Tuesday, 18 November 2008

Tips Agar Anak Tidak Peragu

Hari ini saya membaca Newsletter Hypnoparenting edisi 02 yang berjudul "Anak-anak yang Bingung". Isinya sangat menyentuh karena saya pernah bahkan sering mengalami hal ini. Kelihatannya anak saya, terutama Steven, tumbuh menjadi anak yang peragu juga. Betapa gembiranya saya, bisa mendapatkan newsletter ini, gratis lagi. Beruntung banget deh ternyata keraguan dan kebingungan ini ada teorinya. Terima kasih Pak Ariesandi dan Pak Sukarto atas ilmu ini.

Hari ini mata saya baru terbuka, ternyata hal-hal yang diucapkan orang tua kepada anak, terutama jika perbuatan dan perkataan itu sering diulang maka pikiran bawah sadar anak akan menangkapnya dan menyimpannya sebagai fakta kebenaran. Apapun faktanya, positif ataupun negatif, akan dianggap sebagai kebenaran dan diwujudkan dalam realita fisik si anak. Ini yang disebut hypnosis.

Seringkali, entah disadari atau tidak, kita telah menghypsosis anak-anak dengan perkataan dan perbuatan kita. Cara komunikasi dengan anak yang salah, yang bila sering dilakukan akan mengakibatkan anak tumbuh dengan perasaan ragu-ragu dan takut melakukan kesalahan.

Berikut ini adalah contoh kata-kata yang sering orang tua ucapkan dan membingungkan bagi anak:
1. Saat anak kita berebut mainan, kita tidak tahu duduk persoalan sebenarnya, tapi langsung saja dari jauh mengomentari, Ayo teruskan, ganggu adikmu terus. Nanti mama hukum kamu kalau terus mengganggu adikmu. Khan adikmu masih kecil, kamu yang lebih tua ngalah dong!
Pernahkah Anda bersikap seperti itu? Yuk kita telaah mengapa kata-kata ini membuat bingung anak:
a.1. Ayo teruskan ya...ganggu adikmu terus...
a.2. Nanti Mama hukum kamu kalau terus ganggu adikmu.
Lihat kedua kalimat ini sangat kontradiktif. Katanya disuruh meneruskan, tapi kok malah dihukum? Bagi anak kecil kalimat ini membuatnya bingung dan dapat mengakibatkan dia tumbuh menjadi anak peragu.

b.1. Khan adikmu masih kecil
b.2. Kamu yang lebih tua ngalah dong
Selamanya adik selalu lebih kecil dari kakak, berarti kakak harus ngalah terus dengan adik? Tidak peduli kalau adiknya yang nakal? Kenapa adik tidak dihukum kalau nakal? Kenapa kakak terus yang dimarahi?

2. Saat anak melakukan sesuatu yang buruk, misal nilai ulangan jelek. Mama memarahi dan berkata bahwa mama dulunya tidak pernah mendapat nilai jelek seperti itu. Papanya yang mendengar tersinggung, merasa tersindir dan membela diri, terus ikut berkomentar bahwa papa dulu juga selalu juara.
Nah si anak yang mendengar pertengkaran tersebut menjadi bingung, kemudian berpikir Mama pintar, Papa juga pintar, berarti aku anak siapa ya? Kenapa aku sendiri yang bodoh? Kok gara-gara nilaiku papa dan mama jadi bertengkar sih? Apa salahku? dsb.

Sikap kita sebagai orang tua yang seperti itu, bila dilakukan berulang-ulang, akan menjadikan anak kita:
1. Selalu / seringkali bersikap penuh keraguan dalam bertindak
2. Takut dikritik, perfeksionis, tidak berani mengambil keputusan
3. Saat besar nanti menjadi kurang berinisiatif dan tergantung pada orang lain.

Terus apa nih yang harus kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan itu? Berikut ini tips dari Hypnoparenting agar anak-anak kita tumbuh dengan baik, tidak bingung dan peragu lagi:

1. Katakan apa yang Anda inginkan terjadi, jangan membuat anak mencari-cari sendiri makna dari ucapan atau tindakan Anda. Janganlah terlalu suka memelototi anak dan berharap mereka
akan mengerti apa maksud Anda, mereka akan mencari makna dan akhirnya tumbuh dengan sikap penuh keraguan dan takut berbuat salah. Jika Anda ingin dia menghentikan tindakannya langsung katakan, "Sudah cukup. Hentikan sekarang. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"

2. Akui dan hargailah perasaan mereka.
"Kamu lagi jengkel ya, sedih ya, atau kecewa? Kamu jengkel karena ...... (mainanmu direbut oleh adik ya, atau Mama/Papa membentak kamu ya, atau apapun penyebabnya). Yaa .... Mama/Papa mengerti dan bisa merasakan hal itu. Mama/Papa sendiri juga akan jengkel atau marah jika diperlakukan seperti itu. Menurut kamu apa yang bisa dilakukan agar perasaan jengkelmu hilang? Apa kamu mau minum dulu? Atau melakukan .....

3. Bersikaplah konsisten. Tindakan dan ucapan kita harus selaras.
Selain itu kita sebagai pasangan juga harus konsisten dan sepakat dengan berbagai aturan. Jangan sampai kita mengijinkan hal tertentu tetapi pasangan kita mengijinkannya atau sebaliknya. Jika hal itu sering terjadi maka si anak juga akan mencari sendiri kebenaran makna dari ucapan atau tindakan itu.

Hm suatu nasehat yang bijaksana. Pak Ariesandi dan Pak Sukarto juga mengingatkan karena kita sebagai orang tua senantiasa menghypnosis anak kita, pastikan kita menghypnosis mereka dengan hal-hal yang benar. Orang tua yang melakukan suatu hypnosis positif pada anak-anaknya, akan membawa mereka menuju kesuksesan saat anak-anak itu tumbuh dewasa.

Jika Anda merasa artikel ini bagus dan berguna bagi Anda, daftarkan nama dan alamat email Anda pada Sekolah Orangtua. Anda akan mendapatkan ebook dan newsletter gratis mengenai tips mendidik dan mengasuh anak. Topik newsletter berikutnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan. Hm menarik banget tuh, saya tidak sabar ingin membaca newsletter berikutnya. Bagaimana dengan Anda? Masihkan Anda ragu?

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online