Saturday, 22 November 2008

Di Balik Anak yang Sukses, Ada Orangtua yang Hebat

Memiliki anak-anak menjadi dambaan bagi sebagian besar orang tua. Terlebih bila anak itu terlahir normal, tumbuh menjadi anak yang sehat, cantik / tampan, cerdas, pintar, penuh percaya diri, juara, dan hal-hal positif lainnya. Siapa ya yang bangga? Pasti deh kedua orang tuanya, eh biasanya kakek neneknya enggak kalah juga lho bangganya.

Sebaliknya saat anak menghadapi masalah, kita sebagai orang tua juga ikut pusing. Terlebih bila permasalahan yang terjadi berlarut-larut. Biasanya orang tua ikut terbawa emosi, jadi sering marah-marah melulu. Pernahkah Anda merasakan hal seperti itu?

Kenapa kita merasa seperti itu? Karena sebagian besar orang merasa kalau anak sukses, orang tua juga kecipratan dapat nama baik khan. Sebaliknya kalau anak bermasalah, terus orang tua dipanggil ke sekolah, aduh malunya, kita sebagai orang tua ikut juga merasakan kegagalan itu.

Nah benernya apa sih yang harus kita lakukan bila kita ingin anak kita sukses, berprestasi, percaya diri, dan sikap positif lainnya? Kita sebagai orang tua harus dapat membangkitkan semangat dan citra diri positif anak kita. Peran orang tua pada perkembangan kepribadian anak memang sangat besar. Memang benar di balik anak yang sukses biasanya ada orang tua yang hebat. Orang tua yang perhatian, yang memberi support, kata-kata positif, efeknya sangat besar pada kepribadian anak.

Kalau orang tua mencintai anak dengan tulus, maka anak akan merasa dihargai, berbahagia, dan akan bersikap baik pula. Memang ada orang tua yang tidak mencintai anak dengan tulus? Ehm coba renungkan pernahkah Anda berkata kepada anak Anda kata-kata seperti ini:
- Kalau kamu ingin disayang mama, makanya jadi anak yang pinter, jangan nakal.
- Enggak, kamu nakal, mama enggak mau sama kamu. Sudah mama mau sama adik saja.
- Ayo teruskan bertengkar, mama kirim kalian ke panti asuhan. Ayo ringkas pakaianmu, mama antar kalian ke panti asuhan, biar kapok, di sana.....
- Kalau kamu enggak berhenti nangis teriak-teriak seperti itu, mama kurung di gudang lho ya.
- Sudah, mama capek. Kamu gak bisa diatur. Sudah kamu dikasih ke ..... (tukang rombeng, kakek / nenek, tukang becak, dsb) aja.
dsb
Hiii kelihatannya kalimatnya serem ya. Masa sih ada orang tua yang bersikap seperti itu pada anak-anaknya? Survey kecil-kecilan, maksudnya dari cerita-cerita para ibu yang lagi berkeluh-kesah di sekolah, membuktikan banyak juga lho dan cukup sering kalimat-kalimat serupa itu terlontar kalau orang tua lagi kesal. Termasuk saya sendiri juga kok ....

Apakah kami, kaum ibu memang sungguh-sungguh dengan kalimat itu? Oh tentu saja enggak. Kami sayang banget dengan anak-anak kami. Tapi kadang capek banget, kesal kalau mereka tidak bisa diatur. Itu khan hanya kalimat ancaman aja. Biasanya manjur tuh. Setelah itu mereka akan menangis dan berjanji tidak nakal lagi. Mereka akan berkata aku sayang mama, jangan dikasih ke orang, dsb. Setelah itu keadaan akan membaik kok. Ehm benarkah demikian?

Ternyata kalimat-kalimat yang biasa kita ucapkan saat kita marah, emosi tersebut berdampak sangat besar lho pada perkembangan anak-anak kita. Coba lihat lagi kalimat-kalimat tersebut. Apa efeknya pada anak kita? Apa makna yang tersirat dari kata-kata di atas?

Pada sebagian besar kalimat itu menyiratkan kalau kita tidak mencintai anak dengan sepenuh hati, cinta kita tidak tulus. Saat anak mengalami masalah, kita tidak mau repot-repot mencari sumber permasalahan dan mencarikan jalan keluar. Kita lebih memilih ancaman agar anak takut, kemudian menurut pada kita. Apakah hal ini efektif? Biasanya sih iya untuk saat itu. Karena merasa cara tersebut berhasil makanya diulang lagi khan. Kalau kurang mempan ya ancamannya yang ditambah. Ehm orang tua merasa menang, bisa mengendalikan anaknya.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi pada diri si anak. Kenapa mereka mau menurut? Ya karena mereka takut. Anak mana yang mau dikurung di gudang yang gelap, yang katanya ada tikusnya? Siapa yang mau dikasih ke panti asuhan yang katanya ......, siapa yang mau dikasih ke tukang rombeng, tukang becak, dsb. Ya mending berhenti nangis deh daripada mama lebih marah lagi, dan ancaman yang lebih hebat keluar dari mulut mama. Tapi, apakah anak kita merasa puas? Apakah problem mereka terselesaikan? Hah? Memang problem mereka apa? Tuh khan kita malah enggak tahu ada apa sih di balik rengekan, pertengkaran, dan kerewelan mereka itu....

Dengan ancaman tersebut memang anak kita menjadi diam, tapi diamnya terpaksa. Dalam hati sebenarnya sangat tidak puas. Harga diri mereka terkoyak, merasa tidak dicintai atau dicintai dengan syarat tertentu, batin mereka akan terluka. Efek ini bila tidak terselesaikan akan terbawa sampai mereka dewasa. Mereka akan tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri, peragu, pemalu, rendah diri, merasa serba salah, tidak bisa mengambil keputusan, penakut, dsb tergantung seberapa parah luka batin yang terjadi.

Aduh, terus apa nih yang perlu kita lakukan sebagai orang tua? Ya tentunya setelah tahu dampaknya yang sedemikian besar kita perlu melakukan instropeksi deh. Benarkah cara didik kita selama ini sudah benar? Apakah sikap anak kita sudah positif? Apakah mereka juara dengan motivasi yang benar atau karena takut tidak dicintai? Coba deh kita dekati anak-anak kita, ajak bicara dari hati ke hati. Buat mereka merasa nyaman, dicintai dengan sepenuh hati. Mari kita selesaikan permasalahan yang ada, mumpung bom waktu itu belum meledak. Hypnosis mereka dengan kata-kata yang positif. Kita tentunya ingin menjadi orang tua yang hebat dan memiliki anak yang sukses khan. Yuk kita berjuang untuk hal itu...terlebih saat anak kita masih kecil, saat kesalahan-kesalahan kita masih bisa diperbaiki.

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online