerdasan Anak

Sebagai orang tua, kita tentunya ingin memiliki anak yang cerdas. Bila anak dapat berprestasi, kita sebagai orang tua tentu merasa bangga. Menurut para ahli, anak yang cerdas adalah anak yang mampu beradaptasi dengan lingkungan serta mampu menyelesaikan masalah dan mempelajari situasi. Kecerdasan anak dapat dipantau dari perkembangan kognisi dan persepsi yang dilakukan sejak bayi.


Untuk dapat memiliki anak yang cerdas dan berperilaku baik, kita perlu melakukan stimulasi agar kedua belah otak yaitu otak kiri dan otak kanan dapat seimbang dan tumbuh dengan optimal. Untuk itu kita perlu mempelajari fungsi otak kiri dan otak kanan (dikutip dari seri Ayahbunda):
Otak Kiri:
- Berbicara dan menguasai tata bahasa sehingga dapat berbahasa dengan baik dan benar
- Baca tulis hitung
- Daya ingat nama, waktu, dan peristiwa
- Sifat logis, analitis, terarah pada satu persoalan, langkah demi langkah, rasional. Hal ini berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak yang penting untuk pendidikan formal.

Otak Kanan:
- Sifat intuitif dan berperasaan, dalam berbahasa berperan dalam gaya bahasa (intonasi dalam komunikasi pragmatis)
- Sifat waspada, atentif, berdaya konsentrasi
- Pengenalan ruang dan lingkungan
- Pengenalan diri dan orang lain
- Senang akan musik
- Kondisi emosi yang relatif stabil atau terkendali
- Proses sosialisasi: pembentukan kepribadian dan kemandirian
- Bersifat kreatif dan produktif

Stimulasi pada kedua belahan otak harus diberikan sedini mungkin karena masa prenatal (sebelum bayi lahir) sampai 4 tahun pertama kehidupan anak adalah masa yang kritis dan peka terhadap aneka stimulasi. Jika masa tersebut dimanfaatkan dengan baik, anak Anda akan mendapat bonus dalam tumbuh kembangnya.

Contoh stimulasi otak:
- Selain mengajar anak pandai bicara (fungsi otak kiri), kita juga perlu mengajar anak menggunakan bahasa yang terdengar indah (fungsi otak kanan)
- Untuk merangsang fungsi otak kanan kita dapat mengajak anak mendengarkan lagu, menyanyi, menari, memainkan alat musik, atau melakukan kegiatan seni lainnya.
- Stimulasi yang paling baik untuk mengembangkan fungsi otak anak adalah musik. Bahkan hal ini dapat dilakukan sejak janin di kandungan.
- Contoh stimulasi untuk bayi berusia 0-3 bulan: memeluk, menyusui, menggendong, menatap mata bayi, mengajak bicara, bernyanyi, tersenyum, menunjukkan benda yang berwarna mencolok, mengajak bayi tengkurap, terlentang, mengulingkan ke kiri dan kanan, membantunya memegang mainan, dsb.
- Stimulasi untuk bayi dan balita: memandikan, mengganti popok, mengajak jalan-jalan, menyuapi makanan, mengajak bermain, dsb.

Hal yang terpenting, stimulasi harus dilakukan setiap hari dalam suasana yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Selain itu harus bervariasi sesesuaikan dengan usia dan perkembangan kemampuan anak dan harus dilakukan oleh orang tua dan keluarga (Sumber: dr Soedjatmiko, SpA(K), Kompas). Karena itu yuk kita lewatkan waktu bersama anak dengan aktifitas yang menyenangkan. Kita ajak mereka bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang, bernyanyi dengan gerakan tubuh. Semoga anak-anak kita dapat tumbuh cerdas.

Read More......

Saturday, 25 October 2008

Tips Mengatasi Anak Susah Makan

Sebagai orang tua, kita tentu merasa kuatir bila anak kita sulit makan. Apalagi bila hal ini berpengaruh pada perkembangan fisiknya. Seringkali saking kuatirnya, kita sering mamaksa anak kita untuk makan yang banyak, harus habis, dsb. Mungkin karena beban psikologis, anak-anak kita menjadi tertekan dan akhirnya muntah. Akibatnya kita merasa kesal dan memarahinya. Anak kita akhirnya menjadi ketakutan dan jam makan menjadi waktu yang menegangkan.

Kalau hal ini terjadi, sebaiknya kita melakukan instropeksi dan merenung. Coba cari sumber permasalahannya.


1. Sejak kapan anak kita tidak doyan makan? Apakah dia sakit? Coba periksa nafasnya apakah berbau? mungkin dia sedang sariawan atau radang tenggorokan sehingga untuk menelan pun sulit. Atau apakah dia diare, sakit perut, mual? Bila ini masalahnya coba berikan obat. Bila perlu bawa ke dokter untuk mengobati penyakitnya.

2. Bila anak Anda tidak doyan makan karena dia tidak cocok / tidak suka dengan lauknya, Anda bisa berusaha membujuknya, tapi jangan memaksanya sambil marah-marah. Sikap kita yang berlebihan justru akan membuat anak semakin takut dan dapat menimbulkan trauma. Akibatnya setiap kali jam makan tiba, secara emosional dia sudah merasa tertekan dan ketakutan. Tak jarang masalah gangguan emosi ini yang menyebabkan anak menelan makanannya karena takut, terpaksa, dan akhirnya muntah.

3. Ada orang tua yang menerapkan disiplin yang tinggi, makan harus habis, harus duduk tenang di meja makan. Menakut-nakuti atau memarahi kalau perintah tersebut dilanggar. Bagi anak yang pada dasarnya memang sulit makan, jam makan menjadi siksaan bagi dia. Beban psikologis menghantuinya, takut dimarahi kalau tidak habis. Cobalah membuat suasana makan rileks, jangan menambah beban psikologisnya dengan menanyai tentang hasil ulangannya, pelajaran di sekolah dan hal-hal lain yang membuat nabsu makan semakin hilang.

4. Sesekali ajak anak Anda makan di rumah makan favoritnya, beri dia kebebasan memilih sendiri makanan kegemarannya. Buat suasana makan menyenangkan. Bila memang porsi di rumah makan tersebut melebihi porsi makannya, jangan paksa dia untuk menghabiskannya. Mungkin Anda bisa membantunya makan sambil memuji pilihan menunya.

5. Untuk anak yang masih kecil dan belum dapat disuruh duduk tenang di meja makan, mungkin sebaiknya kita mengalah dahulu. Menyuap anak makan sambil bermain, entah itu bermain masak-masakan, komputer, atau mainan kesukaan dia sering bisa mengalihkan perhatiannya, membuat suasana makan tidak lagi menakutkan. Akibatnya tidak terasa dia makan banyak, bahkan tak jarang tanpa disadarinya dia mau makan sayur dan daging.

6. Sajikan makanan dalam porsi kecil, sehingga anak tidak merasa ketakutan. Bila setelah setengah atau 1 jam makanannya belum habis juga, hentikan dahulu.

7. Coba posisikan diri Anda seperti anak Anda. Bayangkan bila Anda diundang ke perjamuan yang secara psikologis sudah membuat Anda tidak tenang. Hidangan yang tersedia pun tidak sesuai dengan selera Anda. Jadi Anda makan hanya karena terpaksa, demi menghormati tuan rumah. Seandainya tiba-tiba tuan rumah menghampiri Anda, menyuruh Anda menghabiskan seluruh hidangan yang tidak Anda sukai tersebut. Kalau tidak habis Anda tidak boleh pulang. Bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda merasa tertekan sampai mau menelan pun susah? Untung itu hanya jamuan makan yang hanya sesekali dan tidak sungguh-sungguh terjadi. Bagaimana dengan anak Anda yang setiap hari dipaksa makan sampai habis? Dari ilustrasi ini mungkin Anda jadi dapat lebih memahami anak Anda. Bila anak merasa jam makan sebagai hal yang menakutkan, kondisi emosional dan psikologisnya akan ikut terganggu.

Semenjak usia 9 bulan, anak saya Kevin tahu-tahu kehilangan nabsu makan, kalau susu sih masih doyan. Mie, roti dia mau, tapi untuk makan nasi, sayur, daging, buah aduh susahnya. Sewaktu dia sakit, sambil kontrol ke dokter saya bertanya bagaimana ini Dokter, kok anak saya enggak doyan makan nasi ya. Dengan santainya Dokter tersebut bertanya apakah anak saya mau makan mie atau roti. Saya jawab mau Dok. Kalau begitu enggak usah kuatir katanya. Khan kebetulan saja nasi makanan pokok di sini, lihat tuh di negara lain, orang makan roti, mie juga bisa hidup kok. Lagipula jarang sekali orang Indonesia yang tidak doyan nasi sampai dia besar.

Jawaban dokter membuat saya berpikir, kalau saya terus memaksa anak saya makan nasi sambil marah-marah, kami berdua bakal stress deh. Akhirnya kalau dia lagi tidak mau makan nasi, kami coba makanan pengganti lainnya seperti roti, mie, kewtiau, bihun, bakso, kentang goreng, dsb. Bagi kami yang penting dia bisa tumbuh secara normal dan tidak terbeban secara emosional. Bagaimana dengan Anda dan anak Anda?

Read More......

Wednesday, 22 October 2008

Sembuh Mau Pakai Sepatu Setelah Dibeliin Sandal Baru

Steven sudah mau pakai sepatu
Steven kecil banyak tingkahnya yang aneh-aneh, salah satunya enggak mau pakai alas kaki, baik itu kaos kaki maupun sepatu. Hal ini terjadi sejak dia berumur 6 bulan. Lama-kelamaan kebiasaan jelek ini terasa sangat mengganggu. Bayangkan diajak jalan-jalan ke mall, dia dengan santainya berjalan dan berlarian tanpa alas kaki. Diajak ke pesta pun begitu. Aduh siapa yang enggak malu? Segala bujuk rayu, paksaan kayaknya sudah dilakukan, namun tetap aja enggak membeli hasil.

Hari demi hari berlalu. Steven sudah 1 tahun. Malahan pada ulang tahun pertamanya yang kebetulan dirayakan di rumah, di tengah para undangan yang hadir, dia terus menuntun tangan saya mengajak berjalan berputar-putar di sekeliling rumah tanpa sepatu (saat itu dia sudah bisa jalan tapi belum pede, jadi masih ngandeng orang). Untuk kado ulang tahunnya kami membelikannya sepeda roda 3, dia suka sekali tapi tetap saja naik sepeda tanpa alas kaki.


Suatu hari saya berpikir gimana kalau Steven diajak ke tempat wisata yang banyak rumputnya, siapa tahu dia merasa tidak nyaman berjalan di rumput dan kemudian mau pakai sepatu. Tapi ternyata dugaan saya salah, dia tetap saja menolak memakai sepatu dan lebih memilih berkeliaran tanpa alas kaki. Bahkan kami pernah menginap 2 malam di hotel, kirain dia bakal merasa enggak nyaman berjalan di semen, rumput, bebatuan dan akhirnya menyerah mau pakai sepatu. Tapi ternyata dugaan kami salah deh, tetap saja dia menolak memakai alas kaki. Aduh, ampun deh.

Semakin dia besar kami semakin kepikiran, gimana ya kalau kebiasaan buruk ini tidak bisa dihilangkan. Masa dia mau sekolah tanpa pakai sepatu, mana mungkin... Hampir setiap hari kami berusaha membujuknya agar mau memakai sepatu. Kadang baru melihat sepatunya aja Steven sudah berontak, kadang cuman berhasil memakaikannya 1 detik. Hm anak yang aneh.

Saya coba cari informasi kenapa ya anak saya, informasi yang saya peroleh kadang hal ini terjadi pada anak autis karena kepekaan mereka terhadap bahan tertentu. Aduh masa sih Steven autis atau bakal berkembang menjadi autis? Kontak matanya sih bagus, anaknya cerdas, tapi... kok banyak juga ya tingkah lakunya yang aneh, alerginya yang hebat. Apa tinggal nunggu faktor pencetusnya aja? Khan katanya ada anak yang semula kelihatan normal, tapi tahu-tahu mengalami kemunduran. Untuk menghindari faktor pencetus itu, salah satu hal yang saya lakukan menunda imunisasi MMR yang masih kontroversi.

Suatu hari saya dan suami jalan-jalan ke mall berdua. Di sana saya tertarik pada stan sandal anak-anak, tertariknya sih karena harganya yang murah, cuman Rp 5000,00. Saya pikir coba aja deh beli buat Steven, kalau dia enggak mau ya sudah toh harganya murah. Kami datangi stan tersebut, akhirnya kami membeli sepasang sandal berwarna biru tua bergaris-garis hitam.

Pulang ke rumah, oleh-oleh sandal tersebut saya tunjukkan ke Steven. Reaksinya aneh deh. Ditaruhnya sandal tadi, kemudian dia pergi mencari sesuatu, kemudian dia datang lagi sambil membawa sepatu Piyo-piyo yang bisa berbunyi cit cit cit, sepatu yang selama ini tidak mau dipakainya. Lebih aneh lagi, saat itu dia langsung duduk di lantai dan berusaha memakai sepatu piyo-piyonya. Wow kami langsung takjub.

Semenjak hari itu Steven mau memakai sepatu Piyo-piyonya, saking girangnya saya ambil kamera untuk mengabadikannya. Hm obat yang aneh ya, masa penyakit enggak mau pakai alas kaki ini sembuh setelah dibeliin sandal baru. Sampai hari ini pun saya masih enggak habis pikir, kira-kira 'obat' ini bisa manjur enggak untuk anak lain yang mengalami kasus serupa?

Read More......

Saturday, 18 October 2008

Tips dan Trik Menghadapi Anak Bermasalah

Memiliki anak bermasalah seringkali membuat kepala orangtua pusing. Rasanya enggak kurang deh nasehatin, ngomelin, marahin, eh kok enggak berubah-ubah ya sikapnya. Sampai bingung rasanya apalagi ya yang mesti dilakukan? Apakah Anda pernah mengalami hal serupa?

Memang enggak mudah dalam menangani anak bermasalah, apalagi bila permasalahan tersebut sudah berlangsung lama dan berkembang menjadi kebiasaan buruk. Berikut ini sedikit tips dan trik berdasarkan pengalaman pribadi. Kalau ada Ibu-ibu / Bapak-bapak yang ingin berbagi pengalaman dipersilakan lho, yuk kita sharing. Saya mulai dulu ya dari pengalaman saya:


1. Cari sumber permasalahannya
Seringkali anak menjadi rewel / nakal / susah diatur karena ada penyebabnya. Misalkan tidak mau makan coba cari tahu apakah karena mereka bosan atau tidak suka dengan makanan yang kita berikan? Atau sedang sakit sehingga tidak selera makan? Kalau anak tiba-tiba mogok sekolah, coba cari tahu apakah dia habis dimarahi gurunya, atau ada temannya yang nakal? Coba ajak bicara baik-baik sehingga kita tahu sumber permasalahannya.

Anak saya Kevin, beberapa waktu lalu mogok enggak mau les. Setiap waktu les tiba ada aja alasannya, yang ngantuk, tahu-tahu sudah tidur, rewel enggak mau mandi, enggak mau berangkat les, dsb. Saya sampai heran kenapa sih anak ini. Waktu memandikannya saya bertanya apakah Kevin habis dimarahin, dia bilang enggak. Kalau githu apa ya? Kenapa Kevin, susah tha? Dia langsung mengangguk iya, di les susah Kevin enggak bisa, kalau di sekolah gampang, Kevin bisa (dengan bahasa dia yang masih cadel, langsung diterjemahin di sini biar lebih mudah dimengerti :-)). Nah setelah tahu pokok permasalahannya, saya menghadap guru lesnya memberi tahu hal tersebut. Semenjak itu materi soal les disesuaikankan dengan kemampuannya dan dia enggak mogok les lagi.

2. Bantu mereka mengatasi perasaan mereka
Saat awal masuk playgroup wajar anak merasa takut, dampingilah mereka sebentar agar mereka tidak kaget. Selama masa adaptasi yang ditetapkan sekolah, sedikit demi sedikit mulai arahkan anak ke gurunya. Beri pengertian kalau di sekolah, mama enggak ikut masuk kelas, kamu sama Bu Guru ya. Bu Guru orangnya baik kok, dsb. Ajak anak Anda berteman, sebaiknya untuk tahap awal ini arahkan dia untuk berteman dengan anak yang pemberani tapi tidak nakal, kalau belum apa-apa dia kena pukul anak yang 'nakal' wah bisa tambah panjang masa adaptasinya.

3. Cobalah untuk mengerti jalan pikiran mereka
Kadangkala meski kita sudah menasehati anak, memarahi, merayu, semua itu enggak mempan, sampai kita merasa bingung. Mungkin yang perlu kita lakukan kita coba posisikan diri kita sebagai anak, apa sih kira-kira yang ada di pikirannya? Mengapa dia bisa berpikiran seperti itu? Apa penyebabnya, itu yang harus kita cari tahu.

Beberapa waktu lalu Kevin selalu mengatakan kalau dia sayang papa, mama, pengasuhnya, tapi dia enggak sayang sama Steven (kakaknya) dan Neneknya. Steven biar sama Nenek saja. Kata-kata itu sering diulang-ulangnya terutama kalau dia merasa iri dan marah pada Steven. Kami heran ada apa sih kok dia sampai bisa bilang seperti itu.

Suatu hari saat neneknya mau pergi ke bank dan jalan-jalan, Steven diajak. Tahu-tahu Kevin bilang kalau Kevin mau ikut juga. Neneknya bingung kalau harus mengajak 2 orang anak, tapi melihat Kevin enggak tega juga, akhirnya pengasuhnya dibawa serta.

Pulang dari bepergian Steven dan Kevin membawa pulang mainan. Kevin nampak sangat gembira. Semenjak saat itu dia bilang kalau dia sayang sama neneknya. Jadi faktor penyebabnya sudah ketahuan, selama ini dia iri karena kalau neneknya pergi, hanya Steven yang diajak. Hubungan Kevin dengan neneknya pun membaik.

4. Cari 'kunci' yang dapat menggerakkan mereka
Kalau Anda sudah mengucapkan nasehat yang sama berulang-ulang tapi tidak ada hasilnya, berarti Anda harus putar otak, mencari strategi lain. Coba terus cari 'kuncinya' sampai anak Anda tergerak untuk mengubah kelakuannya yang salah.

Saat di playgroup A dengan upaya dan perjuangan yang panjang, saya dengan bantuan para guru berhasil membuat Steven mau masuk kelas, tapi dia masih punya masalah waktu baris. Aduh gemes deh ngeliat kelakuannya. Bukannya mengikuti apa kata guru, dia malahan sibuk sendiri, pingin lari dari barisan, main ayunan, seluncuran, dsb. Berkali-kali dinasehati enggak mempan juga. Dirayu ntar kalau Steven pintar dapat hadiah, eh efeknya, hadiahnya sih mau, tapi kelakuannya tetap aja sama. Dimarahin, diancam kalau Steven seperti itu terus, mama pulang. Eh masih tetap juga.

Saya bingung, apa lagi ya yang harus dilakukan. Malamnya menjelang tidur saya bilang, Steven kalau Steven seperti gini terus, enggak mau baris, terus Steven enggak naik kelas, jadi sekelas sama Kevin lho... Wow ajaib dia langsung terkejut dan berkata, mulai besok Steven mau pinter Ma, Steven mau baris. Besoknya dan hari-hari selanjutnya dia menepati janjinya. Ternyata Steven takut kalah dengan adiknya, itu kunci yang bisa menggerakkannya.

5. Kalau Anda merasa putus asa, tulislah pengakuan dan berdoalah, serahkan pada Tuhan
Seringkali memiliki anak bermasalah membuat orang tua stress. Enggak habis pikir kenapa ya anakku jadi seperti ini. Apa lagi yang harus dilakukan. Nah saat Anda merasa seperti itu, coba tuliskan pikiran dan perasaan Anda, karena menulis itu terapi yang bagus lho buat mengurangi stress. Saat menulis kita akan berpikir dan dengan menumpahkan unek-unek kita akan merasa lebih lega. Terlebih bila di akhir tulisan itu Anda sisipkan doa, minta bantuan Tuhan dalam mengatasi permasalahan Anda.

Saat Steven di playgroup A merupakan saat tersulit saya dalam mendidiknya. Susah sekali diatur. Tingkahnya juga sering nyleneh, lain dibanding teman-temannya. Waktu itu ada kegiatan outbond, orang tua diminta menemani anaknya bermain bersama di Cartoon Kingdom. Berangkat naik bis. Hampir semua anak dengan bersemangat ditemani mamanya naik bis tanpa rewel. Sedangkan Steven menangis, sampai harus dibujuk dan dipaksa naik. Ketika bis sudah jalan, teman-temannya menyanyi dengan riang gembira, bagaimana dengan Steven? Eh ternyata dia masih juga belum berhenti menangis.

Untunglah kepala sekolah playgroup saat itu kreatif, beliau membawa boneka tangan, dan menyapa anak-anak dengan boneka tersebut (sambil keliling menghampiri setiap anak). Perhatian Steven mulai teralih dan dia berhenti berontak.

Sesampai di Cartoon Kingdom, pada waktu masuk acara bermain, Steven mogok enggak mau masuk. Aduh kelakuan Steven saat itu susah sekali dimengerti. Padahal dia biasanya suka tuh main di sana. Perlu bujuk rayu agar dia mau masuk. Untung akhirnya berhasil dan dia sangat menikmati acara tersebut. Tak terasa 1 jam telah berlalu dan anak-anak diminta keluar. Semua anak keluar dengan hati riang dan puas. Bagaimana dengan Steven? Dia mogok enggak mau keluar. Ampun Steven, tadi enggak mau masuk, sekarang enggak mau keluar...

Saat foto bersama, pembagian balon dan stiker. Steven mau balon dan stikernya tapi enggak mau maju ke depan. Terus ada guru yang berbaik hati mengambilkan. Saat baris hendak pulang dia juga kembali membuat ulah. Sebagai mamanya, capek rasanya, bingung kenapa anak saya jadi seperti itu...

Malamnya saya buka komputer, saya tulis segala perasaan dan unek-unek saya. Mulanya surat tersebut mau saya berikan ke kepala sekolah atau kepala yayasan. Tapi akhirnya tidak jadi, surat itu saya serahkan pada Tuhan. Saya lampirkan doa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan dan dosa saya, membantu saya dalam membesarkan dan mendidik Steven. Selesai pengakuan tersebut hati saya terasa lebih lega. Kemarahan saya berkurang dan semenjak saat itu saya melihat Steven mulai berubah menjadi lebih baik.

6. Ingat-ingat kesalahan Anda, jangan malu untuk meminta maaf terutama bila Anda sudah membuatnya terluka batin
Sebagai orang tua tak jarang kita juga melakukan kesalahan. Kadang kalau suasana hati kita sedang tidak enak, entah disadari atau tidak kita melampiaskan kekesalan dan kemarahan kita pada anak-anak kita dan itu dapat membuatnya terluka batin.

Bila kita memiliki anak bermasalah, tak ada salahnya mencoba instropeksi diri. Mungkin itu merupakan reaksi pemberontakan karena dia merasa tidak disayangi, tidak dihargai, iri pada saudaranya, dsb. Dengan mengakui kesalahan kita, meminta maaf dan berdoa pada Tuhan tak jarang titik terang akan muncul.

Nah bila Anda memiliki masalah dengan anak Anda, jangan putus asa. Selagi masih ada kesempatan, gunakan sebaik-baiknya. Coba cari sumber permasalahan, temukan kunci untuk masuk ke hatinya. Bila kita memang bersalah, tak perlu malu minta maaf. Minta bantuan Tuhan juga untuk membuka hati, pikiran kita dan mencari jalan menyelesaikan permasalahan itu. Bilang pada-Nya terima kasih atas anak yang telah dipercayakan-Nya, dan minta bantuan-Nya dalam mendidik agar anak kita dapat menjadi anak yang berguna sesuai kehendak-Nya.


Reblog this post [with Zemanta]

Read More......

Wednesday, 15 October 2008

Memori Masa Kecil Apakah yang Masih Anda Ingat?

Kalau Anda ditanya tentang memori masa kecil, apakah yang terlintas di benak Anda? Memori masa kecil saya cenderung berkisar pada peristiwa bahagia seperti saat merayakan ulang tahun di sekolah TK, saat rekreasi bersama keluarga. Peristiwa yang berkesan seperti saat memutuskan berhenti minum susu pakai dot, hari pertama masuk sekolah TK. Peristiwa di saat saya merasakan ketidakadilan, wah kenapa ya kok kelihatannya memori yang ini justru yang paling banyak dan kadang masih menimbulkan rasa sakit hati ketika mengingatnya?

Kalau kita membuka album lama kita, saat kita melihat-lihat foto saat kita masih kecil, kadang tetap aja tidak ada memori yang mendalam tentang peristiwa tersebut. Mungkin karena kita tidak terlalu terkesan jadi memori di otak kita enggak mau repot-repot merekamnya. Tapi kalau ditanya tentang sesuatu hal yang menyakitkan yang membuat kita terluka batin, meskipun peristiwa tersebut sudah terjadi lama berselang, kita masih dapat menceritakannya dengan cukup detail, dan kita masih terbawa emosi ketika menceritakannya, entah itu marah atau sedih. Coba ingat-ingat tentang memori masa kecil Anda yang paling membekas....

Ketika SMP saya ditanya oleh mama teman saya, apakah saya pernah dipukul, entah mengapa saat itu saya langsung menjawab dengan emosi, pernah! Saat menceritakan peristiwa itu saya juga hampir menangis karena masih merasa sakit hati. Sampai saat ini pun saya masih bisa membayangkan peristiwa itu dengan cukup detail. Umur saya ketika itu 4,5 tahun. Adik saya masih bayi. Malam itu saya habis bertengkar dengan kakak di ruang tamu, peristiwanya apa saya sudah tidak ingat sama sekali (mungkin karena dianggap enggak penting oleh memori saya, karena bukan ini yang jadi masalah utama). Karena saya merasa kakak saya nakal, seperti umumnya anak kecil, mencari perlindungan pada mama. Saat itu mama sedang di kamar, menidurkan adik saya yang masih bayi. Mama duduk di kursi, lagi menepuk-tepuk, sedang menidurkan adik saya yang sedang tidur di box bayi. Saya lari dari ruang tamu masuk ke kamar, mengadu kalau kakak saya nakal. Tapi mama sama sekali enggak menanggapi cerita saya. Malahan mama membentak saya supaya diam. Bukannya diam saya malahan menangis. Entah kenapa mama saat itu kok begitu enggak sabaran, mungkin kesal karena adik saya yang sudah hampir tertidur, terbangun oleh rengekan saya. Saking kesalnya mama langsung mengambil kemucing yang digantung di tembok, lalu memukulkan kemucing itu pada pantat saya. Tentu saja saya menangis makin keras. Saya begitu sedih, merasa tidak dicintai lagi. Mama yang saya harapkan melindungi dan membantu mengatasi permasalahan saya malahan memukul saya. Saat itu saya sungguh tidak mengerti apa salah saya , yang nakal itu kakak, saya datang ke sini mau minta tolong, kenapa mama malahan memukul saya? Selanjutnya apa yang terjadi saya sudah tidak ingat lagi, memorinya putus sampai di situ.

Dari peristiwa tersebut dan dari membaca buku 'Ibu, Dengarkan Aku!' saya baru tersadar bahwa perlakuan kita yang dirasa tidak adil pada anak kita dapat terbawa sampai mereka dewasa, memori yang membuat kita terluka batin justru sangat membekas. Meski hanya sepotong memori tapi dampaknya cukup besar pada perkembangan pribadi kita.

Kalau Anda memiliki anak yang selisih usianya cukup jauh, hati-hati dalam memperlakukan mereka. Perbedaan perlakukan sebelum punya adik dan sesudahnya sudah dimengerti oleh mereka. Seperti saat saya dipukul mama dulu, saya merasa dulu waktu belum punya adik kalau kakak nakal mama selalu membela saya, tapi sekarang...? Bila tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat memicu pada rasa iri hati yang tidak sehat dan perkembangan pribadi yang tidak maksimal, seperti merasa tidak dicintai lagi, rasa rendah diri, merasa diri tidak berharga, dsb. Atau kadang memunculkan pemberontakan, mencari pelampiasan pada anak kecil lainnya, menjadi nakal enggak ketulungan, dsb.

Kalau saya tanya mama saya, beliau sudah sama sekali tidak ingat akan peristiwa tersebut. Tapi bagi saya peristiwa tersebut membuat batin saya sangat terluka. Terlebih dalam perkembangan selanjutnya adik saya cukup nakal dan sering secara tiba-tiba memukul saya. Melihat kenakalan adik saya, paling papa menyuruh adik saya minta maaf. Sekarang minta maaf, besok diulangi lagi, begitu yang terjadi terus-menerus. Kalau adik saya sudah minta maaf, saya disuruh berhenti menangis, tapi adik saya nakalnya enggak berhenti tuh, tetap aja besoknya saya dipukul lagi...

Untuk memori masa bahagia saya hanya dapat menggambarkannya dalam sepotong atau beberapa kalimat, itu pun enggak terlalu fokus dan tidak bisa terlalu detail. Misal peristiwa ulang tahun di sekolah, saya pakai baju baru (enggak ingat warnanya apa, modelnya seperti apa, kalau ingat pun karena pernah melihat fotonya), di sekolah dikasih mahkota sama Bu Guru, teman-teman menyanyi lalu selamat ulang tahun, terus bagi-bagi kue. Sudah selesai. Ceritanya datar banget, enggak ada luapan emosi. Sedikit ngarang juga, soalnya enggak sungguh-sungguh terekam. Lain halnya dengan peristiwa yang membuat batin kita terluka. Saat menceritakannya rasa sedih itu masih ada, saya masih terbawa emosi, tidak peduli meski peristiwa itu sudah terjadi cukup lama.

Hal ini kelihatannya juga akan terjadi pada anak kita. Setiap perlakuan kita yang tidak adil, yang menimbulkan luka batin, yang membuatnya ketakutan, akan membekas dan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Saya sudah merasakannya pada anak saya Steven. Masa kecil dia yang begitu susah diatur membuat saya harus membentak dan menakut-nakutinya agar dia mau menurut. Rupanya tak jarang saya sudah keterlaluan dalam bertindak.

Baru-baru ini saat memanaskan mobil, Steven memainkan kaca jendela. Secara tiba-tiba dia berteriak dan mau menangis, dia bilang takut, ingat cerita mama dulu. Saya kaget dan heran, cerita yang mana? Itu yang kata mama kalau enggak hati-hati kepalanya bisa putus. Aku takut kepala Kevin putus. Saya makin bingung, apa sih Steven? Terus dia bilang dia habis mbuka kaca jendela, takut kalau kepala Kevin nyantol di sana terus putus. Ya ampun... Saya kemudian teringat peristiwa itu, yang membuat saya menengurnya dengan keras.

Peristiwanya memang mirip. Waktu itu kami juga sedang memanaskan mobil, terus Steven memainkan tombol untuk menaik-turunkan jendela. Kebetulan saat itu Kevin sedang mengeluarkan kepalanya keluar jendela. Tentu saja saya segera menengur Steven, saya beritahu, hati-hati, jangan memainkan tombol itu, apa kamu enggak lihat kalau kepala Kevin sedang keluar. Nanti kalau jendelanya menutup dan kepala Kevin kejepit gimana? Mungkin saat itu Steven langsung membayangkan di memorinya kalau kepala Kevin terjepit jendela dan putus. Memori tersebut begitu membekas sampai-sampai ketika mengalami peristiwa serupa tahu-tahu dia teringat dan menjadi histeris.

Berkaca dari pengalaman masa kecil kita dan tindakan salah kita yang berefek buruk pada anak, maukah kita belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri? Mari kita bantu anak kita mengobati luka-luka batinnya dan kita buat banyak kenangan indah tentang masa kecilnya. Ternyata menjadi orang tua yang baik dan bijaksana itu enggak gampang ya...

Read More......

Tips Menghadapi Anak Kolik

Memiliki anak yang menderita kolik membuat orang tua merasa stress, apalagi kalau tingkat koliknya berat. Kayaknya enggak banyak ya yang menghadapi masalah ini. Tapi menurut penelitian 1 dari 5 bayi pernah pengalami kolik. Definisi kolik sendiri adalah bayi menangis berkepanjangan, 3 jam sehari selama lebih dari 3 hari per minggu. Umumnya dimulai pada usia 3 minggu dan berakhir pada usia 3 bulan. Tangisannya menjerit / melengking dan susah dihibur. Kondisi terparah terjadi pada sore dan malam hari. Saat menangis bayi tersebut seperti kesakitan, perutnya membesar karena kembung, mukanya memerah, kakinya ditarik atau diluruskan. Setelah bersendawa atau kentut kelihatan sedikit lega.


Penyebab kolik tidak diketahui secara jelas, ada ahli yang berpendapat karena intoleransi laktosa, sensitif terhadap protein susu sapi. Bila bayi minum asi juga tidak menutup kemungkinan kena kolik, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan atas makanan yang dimakan oleh ibunya. Ada juga dokter yang mengatakan kalau bayi kolik karena kontraksi usus yang sangat menyakitkan. Pendapat lain karena bayi menelan udara terlalu banyak waktu minum susu, karena itu sehabis munum susu bayi perlu digendong posisi tegak, ditepuk-tepuk sampai bersendawa. Ada juga yang berpendapat bayi mengalami kolik karena memiliki kepekaan aneh terhadap stimulasi. Pendapat lainnya lagi kolik berhubungan dengan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi dalam menguraikan makanannya.

Anak saya Steven, mulai menderita kolik pada usia tepat 3 minggu, siang itu dia tiba-tiba menangis tanpa diketahui sebabnya, tangisannya lain dari biasanya. Menjerit-jerit, melengking, sambil kakinya diluruskan / ditarik, tangannya menggenggam, mukanya merah padam, kalau dipegang perutnya terasa kencang. Sebagai ibu baru, tentu saja saat itu saya merasa panik dan kebingungan. Untung ada mama saya di rumah, tapi karena sebelumnya mama tidak pernah menghadapi bayi kolik, bingung juga tidak tahu kenapa Steven tahu-tahu menangis seperti itu.

Malamnya Steven kami bawa ke dokter dan kata dokter Steven kena kolik. Dia bakal sembuh saat usianya menjelang 3 bulan. Sabar saja katanya. Steven diberi obat tapi obat tersebut tidak banyak membantu. Pada Steven, salah satu penyebab kolik ini karena alergi susu sapi, tapi pemberian asi juga tidak menolong, jadi serba salah deh. Karena tiap hari menderita kolik dan menangis berjam-jam, perutnya membesar dan lama kelamaan pusarnya terdorong keluar (bodong). Untuk mengatasi pusar yang menonjol keluar ini, kami menempelkan uang logam yang dibungkus kain kasa kemudian ditempel ke pusarnya dengan menggunakan plester. Katanya sih ada alatnya seperti gesper yang ada koinnya tapi karena waktu itu enggak nemu, jadinya mbuat sendiri.

Saat Steven menangis karena kolik, seingat saya sulit sekali untuk menenangkannya. Dia cenderung suka digendong posisi tegak, kaki agak ditekuk ke arah perut. Kalau papanya sukanya mengendong dengan posisi tegak terus pantat Steven dipegangi (membuat dudukan katanya), jadi kakinya agak menekuk, menempel ke perutnya. Cara menggendong yang sangat aneh memang, orang-orang sampai menegur, aduh bayi masih kecil kok digendong seperti itu. Tapi kalau posisinya pas dan dia sudah merasa nyaman, baru deh tangisannya mereda. Untuk menenangkan tangisannya kami menggendong sambil jalan mondar-mandir sambil ngoceh-ngoceh / bersenandung / bicara kata-kata yang menenangkan. Wah pokoknya butuh perjuangan yang keras deh. Bayangkan hal itu terjadi beberapa kali sehari, setiap hari, terutama di malam hari, selama 2 bulan.

Nah bagi yang mengalami problem serupa, punya bayi kolik, berikut sedikit tips-nya:
a. Memang memiliki bayi yang rewel karena kolik seringkali membuat orang tua stress, hiburlah diri Anda. Kolik memang sulit diobati tapi kolik bisa sembuh sendiri begitu bayi Anda menginjak usia 3 bulan (Steven sembuh pada usia 3 bulan kurang 1 minggu). Ya setiap hari hitung mundur aja misalnya kurang 60 hari lagi, 59 hari lagi, dst sampai penderitaan Anda berakhir.

b. Karena jam tidur Anda pasti terganggu, sewalah jasa pengasuh bayi atau minta bantuan orang tua untuk mengurangi beban stress Anda. Selagi ada waktu dan saat bayi Anda tidak rewel atau saat dia tidur cepat ikutlah tidur juga. Hitung-hitung menabung tidur karena malamnya Anda perlu gantian bergadang sambil jalan mondar-mandir menggendong bayi. Kalau Anda enggak kuat dan ambruk wah bisa tambah kacau khan.

c. Saat bayi Anda terjaga dan saat dia tidak rewel (saat koliknya belum datang), usahakan menciptakan kedekatan, lihatlah dia, sebenarnya dia bayi yang lucu khan. Ingatlah dia juga enggak kepingin menderita kolik, dia juga tersiksa, nah karena masih bayi apalagi yang bisa dia lakukan selain menangis? Jangan benci dia atau mencapnya sebagai bayi yang rewel, menyusahkan, dsb. Usahakan mencintainya dengan sungguh-sungguh, menjadi orang tua yang siap mendampingi baik di saat suka maupun duka.

d. Bila dia minum asi, sebagai ibunya Anda jangan minum susu sapi dulu, jangan juga makan-makanan yang bisa menimbulkan gas seperti kubis, brokoli. Hindari pula makanan kecut, pedas, coklat, kopi, dan alkohol. Yup Anda harus berkorban dulu, sabar penderitaan ini cuman 2 bulan lebih kok. Memang enggak mudah, tapi badai kolik pasti berlalu, jadi bersabarlah.

e. Kalau dia minum susu formula dan alergi, coba gantilah susunya dengan yang rendah laktosa atau yang hypoarlergenic (HA). Mungkin tidak bisa membantu menyembuhkan koliknya tapi mencegah alerginya bertambah parah. Karena Steven meski koliknya sembuh waktu dia umur 3 bulan kurang 1 minggu, namun alergi susunya baik susu sapi maupun susu kedelai, masih berlanjut sampai dia hampir 1 tahun.

f. Bayi yang kolik sering ingin minum terus, sebaiknya kurangi volumenya tapi berikan lebih sering. Setiap kali selesai minum susu, gendong dia dengan posisi berdiri sandarkan dia di dada Anda, satu tangan Anda menyangga pantatnya, tangan yang lain menggendong sambil menepuk-tepuk punggungnya agar dia bersendawa. Bila bayi Anda sudah minum terlalu banyak, mungkin empeng dapat membantu.

g. Saat serangan kolik mulai datang, tarik nafas panjang, tenangkan diri Anda dulu. Kemudian dengan penuh cinta kasih gendong anak Anda untuk meringankan beban sakitnya. Atur posisi gendongan Anda agar dia merasa nyaman, kemudian berusahalah menidurkannya. Jalan mondar-mandir sambil menepuk-nepuknya dan bersenandung biasanya bisa membantu.

h. Saat bayi Anda menangis lebih dari biasanya atau saat ada gejala-gejala lain misalkan panas, muntah, batuk, pilek, diare berkepanjangan, kunjungi dokter anak Anda.

Itu sedikit tips dari saya, seorang ibu yang pernah bergadang, tidur sambil duduk mengendong bayi yang menderita kolik. Saat ini saya sudah bisa tersenyum kecut kalau mengingat masa-masa itu. Nah bagi Anda yang menghadapi problem serupa jangan stress ya. Tetap semangat!

Read More......

Monday, 13 October 2008

Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku?

Cerita ini sebenarnya sudah saya tulis di bagian komentar Kisah Tetangga yang Tinggal Sendirian, tapi biar lebih mudah dibaca saya tulis ulang di sini. Kisah tentang anak kecil yang kehilangan sepedanya ini merupakan kisah nyata yang saya baca di buku karangan Dra. V. Dwiyani. Karena kisah ini begitu menyentuh hati saya ketika membacanya, saya coba tulis ulang (mohon maaf kalau ada kesalahan karena ini hanya berdasarkan daya ingat saya).

Ada seorang anak yang baru dibeliin sepeda. Sebagian uangnya dari hasil tabungan anak tersebut, kemudian ditambah sama orang tuanya agar cukup. Namanya juga anak kecil, dia begitu girang, pingin cepat-cepat memamerkan sepeda baru tersebut ke temannya.

Sesampai di rumah temannya, ternyata sang teman sedang asyik bermain bola, dia cepat memarkir sepedanya di luar rumah temannya terus ikut gabung bermain bola. Setelah capek, dan hendak pulang, dia baru teringat akan sepedanya, tapi ternyata sepeda tersebut hilang, tidak ada di tempat tadi dia menaruhnya.

Tentu saja anak tersebut sangat sedih. Dia pulang ke rumah, maunya sih pingin dapat penghiburan. Tapi begitu dia menceritakan kalau sepedanya hilang, orang tuanya langsung marah. Bapak dan ibu yang diharapkan dapat menghiburnya malahan menghukumnya, tak puas hanya memukul, mereka malah mengurungnya di kamar mandi.

Anak tersebut merasa sangat sedih, kata-kata dalam pikirannya begitu menyentuh hati. Sebenarnya siapa sih yang lebih sedih, aku atau Bapak dan Ibu? Sepeda tersebut merupakan impianku sejak lama, aku juga ikut menabung untuk membeli sepeda tersebut. Waktu tahu sepeda tersebut hilang, hatiku sangat sedih dan aku pulang ke rumah dengan harapan mendapat penghiburan tapi kenapa hukuman yang kudapat? Apakah Bapak Ibu lebih sayang sepeda itu daripada aku?

Renungan:
Seringkali kita hanya berpedoman bahwa anak patut dimarahin kalau berbuat salah, kita tidak mau berpikir tentang jalan pikiran anak-anak. Hukuman pukulan, mengurung di kamar mandi tak dapat menyelesaikan masalah. Bahkan seringkali meskipun anak-anak telah menjalankan masa hukuman mereka, kita sebagai orang tua tetap sering mengungkit-ungkit kejadian itu dan memberi cap / stempel karena kelakuannya di masa lalu. Misalkan di saat lain dia minta dibelikan mainan, orang tuanya menjawab, sudah enggak usah, paling nanti juga kamu hilangkan seperti kamu menghilangkan sepeda dulu... Kata-kata kita seperti ini sering membuat anak menjadi sakit hati. Belajar dari kejadian ini mari kita menjadi orang tua yang lebih bijaksana?

Read More......

Sunday, 12 October 2008

Cerita Tentang Anak Yang Susah Diatur

Membaca komentar dari Mr Sok Bener Gitu Loo tentang cara kita memperlakukan anak, membuat saya teringat akan pengalaman saya dalam membesarkan Steven, anak pertama saya. Sebenarnya selama proses kehamilan saya jalani dengan sangat mudah, saya tidak pernah muntah, jarang banget merasa mual. Waktu itu saya masih bekerja dan selama hamil saya tidak pernah membolos. Di tempat kerja dulu itu ada aturan masuk pada hari Minggu sebulan sekali, meskipun hari Minggu saya masuk, saya tidak pernah bingung mengambil tukar hari libur. Kondisi saya saat kehamilan cukup sehat, hanya sering mengantuk dan lapar.

Sekitar 2 minggu lebih sebelum perkiraan waktu melahirkan, saya mengambil cuti, orang-orang bilang kenapa enggak nunggu agak dekat aja waktunya, di sini khan cuti hamil cuman 1,5 bulan. Tapi suami saya tetap bersikeras saya mengambil cuti, kalau sampai ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab katanya.

Ternyata benar juga, saya cuma sempat menikmati masa cuti sebelum melahirkan selama beberapa hari, tapi sempat merawat suami yang kumat radang tenggorokannya. Nah karena suami saya radang tenggorokan, dia minta dibuatin misua. Berhubung di rumah hanya tinggal berdua saja saat itu, saya pikir sudah sekalian aja enggak usah masak nasi. Saya ikut makan misua, tapi ternyata aduh cepet banget sudah ngerasa laper lagi. Hari sudah malam, saya yang sedang hamil tua dan merasa kelaparan mencari-cari makanan, buka kulkas ada jeruk, ya sudah makan jeruk aja deh. Eh malamnya, enggak tahu kenapa calon bayi di perut saya berontak, gerakannya liar banget. Tapi malam itu saya masih bisa tidur.

Pagi hari saat bangun tidur, tahu-tahu air ketuban saya pecah, segera saya telpon dokter dan saya disuruh masuk rumah sakit. Ternyata sampai jam 12 siang tidak ada kontraksi, karena itu saya diinduksi. Pertamanya sih sakitnya masih bisa ditahan, tapi tambah lama tambah sakit, dan karena air ketuban sudah pecah saya tidak boleh beranjak dari tempat tidur. Saat saya sudah enggak kuat menahan sakit, untunglah akhirnya bayi saya keluar, lebih cepat 17 hari dari perkiraan.

Nah karena air ketuban sudah pecah duluan, bayi saya disuntik antibiotik, kemudian karena kuning dia harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Saat awal setelah pulang rumah masih enggak apa-apa, tapi di minggu ketiga, tahu-tahu dia menangis menjerit-jerit, tangisannya melengking, sambil kakinya ditarik / diluruskan, perutnya membesar karena kembung. Tangisan tersebut susah sekali ditenangkan. Dia bisa menangis menjerit-jerit sampai lama banget sampai akhirnya tidur karena capek. Ketika diperiksa ke dokter, ternyata itu namanya kolik. Sabar aja nanti umur 3 bulan sembuh sendiri kok. Waduh berarti kami harus menunggu 2 bulan lebih sampai sakit kolik ini sembuh sendiri.

Kalau kita mengalami masa bahagia jangankan 2 bulan, mau bertahun-tahun juga enggak masalah. Tapi kalau menghadapi masalah kebalikannya deh 2 hari aja sudah menderita, apalagi 2 bulan. Ya begitu deh Steven, anak pertama saya ini rewel banget, selama 2 bulan kami tidak bisa tidur nyenyak. Untuk menenangkan tangisannya dibutuhkan waktu setengah jam lebih, tetangga sampai heran kenapa bayi saya selalu menangis menjerit-jerit di tengah malam. Kalaupun akhirnya dia tertidur, jangan senang dulu. Begitu diletakkan di ranjang, belum 5 menit, dia kembali akan menangis menjerit-jerit, tangisan melengking yang membuat orang tua stress. Akhirnya terpaksa saya, seringkali dibantu oleh mama, (nenek Steven) setelah selesai menidurkan Steven, tidak menurunkannya di ranjang, tapi kami tidur dengan posisi duduk sambil tetap menggendongnya.

Masa cuti saya habis, saya ambil semua jatah tukar libur hari Minggu saya, akhirnya habis juga dan saya harus masuk kerja lagi. Karena saat itu Steven masih satu bulan lebih sakit koliknya masih jauh dari sembuh. Bertolak belakang dengan keadaan saat saya hamil, masa setelah kelahiran Steven ini justru membuat saya stress. Kalau dulu saya dipuji karena rajin, jarang sekali tidak masuk, justru setelah kelahiran Steven saya sering sekali izin, gimana kuat kalau seharian kerja, pulang kerja setiap malam tidak dapat tidur nyenyak, harus mengendong bayi, menenangkannya selama berjam-jam, sampai hampir enggak tidur. Pernah sampai di tempat kerja untuk jalan pun rasanya enggak kuat saking ngantuknya.

Sesampai di rumah, mama yang menjaga Steven juga ikut stress, mama bilang kalau njaga anak yang 'normal' sih enggak masalah, tapi ini serba salah banget, terus terang mama enggak sanggup, mending saya berhenti kerja aja. Saya menghadapi dilema, di satu sisi pingin tetap bisa berkarir, tapi bingung juga mikirin nasib Steven. Akhirnya saya mengajukan surat pengunduran diri, perusahaan berusaha membujuk agar saya mengambil cuti dulu sampai anak saya sehat. Tapi saya bingung juga soalnya beberapa bulan setelah itu, gantian mama saya harus ke tempat kakak saya yang akan melahirkan juga, nah saat itu siapa yang sanggup menjaga Steven?

Setelah menimbang-nimbang perusahaan mengizinkan saya keluar tapi peraturan perusahaan harus tetap dipenuhi, saya harus memberi waktu perusahaan 1 bulan untuk mencari ganti. Ya sudah saya tetap bekerja tapi absensi saya enggak karuan, seringkali saya terpaksa izin karena tidak kuat, habis mengantar Steven ke dokter karena rewelnya enggak ketulungan.

Akhirnya saya berhenti kerja sungguhan. Seminggu sebelum Steven genap 3 bulan, sakit koliknya sembuh. Kami mulai bernafas lega, bisa mulai tidur normal lagi. Tapi tidak berhenti sampai di sana, salah satu penyebab kolik tersebut ternyata karena Steven alergi susu sapi. Dia sering diare, kulitnya merah-merah, bisulan, kepalanya penuh kerak, pokoknya banyak banget problemnya. Sampai pernah waktu test darah kami dibuat stress karena hasilnya tidak normal.

Tahun pertama Steven sering banget ke dokter, sampai dia trauma. Setiap kali diajak ke dokter nangis menjerit-jerit. Sungguh anak yang susah diatur. Entah kenapa semenjak umur 7 bulan, dia tidak mau pakai sandal atau sepatu, bahkan kaos kaki pun dia tak mau.

Sebenarnya sih Steven tumbuh normal, dia termasuk anak yang lucu dan cerdas, tapi tingkah lakunya semenjak bayi membuat stress. Melihat parahnya alergi yang dideritanya, tingkahnya yang susah diam, dan kelakuannya tidak mau pakai sepatu, bicaranya yang tidak jelas (seringkali hanya mengambil suku kata terakhir misalkan pu untuk sapu dan lampu, cak nung untuk puncak gunung, maksudnya dia minta diputarin CD lagu naik-naik ke puncak gunung, dsb), saya sempat merasa takut kalau dia berkembang menjadi autis.

Mungkin karena stress, ketakutan yang berlebihan, rasa marah karena gara-gara Steven saya harus berhenti kerja, rasa jengkel karena Steven susah sekali diatur, dsb menjadikan saya mudah sekali marah. Pelampiasannya tentu saja berupa bentakan, ceweran, atau pukulan ke Steven. Misalnya dia ngompol di kasur, saya omelin, eh dia enggak nangis, belum puas rasanya, saya jewer dia, belum nangis juga, saya jewer lagi dia keras-keras sampai dia nangis. Wah pokoknya saat itu kondisi emosi saya labil banget.

Perlakuan saya yang sering memarahi Steven tidak membuat kelakuannya membaik, bahkan puncaknya saat dia di playgroup. Saat itu dia sudah punya adik, Kevin. Sangat berbeda dengan Steven, masa bayi Kevin justru gampang sekali. Kevin bayi merupakan anak yang lucu, anteng, jarang sakit, jarang nangis, mau pakai sepatu, pokoknya beda banget dengan Steven (kata Steven sih Kevin lucu kalau Steven pinter). Nah hari pertama Steven masuk playgroup saya masih bisa mengantar tapi setelah itu kami disibukkan karena papa mertua saya meninggal karena sakit. Kesedihan dan kesibukan mempersiapkan pemakaman, membuat perhatian kami ke Steven jauh berkurang. Saya tidak dapat mendampinginya di sekolah.

Pengasuh Steven melaporkan kalau Steven di sekolah suka mengganggu teman, susah diajak masuk kelas. Ketika proses pemakaman sudah selesai, saya ambil alih lagi mengantar Steven ke sekolah. Kebetulan pagi itu Steven habis mengganggu Kevin dan ditegur oleh neneknya. Mungkin kondisi hatinya jadi agak mendongkol dan hal itu dilampiaskannya dengan mengganggu teman-temannya yang secara fisik lebih kecil. Tahu-tahu dia mengejar temannya yang lebih kecil kemudian memukul atau mendorongnya. Aduh betapa malu, marah, dan stress rasanya melihat kelakuan Steven saat itu.

Semenjak peristiwa itu beberapa guru menjadi lebih ketat dalam menjaga Steven, kejadian tadi tentu saja menyebar menjadi gosip empuk para mama yang mengantar anaknya ke sekolah. Rasanya sebagai mama saya sudah gagal mendidik anak, kenapa anak saya jadi seperti itu. Tapi semakin dimarahi kelakuannya bukannya membaik, mungkin Steven merasa dongkol , sakit hati, iri, atau merasa tidak disayang. Akibatnya nakalnya semakin menjadi juga. Saat itu kami sungguh merasa bingung, kalau masih kecil saja sudah enggak bisa diatur seperti itu, gimana nantinya.

Karena dia merasa kondisi di sekolah tidak menyenangkan, akhirnya dia mogok enggak mau sekolah. Saya dan papanya tambah pusing lagi. Saya menghadap ke kepala sekolah. Dengan bijaksana Bu Chichi kepala sekolah saat itu menasehatkan sudah jangan dipaksa, coba aja ke sekolah untuk main-main dulu, biar dia adaptasi. Kalau dia lagi mood ajak aja ke sekolah meski itu bukan jadwal sekolahnya (karena masih play group masuk sekolah 3 kali dalam seminggu). Enggak usah masuk kelas dulu, main-main saja dulu.

Di depan Bu Chichi saya mengiyakan, tapi dalam hati berpikir kok enak enggak mau sekolah dibiarin ntar tambah manja, harusnya dimarahin tuh biar dia tahu kalau itu salah. Namun kami tetap mencoba nasehat Bu Chichi untuk mengajaknya adaptasi ke sekolah untuk bermain-main dulu. Tapi masa-masa itu sungguh sulit. Hari ini berhasil mengajaknya ke sekolah misalnya tapi tetap aja dia enggak bisa diatur, enggak mau masuk kelas. Aduh gemes banget rasanya, anak orang lain dengan pintarnya masuk kelas sendiri, menjawab pertanyaan, mau ke depan kelas. Sedangkan Steven, menginjakkan kaki masuk kelas aja enggak mau, di sekolah kerjanya cuman main-main. Terus buat apa sekolah kalau seperti gini terus pikir saya.

Suatu hari dia kembali mogok sekolah, tidak mau mandi. Kesabaran saya sudah habis. Ya sudah kalau Steven enggak mau sekolah biar tinggal di rumah saja sendirian. Saya ajak semua orang keluar rumah, Steven terlihat ragu tapi karena takut diantar ke sekolah, dia tetap memilih tinggal di rumah. Kami sembunyi beberapa saat terus kembali ke rumah lagi. Habis akal rasanya, taktik apa lagi yang harus kami pakai? Masa sama anak kecil umur 2,5 tahun aja kalah?

Pagi itu Steven kembali dihukum, dia dicuekin karena enggak mau sekolah. Sudah dinasehatin macam-macam, mau jadi apa nanti kalau besar, dibujuk baik-baik, eh masih enggak mempan. Ya sudah orang satu rumah diminta mencuekkan Steven, pura-pura dianggap enggak ada. Pagi itu saya dan papa Steven sedang membaca koran di ruang tamu, nenek Steven juga membaca koran di ruang tengah (mukanya tertutup oleh koran), pengasuhnya sedang memberi susu Kevin. Nah Steven sambil membawa botol susunya berusaha naik ke ranjang bayi yang saat itu diletakkan di ruang tengah. Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan dan gedebug, terdengar bunyi yang sangat keras. Steven jatuh ke lantai dengan kepala yang membentur lantai dahulu. Kami semua kaget dan shock.

Sehabis terbentur dengan keras tadi, Steven bilang dia merasa ngantuk dan masuk kamar. Dia tidur. Ketika bangun tahu-tahu dia muntah. Kami langsung kuatir dia kena gegar otak, segera kami bawa ke rumah sakit. Saat itu kami baru berpikir seandainya Tuhan kembali mau mengambil Steven karena kami tidak menyayanginya dengan sungguh-sungguh, apakah kami rela? Memang dia jatuh karena tingkahnya sendiri, tapi salah kami juga khan karena tidak menjaganya, mencuekkannya? Bagaimanapun juga Steven masih kecil, kalau dia enggak bisa diatur mungkin cara kami mendidiknya yang salah. Berbagai pikiran berkecamuk waktu kami menunggu antrian rontgen kepala untuk melihat adakah tulang kepalanya yang retak.

Untunglah Steven tidak apa-apa, tapi waktu menunggu antrian obat dia muntah lagi. Saat itu kemampuan otaknya juga berkurang, seperti orang linglung. Ketika ditanya pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dia bisa langsung menjawab kali itu kadang dia bilang lupa. Mungkin karena otaknya baru saja terkena guncangan keras.

Kejadian tadi membuat kami berpikir ulang tentang cara didik kami. Setiap kali ke toko buku kami mencari buku yang dapat membantu kami dalam mengatasi problem anak yang susah diatur ini. Akhirnya buku karangan Dra V. Dwiyani yang paling dapat membuka hati dan pikiran kami. Buku tersebut Dari Anak Tentang Kita, kumpulan kisah-kisah nyata yang ditulis dari sisi pikiran anak. Judul bukunya "Ibu Dengarkan Aku" begitu menyentuh hati saya kala itu . Banyak juga kisah-kisah nyata di sana yang membuat kita terhenyak, betapa seringnya kita entah disengaja maupun tidak menyakiti hati anak-anak. Kita berpikir kalau nakal harus dihukum tapi apa benar dengan dihukum kelakuan anak kita membaik? Tak jarang kita melampiaskan kekesalan dan kemarahan kita pada anak, bahkan itu terjadi berkesinambungan sampai anak kita tidak lagi merasa dicintai. Bagi Anda yang memiliki problem serupa, coba cari buku tersebut, harganya murah kok, tuh lagi ada diskon tinggal Rp 14.280 bukunya tipis, kumpulan kisah nyata, jadinya lebih mengena. Beberapa ibu yang saya pinjami buku tersebut menangis dan mulai memperbaiki diri, dan seiring dengan itu kelakuan anaknya pun ikut membaik.

Kembali ke Steven, memang perubahan tidak terjadi secara drastis, tapi cara pikir kami dan kesadaran kami bahwa butuh cinta kasih untuk mengatasi anak yang susah diatur ini, membuat perilakunya membaik. Saya kembali mengantarnya ke sekolah, dan saya berusaha keras membuat dia tertarik masuk kelas tapi tidak dengan cara paksaan. Saya berusaha keras menjadi lebih sabar. Pertama saya biarkan dia bermain di area sekolah, kemudian ketika teman-temannya sudah masuk kelas, saya coba membuat dia tertarik mengintip melalui pintu kaca. Ya pertama hanya sekedar mengintip, terus berkembang menjadi duduk di luar pintu. Prosesnya cukup lama.

Para guru juga kooperatif. Steven dibiarkan di luar kelas tapi mereka tetap menawari Steven untuk ikut terlibat pada kegiatan belajar tersebut. Kalau Steven enggak mau, mereka tidak memaksa. Suatu hari Steven tertarik dengan materi yang diajarkan di kelas kemudian membuka pintu dan ikut masuk. Pada awalnya sih dia cuman masuk sebentar terus keluar lagi, tapi lama-kelamaan dia mulai mau masuk kelas tapi minta ditemani. Sedikit demi sedikit saya mulai menjauh, dan para guru mengambil alih peran saya. Mula-mula kalau ditinggal dia masih menangis dan mencari saya, tapi para guru berusaha keras mengalihkan perhatiannya. Untung akhirnya meski melalui proses yang panjang, kami berhasil mengatasi masa-masa sulit itu.

Saat ini Steven sudah kelas TK B dan para guru bilang tidak ada masalah dengan dia., Steven bagus kata mereka. Malahan di playgroup B dia berhasil mendapat piala sebagai The King saat wisuda dan di TK A dia juara Mandiri 1. Puji Tuhan dari anak yang rewelnya minta ampun dan sangat susah diatur akhirnya dapat berubah. Berilah anak Anda cinta kasih, cobalah lebih mengerti mereka. Maafkan kelakuan mama dulu, ya Steven...

Read More......

Komentar dari Mr. Sok Bener Gitu Loo

Cerita ini adalah komentar dari teman saya, Mr. Sok Bener Gitu Loo yang mengomentari tentang Kisah Tetangga Yang Tinggal Sendirian. Karena komentarnya bagus banget dan berupa cerita, sebagai wujud terima kasih maka saya pindah ke sini aja biar lebih mudah dibaca, yuk kita simak:

Selamat jalan Bapak.

Membaca kisah diatas mengingatkan saya kembali bukan hanya bagaimana cara kita memperlakukan orangtua kita sekarang tetapi juga bagaimana cara kita memperlakukan anak kita sekarang.

Salah satunya kadang2 kita ngga sadar kalo kita pernah tidak sengaja membangkitkan rasa sakit hati anak kita.

Tindakan yg tepat kepada anak cowo yg hoby main masak2an adalah salah satu contoh bahwa orang tuanya menyadari hal ini, pengertian dan perhatian kitalah yg bisa membuat anak kita merasa dimengerti dan dicintai kembali, mereka tidak mendengar dari kata2 kita saja tetapi juga merasakan perlakuan kita kepada mereka.

Satu hal lagi yg pernah saya baca,
saya lupa dari mana, seringkali kita jarang punya waktu buat anak2 kita (biasanya bapak2 nih),mungkin sebagian menganggapnya sebagai pemborosan waktu, waktu adalah uang, katanya.

Saat anak anda kangen,butuh waktu dan perhatian anda,mungkin hanya untuk sekedar main mobil2an atau masak2an misalnya,coba saya tebak jawaban anda,"Nanti ya sayang,papa masih sibuk,nanti kalo ada waktu pasti papa temenin,papa sayang kamu" biasanya janji ini jarang lho ditepatinya.

Bisa anda bayangkan tidak,kalo nanti saat anak anda sudah dewasa dan sudah hidup mandiri,anda sudah menikmati masa pensin anda,lalu anda telpon anak2 anda karena sudah lama sekali tidak bertemu,anda kangen ingin bertemu untuk sekedar ngobrol atau makan bersama, atau bahkan hanya untuk ngobrol saja di telepon.

Coba bayangkan apa yg anda rasakan dalam hati anda kalau suara di ujung telepon berbunyi "Nanti ya pa,saya masih sibuk,nanti kalo ada waktu pasti saya temenin,saya sayang papa" dan janjinya juga jarang ditepati, sama persis seperti janji anda dulu kepadanya.

Pilihan ditangan anda, apa yg anda perlakukan kepada anak anda sekarang, itu yg akan diperlakukan kepada anda nanti.
Apa yg anda tanam, itu yg anda tuai.

Read More......

Kisah Anak Cowok yang Hobby Main Masak-masakan

Kevin, anak saya yang kedua, sejak kecil memiliki minat yang besar pada alat-alat dan kegiatan yang berhubungan dengan masak-memasak. Waktu masih bayi, hobby tersebut disalurkan dengan cara kalau ada yang sedang memasak di dapur, begitu mendengar bunyi sreng sreng, dia langsung minta gendong untuk melihat proses masak-memasak tersebut. Setelah bisa jalan, dia suka ke dapur, melihat alat-alat masak apa yang ada di sana, mula-mula sih cuman pinjam satu alat dapur sebentar, eh tambah lama koleksi alat dapurnya makin banyak aja...

Waktu kami menginap di Gunung Kawi bersama kerabat, di sepanjang jalan khan banyak orang yang berjualan, nah dia lagsung tertarik dengan mainan masak-masakan yang dijual di sana. Kami pikir aduh masa sih anak cowok ngumpulin mainan masak-masakan terus, gak selalu khan keinginan seorang anak harus dituruti? Jadi kami bersikukuh tidak mau membelikannya. Kevin menangis, orang-orang kaget dan bertanya ada apa. Saya jelaskan kalau Kevin minta mainan masak-masakan, hehe mereka sampai geleng-geleng kepala, kok cowok sukanya main masak-masakan. Ada yang berkomentar jangan dibiasakan ntar kebawa sampai besar, ada lagi yang bilang ya enggak apa-apa khan siapa tahu kalau sudah besar bisa jadi koki terkenal. Neneknya malah bertanya berapa sih harganya dan mau membelikannya, tapi kami melarangnya, jangan nanti jadi manja, dimarahi orang tuanya, lari ke neneknya.

Akhirnya malam itu Kevin tertidur karena kecapekan. Besoknya kami sengaja tidak membahas hal tersebut, kami pulang tanpa membelikan mainan masak-masakan tersebut. Jadi kami menang, berhasil mengalihkan perhatiannya. Dua hari kemudian waktu di rumah, entah kenapa tahu-tahu Kevin kembali teringat mainan masak-masakan tersebut, terus langsung ngambek, masuk kamar dan menangis. Dia berubah dari yang biasanya ceria, saat itu menjadi anak yang kehilangan semangat. Saya berusaha membujuknya tapi tidak berhasil. Dia hanya diam di ranjang dan kelihatan begitu sedih. Sampai enggak tega melihatnya, jadi mikir deh benernya yang kami lakukan bener enggak sih? Apa salah kalau anak cowok main masak-masakan, haruskah hobby tersebut kami kekang?

Nenek Kevin, yang memang kadang tinggal di rumah kami, tidak tega melihat keadaan Kevin, itu pasti karena mainan masak-masakan itu, katanya, terus Beliau langsung berinisiatif pergi ke toko mainan untuk mencarikan mainan masak-masakan buat Kevin. Saya ingin mencegahnya, tapi melihat kondisi Kevin jadi bingung juga. Saat neneknya pergi, saya berusaha mengajak Kevin bicara, mainan masak-masakan Kevin khan sudah banyak, masa masih mau beli terus? Eh bukannya berhasil, saya tambah dicuekin...

Nenek datang membawa mainan, saya bawa mainan masak-masakan itu masuk ke kamar tapi saya sembunyiin di belakang punggung, saya coba panggil Kevin eh enggak direspon, wah anak ini sakit hati sungguhan rupanya, mungkin kata-kata dan perbuatan yang kami lakukan telah sangat melukai hatinya. Gawat nih, enggak biasanya dia seperti ini. Akhirnya saya nyerah, saya tunjukkan mainan masak-masakan yang baru dibelikan oleh neneknya itu. Ajaib deh dia langsung bangun dari tempat tidur, semangatnya timbul kembali.....

Ada lagi cerita waktu kami menginap di apartemen di Jakarta. Di sana ada dapurnya, ada kompornya, tapi enggak ada peralatan masaknya. Karena butuh untuk memasak air dan indomie, kami mencari panci kecil di supermarket. Hari sebelumnya begitu sampai Jakarta Kevin bertanya masak-masakan Kevin mana, tentu aja kami enggak membawanya, eh dia terlihat sedih tapi tidak menangis atau merengek. Nah saat kami memilih peralatan masak tersebut, wajah Kevin langsung menjadi ceria, dia duduk di lantai supermarket sambil bergaya pura-pura masak, ya ampun....Waktu kembali ke rumah, alat masak tersebut langsung diambil oleh Kevin, menjadi mainan kesayangannya, ya sudah deh direlakan aja...

Beberapa hari lalu, sehabis pulang berlibur lebaran, saya perhatikan wajan teflon di rumah ternyata sudah mulai mengelupas, sudah waktunya ganti nih. Tanpa banyak bicara wajan teflon tersebut saya simpan di gudang. Beberapa hari kemudian ketika mecari mainannya di gudang, dia melihat kok wajan teflon ada di sana, Kevin bertanya pada pengasuhnya wajan itu sudah enggak dipakai ya, Kevin pinjam ya. Tapi pengasuhnya bilang jangan, nanti mau dipakai lagi. Waktu Kevin minta dibuatin roti yang dimasak (roti yang sudah jadi dipanasin di wajan pakai mentega), dia melihat kok enggak pakai wajan teflon, berarti enggak kepakai tuh, langsung aja dia ke gudang mengambil sendiri wajan teflon tersebut. Sekarang wajan tersebut juga menjadi hak milik Kevin...

Kemarin, kami ke supermarket, diantaranya beli wajan teflon yang baru. Aduh Kevin semangat sekali mau ikut milih-milih. Waktu di kasir dia bilang Kevin bantu angkatin ya wajannya, saya bilang eh ini bukan buat Kevin lho, dia menjawab, iya Kevin tahu, Kevin cuman bantu pegang kok. Tadi jam setengah 5 pagi, dia terbangun mau pipis katanya. Saya antar keluar kamar, eh dia mendengar kalau pengasuhnya sudah bangun, langsung dia buka pintu menuju dapur dan dia langsung teringat wajan yang bagus kemarin itu mana. Eh itu bukan buat Kevin, kata saya. Dia bilang iya Kevin cuman mau ngeliat kok. Setelah ditunjukkan tempat wajan tersebut, Kevin mengambil mainan masak-masakannya (yang sebagian besar isinya panci, wajan, sotel yang sudah tidak terpakai lagi). Dia mulai aksinya menata alat-alat masaknya di lantai, mulai pura-pura memasak...

Karena bangun terlalu pagi, sehabis main masak-masakan, makan roti, dan minum susu, Kevin ngantuk lagi, tapi sebelum tidur, tak lupa dia pesan ke pangasuhnya, nanti kalau wajan baru yang apik itu sudah enggak dipakai, kasih ke Kevin ya....Ampun deh....

Renungan:
Kalau kita punya anak cowok tapi hobbynya agak nyleneh seperti ini, apa ya yang harus kita lakukan? Kalau terlalu dikekang ternyata efeknya enggak baik juga, apalagi kalau kita memarahi terlalu keras dengan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Meski masih kecil (catatan sekarang Kevin berumur 4 tahun, waktu peristiwa di Gunung Kawi tersebut kira-kira umurnya 2- 3 tahun), ternyata anak kecil juga bisa merasa sakit hati lho...

Kalau dipikir-pikir lagi, ya sudah deh kalau itu memang hobbynya, kalau dia mau menjadi koki, toh itu juga bukan pekerjaan yang jelek. Biarkan aja deh dia berkembang dengan imajinasinya. Selama ini dia menyalurkan hobbynya sebatas main masak-masakan bohong-bohongan, kalau yang sungguhan baru sebatas membantu mencetak kue kering bentuk pohon, hati, bulan sabit, lonceng, dsb (kami yang membuat adonannya, Kevin dan Steven, kakaknya yang mencetaknya).

Mungkin ada ibu-ibu yang lain ingin mengomentari atau berbagi cerita?

Read More......

 

blogger templates | Make Money Online