Monday, 13 October 2008

Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku?

Cerita ini sebenarnya sudah saya tulis di bagian komentar Kisah Tetangga yang Tinggal Sendirian, tapi biar lebih mudah dibaca saya tulis ulang di sini. Kisah tentang anak kecil yang kehilangan sepedanya ini merupakan kisah nyata yang saya baca di buku karangan Dra. V. Dwiyani. Karena kisah ini begitu menyentuh hati saya ketika membacanya, saya coba tulis ulang (mohon maaf kalau ada kesalahan karena ini hanya berdasarkan daya ingat saya).

Ada seorang anak yang baru dibeliin sepeda. Sebagian uangnya dari hasil tabungan anak tersebut, kemudian ditambah sama orang tuanya agar cukup. Namanya juga anak kecil, dia begitu girang, pingin cepat-cepat memamerkan sepeda baru tersebut ke temannya.

Sesampai di rumah temannya, ternyata sang teman sedang asyik bermain bola, dia cepat memarkir sepedanya di luar rumah temannya terus ikut gabung bermain bola. Setelah capek, dan hendak pulang, dia baru teringat akan sepedanya, tapi ternyata sepeda tersebut hilang, tidak ada di tempat tadi dia menaruhnya.

Tentu saja anak tersebut sangat sedih. Dia pulang ke rumah, maunya sih pingin dapat penghiburan. Tapi begitu dia menceritakan kalau sepedanya hilang, orang tuanya langsung marah. Bapak dan ibu yang diharapkan dapat menghiburnya malahan menghukumnya, tak puas hanya memukul, mereka malah mengurungnya di kamar mandi.

Anak tersebut merasa sangat sedih, kata-kata dalam pikirannya begitu menyentuh hati. Sebenarnya siapa sih yang lebih sedih, aku atau Bapak dan Ibu? Sepeda tersebut merupakan impianku sejak lama, aku juga ikut menabung untuk membeli sepeda tersebut. Waktu tahu sepeda tersebut hilang, hatiku sangat sedih dan aku pulang ke rumah dengan harapan mendapat penghiburan tapi kenapa hukuman yang kudapat? Apakah Bapak Ibu lebih sayang sepeda itu daripada aku?

Renungan:
Seringkali kita hanya berpedoman bahwa anak patut dimarahin kalau berbuat salah, kita tidak mau berpikir tentang jalan pikiran anak-anak. Hukuman pukulan, mengurung di kamar mandi tak dapat menyelesaikan masalah. Bahkan seringkali meskipun anak-anak telah menjalankan masa hukuman mereka, kita sebagai orang tua tetap sering mengungkit-ungkit kejadian itu dan memberi cap / stempel karena kelakuannya di masa lalu. Misalkan di saat lain dia minta dibelikan mainan, orang tuanya menjawab, sudah enggak usah, paling nanti juga kamu hilangkan seperti kamu menghilangkan sepeda dulu... Kata-kata kita seperti ini sering membuat anak menjadi sakit hati. Belajar dari kejadian ini mari kita menjadi orang tua yang lebih bijaksana?

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online