Sunday, 12 October 2008

Kisah Anak Cowok yang Hobby Main Masak-masakan

Kevin, anak saya yang kedua, sejak kecil memiliki minat yang besar pada alat-alat dan kegiatan yang berhubungan dengan masak-memasak. Waktu masih bayi, hobby tersebut disalurkan dengan cara kalau ada yang sedang memasak di dapur, begitu mendengar bunyi sreng sreng, dia langsung minta gendong untuk melihat proses masak-memasak tersebut. Setelah bisa jalan, dia suka ke dapur, melihat alat-alat masak apa yang ada di sana, mula-mula sih cuman pinjam satu alat dapur sebentar, eh tambah lama koleksi alat dapurnya makin banyak aja...

Waktu kami menginap di Gunung Kawi bersama kerabat, di sepanjang jalan khan banyak orang yang berjualan, nah dia lagsung tertarik dengan mainan masak-masakan yang dijual di sana. Kami pikir aduh masa sih anak cowok ngumpulin mainan masak-masakan terus, gak selalu khan keinginan seorang anak harus dituruti? Jadi kami bersikukuh tidak mau membelikannya. Kevin menangis, orang-orang kaget dan bertanya ada apa. Saya jelaskan kalau Kevin minta mainan masak-masakan, hehe mereka sampai geleng-geleng kepala, kok cowok sukanya main masak-masakan. Ada yang berkomentar jangan dibiasakan ntar kebawa sampai besar, ada lagi yang bilang ya enggak apa-apa khan siapa tahu kalau sudah besar bisa jadi koki terkenal. Neneknya malah bertanya berapa sih harganya dan mau membelikannya, tapi kami melarangnya, jangan nanti jadi manja, dimarahi orang tuanya, lari ke neneknya.

Akhirnya malam itu Kevin tertidur karena kecapekan. Besoknya kami sengaja tidak membahas hal tersebut, kami pulang tanpa membelikan mainan masak-masakan tersebut. Jadi kami menang, berhasil mengalihkan perhatiannya. Dua hari kemudian waktu di rumah, entah kenapa tahu-tahu Kevin kembali teringat mainan masak-masakan tersebut, terus langsung ngambek, masuk kamar dan menangis. Dia berubah dari yang biasanya ceria, saat itu menjadi anak yang kehilangan semangat. Saya berusaha membujuknya tapi tidak berhasil. Dia hanya diam di ranjang dan kelihatan begitu sedih. Sampai enggak tega melihatnya, jadi mikir deh benernya yang kami lakukan bener enggak sih? Apa salah kalau anak cowok main masak-masakan, haruskah hobby tersebut kami kekang?

Nenek Kevin, yang memang kadang tinggal di rumah kami, tidak tega melihat keadaan Kevin, itu pasti karena mainan masak-masakan itu, katanya, terus Beliau langsung berinisiatif pergi ke toko mainan untuk mencarikan mainan masak-masakan buat Kevin. Saya ingin mencegahnya, tapi melihat kondisi Kevin jadi bingung juga. Saat neneknya pergi, saya berusaha mengajak Kevin bicara, mainan masak-masakan Kevin khan sudah banyak, masa masih mau beli terus? Eh bukannya berhasil, saya tambah dicuekin...

Nenek datang membawa mainan, saya bawa mainan masak-masakan itu masuk ke kamar tapi saya sembunyiin di belakang punggung, saya coba panggil Kevin eh enggak direspon, wah anak ini sakit hati sungguhan rupanya, mungkin kata-kata dan perbuatan yang kami lakukan telah sangat melukai hatinya. Gawat nih, enggak biasanya dia seperti ini. Akhirnya saya nyerah, saya tunjukkan mainan masak-masakan yang baru dibelikan oleh neneknya itu. Ajaib deh dia langsung bangun dari tempat tidur, semangatnya timbul kembali.....

Ada lagi cerita waktu kami menginap di apartemen di Jakarta. Di sana ada dapurnya, ada kompornya, tapi enggak ada peralatan masaknya. Karena butuh untuk memasak air dan indomie, kami mencari panci kecil di supermarket. Hari sebelumnya begitu sampai Jakarta Kevin bertanya masak-masakan Kevin mana, tentu aja kami enggak membawanya, eh dia terlihat sedih tapi tidak menangis atau merengek. Nah saat kami memilih peralatan masak tersebut, wajah Kevin langsung menjadi ceria, dia duduk di lantai supermarket sambil bergaya pura-pura masak, ya ampun....Waktu kembali ke rumah, alat masak tersebut langsung diambil oleh Kevin, menjadi mainan kesayangannya, ya sudah deh direlakan aja...

Beberapa hari lalu, sehabis pulang berlibur lebaran, saya perhatikan wajan teflon di rumah ternyata sudah mulai mengelupas, sudah waktunya ganti nih. Tanpa banyak bicara wajan teflon tersebut saya simpan di gudang. Beberapa hari kemudian ketika mecari mainannya di gudang, dia melihat kok wajan teflon ada di sana, Kevin bertanya pada pengasuhnya wajan itu sudah enggak dipakai ya, Kevin pinjam ya. Tapi pengasuhnya bilang jangan, nanti mau dipakai lagi. Waktu Kevin minta dibuatin roti yang dimasak (roti yang sudah jadi dipanasin di wajan pakai mentega), dia melihat kok enggak pakai wajan teflon, berarti enggak kepakai tuh, langsung aja dia ke gudang mengambil sendiri wajan teflon tersebut. Sekarang wajan tersebut juga menjadi hak milik Kevin...

Kemarin, kami ke supermarket, diantaranya beli wajan teflon yang baru. Aduh Kevin semangat sekali mau ikut milih-milih. Waktu di kasir dia bilang Kevin bantu angkatin ya wajannya, saya bilang eh ini bukan buat Kevin lho, dia menjawab, iya Kevin tahu, Kevin cuman bantu pegang kok. Tadi jam setengah 5 pagi, dia terbangun mau pipis katanya. Saya antar keluar kamar, eh dia mendengar kalau pengasuhnya sudah bangun, langsung dia buka pintu menuju dapur dan dia langsung teringat wajan yang bagus kemarin itu mana. Eh itu bukan buat Kevin, kata saya. Dia bilang iya Kevin cuman mau ngeliat kok. Setelah ditunjukkan tempat wajan tersebut, Kevin mengambil mainan masak-masakannya (yang sebagian besar isinya panci, wajan, sotel yang sudah tidak terpakai lagi). Dia mulai aksinya menata alat-alat masaknya di lantai, mulai pura-pura memasak...

Karena bangun terlalu pagi, sehabis main masak-masakan, makan roti, dan minum susu, Kevin ngantuk lagi, tapi sebelum tidur, tak lupa dia pesan ke pangasuhnya, nanti kalau wajan baru yang apik itu sudah enggak dipakai, kasih ke Kevin ya....Ampun deh....

Renungan:
Kalau kita punya anak cowok tapi hobbynya agak nyleneh seperti ini, apa ya yang harus kita lakukan? Kalau terlalu dikekang ternyata efeknya enggak baik juga, apalagi kalau kita memarahi terlalu keras dengan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Meski masih kecil (catatan sekarang Kevin berumur 4 tahun, waktu peristiwa di Gunung Kawi tersebut kira-kira umurnya 2- 3 tahun), ternyata anak kecil juga bisa merasa sakit hati lho...

Kalau dipikir-pikir lagi, ya sudah deh kalau itu memang hobbynya, kalau dia mau menjadi koki, toh itu juga bukan pekerjaan yang jelek. Biarkan aja deh dia berkembang dengan imajinasinya. Selama ini dia menyalurkan hobbynya sebatas main masak-masakan bohong-bohongan, kalau yang sungguhan baru sebatas membantu mencetak kue kering bentuk pohon, hati, bulan sabit, lonceng, dsb (kami yang membuat adonannya, Kevin dan Steven, kakaknya yang mencetaknya).

Mungkin ada ibu-ibu yang lain ingin mengomentari atau berbagi cerita?

Related Posts by Categories



1 comments:

Mr. Sok Bener Gitu loo said...

(Bapak-bapak boleh ikut komentar juga kan...hehehe)

So what gitu lho kalo cowo hoby masak ato jago masak,tetep cowo kok,jantan...

Chef hotel terkenal kebanyakan cowo kan...
Mantan perdana menteri Thailand jago masak juga tuh...
Apa pernah liat tanda2 dia ga jantan karena jago masak...huahahaha ngga kan...

Gue sendiri lumayan seneng tuh nonton acara masak, dulu pernah ada acara yg namanya "Wok With Yan"...Kokinya juga cowo, masaknya sistematis banget,cool...

Jujur aja, menurut gue masakan koki cowok lebih mantap dibanding koki cewe...(yg ini pendapat pribadi...jangan marah ya ibu-ibu...huehehe)

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online