Wednesday, 15 October 2008

Memori Masa Kecil Apakah yang Masih Anda Ingat?

Kalau Anda ditanya tentang memori masa kecil, apakah yang terlintas di benak Anda? Memori masa kecil saya cenderung berkisar pada peristiwa bahagia seperti saat merayakan ulang tahun di sekolah TK, saat rekreasi bersama keluarga. Peristiwa yang berkesan seperti saat memutuskan berhenti minum susu pakai dot, hari pertama masuk sekolah TK. Peristiwa di saat saya merasakan ketidakadilan, wah kenapa ya kok kelihatannya memori yang ini justru yang paling banyak dan kadang masih menimbulkan rasa sakit hati ketika mengingatnya?

Kalau kita membuka album lama kita, saat kita melihat-lihat foto saat kita masih kecil, kadang tetap aja tidak ada memori yang mendalam tentang peristiwa tersebut. Mungkin karena kita tidak terlalu terkesan jadi memori di otak kita enggak mau repot-repot merekamnya. Tapi kalau ditanya tentang sesuatu hal yang menyakitkan yang membuat kita terluka batin, meskipun peristiwa tersebut sudah terjadi lama berselang, kita masih dapat menceritakannya dengan cukup detail, dan kita masih terbawa emosi ketika menceritakannya, entah itu marah atau sedih. Coba ingat-ingat tentang memori masa kecil Anda yang paling membekas....

Ketika SMP saya ditanya oleh mama teman saya, apakah saya pernah dipukul, entah mengapa saat itu saya langsung menjawab dengan emosi, pernah! Saat menceritakan peristiwa itu saya juga hampir menangis karena masih merasa sakit hati. Sampai saat ini pun saya masih bisa membayangkan peristiwa itu dengan cukup detail. Umur saya ketika itu 4,5 tahun. Adik saya masih bayi. Malam itu saya habis bertengkar dengan kakak di ruang tamu, peristiwanya apa saya sudah tidak ingat sama sekali (mungkin karena dianggap enggak penting oleh memori saya, karena bukan ini yang jadi masalah utama). Karena saya merasa kakak saya nakal, seperti umumnya anak kecil, mencari perlindungan pada mama. Saat itu mama sedang di kamar, menidurkan adik saya yang masih bayi. Mama duduk di kursi, lagi menepuk-tepuk, sedang menidurkan adik saya yang sedang tidur di box bayi. Saya lari dari ruang tamu masuk ke kamar, mengadu kalau kakak saya nakal. Tapi mama sama sekali enggak menanggapi cerita saya. Malahan mama membentak saya supaya diam. Bukannya diam saya malahan menangis. Entah kenapa mama saat itu kok begitu enggak sabaran, mungkin kesal karena adik saya yang sudah hampir tertidur, terbangun oleh rengekan saya. Saking kesalnya mama langsung mengambil kemucing yang digantung di tembok, lalu memukulkan kemucing itu pada pantat saya. Tentu saja saya menangis makin keras. Saya begitu sedih, merasa tidak dicintai lagi. Mama yang saya harapkan melindungi dan membantu mengatasi permasalahan saya malahan memukul saya. Saat itu saya sungguh tidak mengerti apa salah saya , yang nakal itu kakak, saya datang ke sini mau minta tolong, kenapa mama malahan memukul saya? Selanjutnya apa yang terjadi saya sudah tidak ingat lagi, memorinya putus sampai di situ.

Dari peristiwa tersebut dan dari membaca buku 'Ibu, Dengarkan Aku!' saya baru tersadar bahwa perlakuan kita yang dirasa tidak adil pada anak kita dapat terbawa sampai mereka dewasa, memori yang membuat kita terluka batin justru sangat membekas. Meski hanya sepotong memori tapi dampaknya cukup besar pada perkembangan pribadi kita.

Kalau Anda memiliki anak yang selisih usianya cukup jauh, hati-hati dalam memperlakukan mereka. Perbedaan perlakukan sebelum punya adik dan sesudahnya sudah dimengerti oleh mereka. Seperti saat saya dipukul mama dulu, saya merasa dulu waktu belum punya adik kalau kakak nakal mama selalu membela saya, tapi sekarang...? Bila tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat memicu pada rasa iri hati yang tidak sehat dan perkembangan pribadi yang tidak maksimal, seperti merasa tidak dicintai lagi, rasa rendah diri, merasa diri tidak berharga, dsb. Atau kadang memunculkan pemberontakan, mencari pelampiasan pada anak kecil lainnya, menjadi nakal enggak ketulungan, dsb.

Kalau saya tanya mama saya, beliau sudah sama sekali tidak ingat akan peristiwa tersebut. Tapi bagi saya peristiwa tersebut membuat batin saya sangat terluka. Terlebih dalam perkembangan selanjutnya adik saya cukup nakal dan sering secara tiba-tiba memukul saya. Melihat kenakalan adik saya, paling papa menyuruh adik saya minta maaf. Sekarang minta maaf, besok diulangi lagi, begitu yang terjadi terus-menerus. Kalau adik saya sudah minta maaf, saya disuruh berhenti menangis, tapi adik saya nakalnya enggak berhenti tuh, tetap aja besoknya saya dipukul lagi...

Untuk memori masa bahagia saya hanya dapat menggambarkannya dalam sepotong atau beberapa kalimat, itu pun enggak terlalu fokus dan tidak bisa terlalu detail. Misal peristiwa ulang tahun di sekolah, saya pakai baju baru (enggak ingat warnanya apa, modelnya seperti apa, kalau ingat pun karena pernah melihat fotonya), di sekolah dikasih mahkota sama Bu Guru, teman-teman menyanyi lalu selamat ulang tahun, terus bagi-bagi kue. Sudah selesai. Ceritanya datar banget, enggak ada luapan emosi. Sedikit ngarang juga, soalnya enggak sungguh-sungguh terekam. Lain halnya dengan peristiwa yang membuat batin kita terluka. Saat menceritakannya rasa sedih itu masih ada, saya masih terbawa emosi, tidak peduli meski peristiwa itu sudah terjadi cukup lama.

Hal ini kelihatannya juga akan terjadi pada anak kita. Setiap perlakuan kita yang tidak adil, yang menimbulkan luka batin, yang membuatnya ketakutan, akan membekas dan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Saya sudah merasakannya pada anak saya Steven. Masa kecil dia yang begitu susah diatur membuat saya harus membentak dan menakut-nakutinya agar dia mau menurut. Rupanya tak jarang saya sudah keterlaluan dalam bertindak.

Baru-baru ini saat memanaskan mobil, Steven memainkan kaca jendela. Secara tiba-tiba dia berteriak dan mau menangis, dia bilang takut, ingat cerita mama dulu. Saya kaget dan heran, cerita yang mana? Itu yang kata mama kalau enggak hati-hati kepalanya bisa putus. Aku takut kepala Kevin putus. Saya makin bingung, apa sih Steven? Terus dia bilang dia habis mbuka kaca jendela, takut kalau kepala Kevin nyantol di sana terus putus. Ya ampun... Saya kemudian teringat peristiwa itu, yang membuat saya menengurnya dengan keras.

Peristiwanya memang mirip. Waktu itu kami juga sedang memanaskan mobil, terus Steven memainkan tombol untuk menaik-turunkan jendela. Kebetulan saat itu Kevin sedang mengeluarkan kepalanya keluar jendela. Tentu saja saya segera menengur Steven, saya beritahu, hati-hati, jangan memainkan tombol itu, apa kamu enggak lihat kalau kepala Kevin sedang keluar. Nanti kalau jendelanya menutup dan kepala Kevin kejepit gimana? Mungkin saat itu Steven langsung membayangkan di memorinya kalau kepala Kevin terjepit jendela dan putus. Memori tersebut begitu membekas sampai-sampai ketika mengalami peristiwa serupa tahu-tahu dia teringat dan menjadi histeris.

Berkaca dari pengalaman masa kecil kita dan tindakan salah kita yang berefek buruk pada anak, maukah kita belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri? Mari kita bantu anak kita mengobati luka-luka batinnya dan kita buat banyak kenangan indah tentang masa kecilnya. Ternyata menjadi orang tua yang baik dan bijaksana itu enggak gampang ya...

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online