Saturday, 28 November 2009

Cerita Seputar Ibu Hamil dan Dunia Ibu

Tanggal 15 November lalu telah lahir dengan selamat keponakan kami. Enggak nyangka lahirnya lebih cepat 2 minggu dari perkiraan dokter, sudah githu bayinya gedhe lagi, beratnya 3,5 kg , panjangnya 51 cm, jenis kelamin laki-laki. Syukurlah bisa lahir dengan normal. Padahal mamanya naik berat badannya enggak terlalu banyak lho, cuman 12 kg.

Saat berkunjung ke rumah sakit melihat si bayi, kami saling bertukar cerita tentang kehamilan, tanda-tanda bayi mau lahir, proses persalinan, perkembangan bayi, siapa dokter anaknya, dsb. Jadi teringat deh pengalaman saat hamil dan melahirkan dulu.

Waktu kehamilan anak pertama dulu, rasanya senang, surprise, tapi bingung juga. Ada mahluk mungil yang mulai berkembang di rahim. Apa yang harus dilakukan? Apa berarti kita harus makan lebih banyak? Apa pantangan bagi ibu hamil, perkembangan apa saja yang terjadi pada tiap trimester kehamilan, gimana caranya memperoleh anak yang cerdas dan sehat, apa ibu hamil harus minum susu ibu hamil, kenapa ada yang rasanya enggak enak, dsb. Rasanya haus banget informasi. Ada perasaan takut juga kalau berbuat salah terus terjadi hal yang tidak diinginkan pada jabang bayi.

Saat itu di rumah belum langganan internet. Jadi enggak kepikiran kalau kita bisa cari info ke Google, tinggal ketik pertanyaan yang mau kita tanyakan, klik search muncul deh banyak situs yang bisa memberi tahu jawabannya.

Saat anak pertama saya lahir dan ternyata kena kolik dan alergi, saya kesulitan menemukan buku yang mengulas pengalaman pribadi orang dalam mengatasi permasalahan tersebut, baru saya teringat pada internet. Ternyata di internet banyak banget orang yang mau berbagi cerita di blog mereka, ada pula forum dan situs yang khusus mengulas permasalahan tertentu. Jadi kita bisa menemukan jawaban dari permasalahan yang kita hadapi dari banyak sumber.

Salah satu situs yang saya ingat banyak membantu dalam menjawab permasalahan anak saya adalah www.dunia-ibu.org. Saat ini saya lihat situs tersebut lebih kaya info. Artikel tentang kehamilan, nama bayi, kecantikan, kesehatan, resep masakan, dsb. Kita bisa sekedar membaca artikel, pengalaman orang lain, maupun berperan aktif bertanya langsung melalui forum.

Saat kehamilan anak kedua, saya merasa lebih siap. Tapi...karena kehamilan tersebut tidak direncanakan sebelumnya, sempat kaget juga saat tahu hamil. Apalagi kehamilan tersebut terjadi saat anak pertama masih berusia 10 bulan. Ditambah lagi kondisi kesehatan saya saat itu kurang fit, sempat kena flu berat di trimester awal kehamilan.

Tapi untunglah berkat pengalaman sebelumnya dan belajar dari pengalaman orang lain, saya tidak lagi panik dalam mencari info. Saat ini saat mencari berbagai jawaban atas berbagai pertanyaan, internet menjadi teman terbaik saya.

Beberapa hari lagi keponakan saya yang lain menunggu giliran lahir ke dunia. Perkiraan dokter laki-laki. Hm enggak sabar rasanya pingin ngeliat. Kurang berapa hari lagi ya....Semoga proses persalinannya berjalan lancar.

Read More......

Tuesday, 7 April 2009

Ampuhnya Dokter Langganan

Pernahkah Anda mengalami anak Anda yang terlihat sakit parah langsung sembuh saat di tempat praktek dokter langganan? Saya berkali-kali mengalaminya saat Steven sakit. Di rumah Steven terlihat sakit parah dan mengkuatirkan, eh begitu di ruang tunggu dokter langganannya, dia terlihat sudah setengah sembuh. Sehabis diperiksa dokter sebagian besar penyakitnya sudah hilang. Ajaib ya, ampuh banget tangan dingin dokter langganan...

Kemarin pagi saat bangun tidur Steven langsung muntah. Isi muntahannya nasi bercampur bumbu sate dan milo. Selain itu Steven juga mencret, badannya lemas. Malamnya menjelang tidur dia kembali muntah. Tidurnya pun tak tenang, berkali-kali mimpi buruk dan mengigau.

Pagi ini saat Steven bangun, dia terlihat lemas. Keluar kamar langsung tiduran di sofa. Sepanjang hari dia hanya rebahan, kadang tertidur. Katanya kepalanya pusing. Berkali-kali dia bertanya, kapan ke dokter, kenapa lama sekali.

Saya tanya ke Steven, kalau ke dokter Steven langsung sembuh seperti waktu sakit dulu itu? Iya kata Steven, soalnya dokternya hebat bisa sulap. Bisa langsung nyembuhin. Saya cuman geleng-geleng kepala. Memang sih dokter tersebut merupakan dokter langganan Steven sejak bayi dan tangan dingin dokter sudah berkali-kali membuat Steven sembuh bahkan sebelum minum obatnya.

Pukul 4 sore badan Steven panas. Akhirnya malam ini Steven kami bawa ke dokter langganan. Untung tadi pagi saya sudah daftar. Saat berjalan menuju mobil, Steven masih terlihat lemas tapi sudah lebih ceria. Di mobil, cerewetnya sudah kembali. Dia mengajak main tebak-tebakan, air mukanya terlihat ceria. Papanya menggoda, "Lho Steven sudah sembuh ya, langsung pulang aja ya, enggak jadi ke dokter." Steven protes dan berkata kalau dia mau ke dokter, masih sakit dikit katanya.

Di ruang tunggu dokter, Steven sudah terlihat begitu ceria, bisa jalan-jalan, dan begitu tak sabarnya menunggu giliran. Saat di ruang praktek dokter, begitu melihat dokter langganannya dia sudah seperti orang sehat. Hih gemes deh, senang sih melihat anak sehat kembali, tapi kenapa pakai acara kangen dokter segala...

Seandainya tadi Steven tidak saya bawa ke dokter, kayaknya belum tentu dia bakal ceria dan langsung sembuh seperti ini. Dokter tertawa waktu saya cerita saat Steven sakit sekitar hampir 2 bulan lalu besoknya langsung sembuh, sehat bisa sekolah padahal belum sempat nebus obat. Steven, jangan sering-sering ya kangen dokternya...

Read More......

Tuesday, 31 March 2009

Dilema Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir

Setelah memiliki anak, seringkali wanita yang biasanya bekerja mengalami dilema, tetap meneruskan karir yang telah dibangunnya atau menjadi ibu rumah tangga untuk merawat anak. Ada yang memilih tetap melanjutkan karir tapi sebenarnya hati dan pikiran banyak tersita di rumah, terlebih saat anak sakit. Sedangkan mereka yang memilih meninggalkan karir demi merawat anak merasa kehilangan sesuatu juga, bukan hanya uang tapi juga kebanggaan diri.

Saat wanita berkarir, memiliki penghasilan sendiri, wanita akan lebih dihargai suaminya karena bisa membantu menopang keuangan, terlebih di masa krisis dimana gaji naiknya cuman sedikit sedangkan kebutuhan hidup naiknya banyak sekali. Tapi...sebagian besar wanita karir memiliki rasa bersalah juga karena sebagian besar waktunya terbuang di luar rumah. Tak jarang dia berangkat saat anaknya belum bangun dan pulang saat anaknya sudah tidur. Hati ibu mana yang tidak merasa nelangsa, didera perasaan bersalah. Seandainya saja ada perkerjaan sampingan yang hasilnya lumayan yang bisa dikerjakan dari rumah, di sela-sela waktu mengurus anak...

Bagi ibu rumah tangga, murni menggantungkan diri dari penghasilan suami seringkali dirasa tidak memuaskan. Apalagi saat anak sudah sekolah, banyak sekali pengeluaran tak terduga seperti teman ulang tahun (harus beli kado), uang foto saat ada kegiatan di sekolah, uang jajan, dsb. Kalau yang dapat suami royal dan kaya sih mungkin enggak masalah, nah kalau suami perhitungan dan ngasih uang belanja pas-pasan, bisa pusing tujuh keliling tuh. Untuk biaya hidup sampai akhir bulan saja pas-pasan, darimana duit untuk beli kado, uang kegiatan, dsb.

Pernahkah Anda mengalami hal seperti itu? Atau saat ini hal tersebut yang Anda rasakan? Perasaan frustasi saat usaha suami bangkrut, saat biaya hidup meningkat tapi gaji naiknya sedikit sekali, dsb. Coba simak pengalaman teman saya berikut ini, semoga bisa menjadi ispirasi bagi kita.

Saya memiliki seorang teman. Beberapa tahun lalu usaha suaminya bangkrut saat sang suami menderita sakit yang cukup parah. Sebagai Ibu rumah tangga, teman saya tentu bingung. Dia harus berbuat sesuatu menggantikan peran menjadi pencari nafkah untuk menyambung hidup, biaya pengobatan suami, dan biaya sekolah anak. Dengan keterbatasan sisa uang yang dimilikinya dia memutar otak, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Kalau teman saya tadi memilih melamar kerja saat suami sakit tentunya susah sekali bukan. Suami sakit butuh didampingi, butuh diantar ke dokter, butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit. Kalau melamar kerja berapa waktu yang dibutuhkan sampai kita positif diterima? Perusahaan mana yang mau karyawannya sering membolos meskipun alasannya mengantarkan suami ke dokter? Kayaknya alternatif ini enggak bisa deh.

Teman saya terus berpikir, uangnya yang tersisa semakin menipis sedangkan biaya pengobatan terus keluar. Dia sayang suaminya dan tentu sangat mengharapkan suaminya sembuh. Dia harus bisa fleksibel dalam mengatur waktu, mengantar anak ke sekolah, merawat suami yang sedang sakit, sekaligus mencari tambahan penghasilan.

Akhirnya teman saya tersebut mendapat ide. Di dekat rumahnya ada pasar. Harga barang di pasar itu lumayan murah. Dia bisa kulakan barang di pasar dan menjualnya di sekolah anaknya. Dijalankannya ide tersebut. Saat itu musim duku, dia beli 1 kilo duku, dipilihnya yang manis dan kualitasnya bagus. Dibawanya ke sekolah, kemudian dibagikannya ke ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya. Masing-masing mendapat 2 buah duku. Ibu-ibu tersebut heran dan bertanya, "Apa ini?" Dia menjawab," Sudah dicoba aja dulu, gimana rasanya, enak enggak?" Ada ibu yang bertanya,"Kamu jualan tha?" Teman saya menjawab,"Iya, kamu mau pesan tha, minimal 2 kilo ya, soalnya kalau 1 kilo cuman sedikit lho..."

Karena memang duku yang dibawa teman saya tersebut enak dan mungkin ingin menolong teman (karena tahu kondisi teman saya tersebut), banyak ibu yang mau beli duku, bahkan ada yang langsung pesan 10 kilo. Teman saya mencatat semua pesanan yang masuk.

Keesokan harinya, dengan naik angkot dia bawa pesanan duku tersebut. Karena sudah tertarget, semua duku pesanan tersebut laris manis. Teman saya mendapat uang untuk modal kulakan berikutnya dengan untung Rp 1000/kg. Teman saya berpikir, kalau dia setiap hari jualan duku, enggak mungkin teman-temannya mau beli duku tiap hari. Barang apa ya yang jadi kebutuhan ibu-ibu? Jadinya dia melakukan survey dan setiap hari mendata temannya yang pesan bawang merah, bawang putih, jagung manis, rebung, dsb. Dia selalu membeli barang sesuai pesanan dan barang dagangannya selalu habis.Keuntungan dari berjualan tersebut lumayan juga. Bisa dibuat menyambung hidup dan membantu biaya pengobatan suaminya.

Suatu hari ada teman yang memberitahu produk alami dari lebah yang dapat membantu penyembuhan berbagai penyakit. Produk tersebut Melia Propolis yang merupakan antibiotik alami, anti bakteri, anti virus, dan anti jamur alami. Jadi propolis bisa membantu menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan bakteri seperti thypus, diare / muntaber. Penyakit yang berhubungan dengan virus seperti demam berdarah, flu, TBC, dsb. Penyakit yang berhubungan dengan jamur seperti eksim, panu, keputihan, ketombe, dsb. Selain itu propolis berfungsi sebagai anti peradangan, anti kanker, detoksifikasi, penetral racun, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dsb.

Teman saya berpikir tak ada salahnya mencobakan Melia Propolis tersebut ke suaminya karena produk ini alami. Apalagi di kitab suci tertulis: keluar dari perut lebah minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. Hati teman saya menjadi yakin kalau propolis yang merupakan campuran zat yang disekresi dari kelenjar air liur lebah bisa mendatangkan kesembuhan bagi suaminya.

Ternyata benar, suaminya berangsur-angsur sembuh. Saat teman saya menceritakan kabar gembira tersebut, banyak temannya yang menjadi tertarik, ingin membeli Melia Propolis. Teman saya berpikir, dia jual jagung manis per kilo untung Rp 1000, dalam 1 hari laku 25 kilo, untungnya hanya Rp 25000. Padahal untuk itu dia harus naik angkot untuk kulakan, menimbangnya per 2 kilo, mengemasnya. Besok pagi-pagi naik angkot lagi mengantarkan pesanan ke sekolah. saat berjualan propolis, untuk 1 botol berukuran 6 ml harga distributornya Rp 80.000, dijual dengan harga Rp 100.000. Keuntungan bersih sudah terlihat di depan mata Rp 20000/botol. Usaha yang dilakukan jauh lebih ringan tapi hasilnya jauh lebih besar.

Karena propolis yang dijual berdasarkan kesaksian nyata kesembuhan suaminya itu laku keras,
banyak yang melakukan pembelian ulang. Saat ada temannya yang tertarik menjadi anggota , keesokan paginya dia heran kok ada sms di handphonenya dari PT Melia Nature, memberi ucapan selamat karena dia memperoleh bonus. Mulanya teman saya tidak percaya, disangka sms penipuan. Tapi beberapa waktu kemudian saat dia memeriksa rekening tabungan yang dipakai saat pendaftaran menjadi member, teman saya melihat kalau ternyata bonus itu benar-benar ada. Secara periodik (dalam hitungan hari) dia mendapat bonus. Karena penasaran, dia pelajari sistemnya. Ternyata memang benar sistem bonus di Melia Nature harian.

Tuhan membukakan jalan bagi teman saya tersebut. Karena kegigihannya, sikapnya yang tegar, kesetiaannya pada suami, Tuhan membantu kesembuhan suaminya melalui propolis. Selain itu, dibukakan juga jalan karir di PT Melia Nature. Saat ini teman saya tersebut sudah menjadi leader. Selain bonus sponsoring, bonus pengembangan jaringan tak kalah banyaknya., selian itu masih ada bonus unilevel, dsb. Dari penghasilannya selama sekitar 2 tahun
sebagai distributor Melia Nature, dia berhasil membeli tanah, sepeda motor, dan barusan awal tahun 2009 ini mencicil mobil Panther.

Perjuangan hidupnya berjualan dan kulakan naik ongkot sudah menjadi kenangan. Saat ini teman saya ketika mengantar anaknya ke sekolah menyetir mobil sendiri, berkat training dan seminar yang diikutinya, orang memandang kagum padanya. Banyak orang yang ingin belajar menjadi sukses seperti dirinya (termasuk saya nih).

Dari cerita teman saya tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Lihat di saat teman saya jatuh, usaha bangkrut, suami sakit, dia tidak putus asa. Dia siap mengambil alih tanggung jawab. Lihat perjuangannya naik turun angkot kulakan barang, tanpa malu dia tawarkan ke sekolah. Strateginya agar barang laku setiap hari juga patut diacungi jempol.

Nah para ibu rumah tangga yang sedang menghadapi dilema, ayo kita belajar dari contoh teman saya tersebut. Kita harus bisa berusaha mencari jalan keluar dari setiap permasalahan. Saat gaji suami hanya naik dikit, saat usahanya bangkrut, saat suami sakit, kita jangan merongrongnya terus tapi kita harus berusaha bangkit berjuang mengatasi permasalahan yang ada. Alangkah bahagianya para ibu bila dapat menyeimbangkan antara karir dengan profesi sebagai ibu rumah tangga. Semoga cerita di atas dapat menjadi motivasi dan inspirasi Anda.



Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak teman saya bergabung sebagai member Melia Nature, silakan pelajari sistemnya dan keuntungannya. Kami support Anda menuju sukses.

Read More......

Friday, 20 March 2009

Andai Aku Seperti Adik (Ibu Dengarkan Aku)

Melanjutkan artikel Daftar Isi Ibu Dengarkan Aku, kali ini saya lanjutkan cerita ke 3 Andai Aku Seperti Adik. Apakah Anda memiliki 2 orang anak yang tidak bisa akur? Kakak iri pada adiknya? Bisa jadi hal tersebut timbul karena perbedaan perlakuan yang kita terapkan sehingga mereka saling merasa hal tersebut tidak adil dan menimbulkan rasa iri hati. Coba simak cerita berikut ini:

Alex yang berusia 5,5 tahun memiliki adik bernama Andy (3 tahun). Sebelumnya karena perlakuan ibu terhadap mereka sama, Alex tidak pernah merasa iri pada Andy, bahkan mereka saling menyayangi.

Namun saat mereka pindah ke rumah nenek karena ibu mereka mendapat tugas belajar tak jauh dari kampung nenek, Alex merasa perlakuan semua orang berbeda. Alex merasa iri pada Andy yang lebih disayang oleh semua orang.

Setiap kali Alex dan Andy bermain kemudian Andy menangis, selalu Alex yang disalahkan. Alex merasa orang dewasa suka mengambil kesimpulan tanpa melihat faktanya. Akhirnya Alex berpikir salah atau benar, orang tetap menilai dirinya salah. Jadi untuk apa dia hanya diam, toh berbuat nakal atau tidak orang tetap menganggapnya nakal.

Suatu hari Alex dan Andy bermain di dekat kolam milik kakek. Saat melihat tanggul yang membelah kolam, Alex teringat pada lomba ketangkasan yang pernah dilihatnya di televisi. Alex bercerita pada Andy tentang keinginannya bermain lomba ketangkasan tersebut. Dengan semangat Andy mendahului berjalan menelusuri tanggul. Mereka berdua tertawa-tawa. Tiba-tiba Tante Lin melihat peristiwa tersebut dan berteriak.

Ibu dan nenek datang. Muka ibu terlihat pucat dan meminta mereka agar tetap diam. Tante Lin memanggil Om Willy, suaminya. Dengan sigap Om Willy membopong Alex dan Andy menuju ibu mereka.

Ibu langsung menangkap Alex dan membawanya ke rumah. Sambil menangis ibu memukuli pantat Alex sambil memaki,"Kamu jahat! Kamu ingin adikmu celaka ya?!" Alex menangis meraung-raung tapi tak seorang pun membelanya.

Setelah puas memukuli Alex, Ibu menangis dipeluk Tante Lin, sementara Nenek mengendong Andy, mengelus kepalanya dan mendekapnya. Alex merasa sangat iri pada Andy. Dia ingin diperlakukan seperti Andy.

Sambil memeluk Ibu, Tante Lin berkata pada Alex, "Mengapa sih kamu tidak bisa seperti adikmu? Coba kalau kamu bisa sebaik adikmu, pasti semua orang sayang sama kamu."

Seandainya berani, Alex ingin bertanya, "Mengapa mereka tidak memperlakukannya seperti Andy? Mengapa mereka lebih menyanyangi Andy?"

Alex merasa mereka semua tidak adil. Kesalahan Andy tidak pernah dinilai sebagai kesalahan, sedangkan perbuatan Alex meski itu sebagai balasan atas perbuatan Andy tetap dinilai sebagai kesalahan besar. Kenapa ibu mudah dipengaruhi orang lain sehingga mengubah perlakuannya?

Renungan:
Jika seorang pernah melakukan kesalahan, bukan berarti orang tersebut selalu melakukan kesalahan. Demikian pula tidak selamanya orang baik terhindar dari kesalahan. Ketika penilaian buruk tertuju pada anak kita, kita merasa seperti diadili. Tanpa kita sadari kita melampiaskan perasaan tertekan dengan menghukum anak kita. Kita berpikir dengan menghukum anak kita beban kita semakin ringan. Padahal justru sebaliknya, beban itu semakin berat bukan hanya bagi kita melainkan juga bagi anak kita.

Dari cerita di atas kita dapat belajar, kadangkala ada faktor lain yang membuat perlakuan kita menjadi tidak adil pada anak kita. Dulu si ibu tidak membedakan perlakuan pada kedua anaknya, maka kedua anaknya saling menyayangi tanpa rasa iri. Namun saat pindah ke rumah nenek, di mana banyak saudara yang lebih menyayangi Andy dan mengganggap Alex nakal, si Ibu menjadi tertekan dan terpengaruh, akhirnya bersikap tidak adil.

Seringkali kita menyuruh anak yang besar mengalah pada adiknya, namun bila dipikir lagi selamanya kakak lebih tua dari adik, apakah hal itu berarti kakak harus selalu mengalah pada adik? Perlakuan kita ini juga bisa memicu rasa iri hati.

Menjadi orang tua yang sempurna memang tidak mudah. Tapi setidaknya kita mau belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Read More......

Thursday, 12 March 2009

Daftar Isi Ibu Dengarkan Aku

Akhirnya hari ini buku "Ibu Dengarkan Aku" karangan Dra.V.Dwiyani sudah kembali ke rumah lagi setelah dipinjam teman sekian lamanya. Mumpung bukunya ada di depan saya, coba saya tuliskan daftar isi plus sekilas info ceritanya ya. Buku ini sangat berguna bagi para orangtua yang merasa kesulitan memahami jalan pikiran anak-anaknya, yang merasa kesal karena anaknya susah diatur, yang ining belajar cara mendidik anak dengan baik, dsb.

Cerita 1. Mengapa Aku Dihukum?
Menceritakan tentang seorang anak cowok kelas 1 SD yang mendapat hadiah sepeda. Dia sangat girang dan segera ingin memamerkan sepeda tersebut pada temannya. Tapi...karena kurang hati-hati sepeda tersebut hilang.

Seandainya Anda adalah orang tua dari anak yang menghilangkan sepeda tersebut, tindakan apa yang akan Anda ambil? Saya kira banyak orang tua yang menjawab anak tersebut patut dihukum, dengan alasan anak belajar tanggung jawab, agar anak tahu kalau dia salah, dsb. Hal tersebut juga yang dilakukan orang tua anak tersebut.

Papinya mengambil penggaris kayu, memukulkannya ke pantat anak tersebut berulang kali sambil berkata, "Dasar anak tidak tahu tanggung jawab". Si mami yang diharapkan bisa jadi dewi penolong eh malah tak kalah marahnya, sambil berteriak-teriak mengomel, menyeret anak tersebut ke dalam kamar mandi dan dikunci dari luar.

Pernahkah Anda berpikir dari sudut pandang anak Anda, apa yang dirasakannya ketika dia kehilangan sepeda tersebut? Seandainya dia berani bicara, dia ingin bertanya Mengapa papi dan mami menghukumku? Mengapa papi dan mami tidak memeluk dan menghiburku? Yang dibutuhkan anak tersebut dekapan, belaian, dan hiburan, tapi yang didapatkannya pukulan, kemarahan, dan hukuman.

Papi dan mami memang berhak marah karena sepeda tersebut hilang. Tapi sesungguhnya anak tersebut jauh lebih berduka. Sudah lama dia bermimpi ingin memiliki sepeda, bahkan uang tersebut sebagian berasal dari tabungannya. Kini anak tersebut telah kehilangan impian yang hanya sejenak menjadi kenyataan.

Dengan memarahinya seperti itu, yang terjadi luka batin pada diri anak. Si anak akan merasa dirinya tidak lebih berharga dari sebuah sepeda. Hubungan orang tua dan anak pun menjadi rusak. Seandainya orang tua tersebut berkata, "Sudahlah sayang, nanti kita nabung lagi untuk membeli sepeda, yang penting kamu selamat. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati dan lebih menjaga barang-barangmu." Kira-kira apa yang akan terjadi? Si anak akan sangat berterima kasih pada orang tuanya, merasa dirinya berharga dan dicintai dan belajar bertanggung jawab (dia sudah menghilangkan sepedanya, untuk memperoleh gantinya dia harus menabung lagi). Bagaimana, Anda setuju?

Renungan:
Ketika anak berbuat kesalahan yang menurut kita dia layak dihukum, pernahkah terlintas dalam benak Anda kalau mungkin saat itu mereka membutuhkan penghiburan Anda?

Cerita di atas pernah saya tulis di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku. Tapi karena saat itu saya menulisnya hanya berdasar memori, mohon maaf kalau ceritanya ada yang berbeda.

Cerita 2. Papa Tidak Kangen Aku!
Cerita bermula dari bunyi telepon yang berdering. Ternyata yang menelpon papa Cindy, anak cewek yang sedang belajar membaca. Mengetahui papanya menelpon, bukannya senang malah si anak menghindar, cepat-cepat masuk kamar dan tak mau keluar ketika dipanggil.

Si mama merasa kalau akhir-akhir ini Cindy sering menghindar saat papanya yang tugas di lapangan menelpon. Kalau Anda ingin tahu kenapa sikap si anak berubah, baca di artikel Bila anak tiba-tiba berubah .

Renungan:
Tanpa kita sadari kita sering membuat anak kita tidak lagi mempercayai kita. Ketika kita sadar mereka mulai menjauh, kita menjadi sakit hati dan tidak bisa menerima sikap mereka. Padahal mungkin kita pernah mengecewakan mereka sehingga anak bersikap seperti itu. Jika hal itu terjadi pada Anda, jangan tanyakan mengapa mereka melakukan itu, tapi tanyakan pada diri sendiri "Apa yang telah kuperbuat sehingga anakku menghindari aku, bahkan menolakku?"

Cerita 3: Andai Aku Seperti Adik....
Cerita 4: Enaknya Membolos!
Cerita 5: Salahkah Jika Aku Sayang Ibuku?
Cerita 6: Benarkah Mama Khawatir Kepadaku?
Cerita 7: Sakit Itu Nikmat!
Cerita 8: Bu Siksa Mengubah Sikapku!
Cerita 9: Ibu, Percayalah Kepadaku!
Cerita 10: Papaku Lembek!
Cerita 11: Cemburunya Mamaku!
Cerita 12: Kapan Papa Mengajariku?
Cerita 13: Ayah Kok Plin-Plan!
Cerita 14: Pantaskah Aku Menerima Hukuman?
Cerita 15: Asyiknya Belajar Bersama Ibu!

Berhubung ceritanya banyak, saya cicil ya...Oh ya bagi yang ingin beli bukunya langsung, buku tersebut terbitan Elex Media Komputindo. Saya sih dulu beli di Gramedia, harganya sudah lupa tuh. Kayaknya sih enggak terlalu mahal, soalnya bukunya juga tipis kok, total 86 halaman. Meski tipis tapi isinya menyentuh, terutama bila ada kisah yang menyerupai peristiwa yang kita alami. Mari kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Read More......

Wednesday, 4 March 2009

Pengalaman Saat Dokter Anak Langganan Tidak Praktek

Pernahkah Anda mengalami kejadian saat anak Anda sakit ternyata dokter langganan yang biasa mengobati anak Anda sedang tidak praktek? Saya pernah mengalaminya beberapa kali, dan anehnya saat dibawa ke dokter spesialis anak lainnya kok anak saya enggak kunjung sembuh ya...

Beberapa waktu lalu Steven sakit, mungkin kecapekan karena sehari sebelumnya dia outbond bersama teman-teman sekolah, orang tua, dan guru. Saat outbond itu ada acara berjalan di atas tali, meniti jembatan tali, meniti tangga tali, flying fox, berenang, dsb. Banyak aktivitas fisik. Anak-anak sih gembira sekali.

Keesokan harinya saat pagi kelihatannya sih dia enggak apa-apa. Tapi sore harinya dia bilang mual, tapi setelah makan biscuit coklat hangat dia bilang sudah enggak apa-apa. Malam harinya kami jalan-jalan ke mall. Di sana Steven memilih menu mie goreng.

Setelah makan seperempat porsi dia bilang kalau sudah. Pertamanya kami pingin marah, sudah beli kok enggak dihabisin. Tapi ketika saya mencicipi mie tersebut, aduh ternyata rasanya eneg banget, kayaknya ada rasa langu, mungkin karena udangnya kurang matang atau sudah lama.

Malam harinya tiba-tiba Steven muntah. Yang keluar mie kental, tidak lama kemudian muntah lagi, kembali yang keluar mie. Setelah itu sepanjang malam dia masih muntah lagi 2 atau 3 kali dan isinya air, volumenya lumayan banyak. Sehingga total dalam semalam dia muntah 4 atau 5 kali. Karena saat itu tengah malam saya lupa tidak memberinya banyak cairan pengganti, hanya sekedar obat muntah dan minum air putih. Tapi ternyata obat muntahnya enggak mempan.

Keesokan paginya Steven begitu lemas, tidak bertenaga. Saat pagi sudah muntah 2 kali lagi. Seharian dia hanya tiduran. Siangnya muntah lagi, begitu pula sore harinya. Kebetulan hari itu Minggu. Seharusnya dokter langganannya praktek, tapi karena masih di luar kota jadi batal praktek, digantikan oleh dokter pengganti. Saat kami sampai ke tempat praktek dokter langganan, kami merasa heran, biasanya antriannya luar biasa banyak, eh hari itu kok sepi banget. Ya begitulah dokter, meski tempat prakteknya sama tapi kalau bukan dokter langganan yang menangani, orang banyak yang batal berobat.

Karena kondisi Steven saat itu mengkuatirkan dan sudah terlanjur sampai ke sana, kami akhirnya memeriksakan Steven ke dokter pengganti. Tapi...cara memeriksa dan mendiagnosanya kok kurang meyakinkan ya. Sudah githu ternyata obatnya hanya vitamin B6, lactobacillus, dan obat untuk mengatasi asam lambung. Obatnya hanya untuk 2 hari lagi...

Hari Senin Steven tidak bisa masuk sekolah, badannya lemas banget. Obat dokter pengganti tidak membawa efek yang berarti. Malah hari itu dia muntah dengan volume sangat banyak, sampai-sampai makanan yang masuk 3 jam sebelumnya ikut keluar lagi. Saat kencing kakinya gemetar. Rasanya sedih deh, kapan sembuhnya kalau seperti itu. Seharian hanya tiduran aja. Saya telpon ke dokter langganan, dokter bilang kalau kondisinya tidak juga membaik bawa ke tempat prakteknya lagi.

Untungnya malam itu sehabis makan Steven tidur nyenyak. Praktek dokter langganan ternyata juga ramai luar biasa. Karena Steven tidur dan tidak muntah lagi, malam itu kami batal ke dokter.

Hari Selasa, Steven bangun dari tempat tidur, membuka pintu, tapi kayaknya dia masih capek, kembali tiduran lagi. Hari itu dia kembali tidak sekolah dan seharian tiduran terus tanpa melakukan aktivitas apa-apa, paling nonton televisi. Hari itu dia sudah tidak muntah, tapi sebagai gantinya diare. Ampun deh kayaknya muntaber nih...

Sore harinya Steven mengeluh perutnya sakit. Ya sudah malam itu kami kembali ke dokter langganan. Seperti biasanya praktek dokter langganan sangat ramai, hari itu banyak yang membawa hasil lab. Antrian nomer 12 tapi sudah 2 jam lebih belum sampai juga giliran Steven.

Mulanya karena capek dan masih lemas Steven tidur nyenyak di bangku. Akhirnya jam 10 malam lebih dia terbangun dan minta pulang. Saat itu sudah kurang 2 pasien lagi baru giliran Steven. Saya tanya gimana kondisinya, dia bilang perutnya masih sakit. Ya sudah periksa kalau githu. Lagian nanggung sudah antri lama banget.

Dokter bilang Steven kena muntaber. Terus diberi resep obat. Berhubung saat itu sudah malam sekali, kami langsung pulang tanpa mampir ke apotik. Sampai di rumah Steven juga langsung tidur.

Hari Rabu, Steven keluar dari kamar dan berkata kalau dia sudah sembuh, sudah bisa sekolah. Kami melongo, beneran nih? Iya kata Steven sudah enggak apa-apa kok. Akhirnya dia sekolah hari itu dan beneran enggak apa-apa.

Yang mengherankan obat belum juga dibeli kok tahu-tahu Steven langsung sembuh. Seandainya Selasa malam itu Steven enggak ke dokter langganan, akankah hari Rabu dia bangun dengan ceria dan bilang kalau dia sembuh? Kejadian ini bukan yang pertama kalinya lho ....

Read More......

Monday, 23 February 2009

Pengalaman Anak ke Dokter Gigi

Sebagian besar anak kecil takut kalau diajak ke dokter gigi. Bener enggak? Kevin sejak kecil gigi depannya bermasalah. Kayaknya enggak kuat tuh. Saat baru tumbuh sih bagus, tapi...herannya beberapa waktu kemudian saya lihat kok gigi atasnya geripis ya. Saya kira dia habis menggigit-gigit mainannya. Ternyata bukan, giginya memang rapuh, pelan tapi pasti 2 gigi depannya keropos jadi seperti bulan sabit bentuknya.

Sebenarnya waktu belum parah sudah sempat diajak ke dokter gigi, tapi saat itu Kevin ketakutan dan meronta-ronta. Dokter giginya angkat tangan, enggak bisa membantu. Beberapa waktu lalu dia terbentuk dan 1 giginya lepas. Anehnya dia enggak nangis, tahu-tahu memberikan patahan giginya pada saya. Pada mulanya saya yang saat itu lagi menerima telpon tidak mengerti apa sih yang dikasih oleh Kevin. Terus tahu-tahu dia menunjuk gusinya. Baru saya sadar kalau yang diletakkan di tangan saya itu patahan gigi :) .

Jadi deh Kevin ompong. Beberapa waktu lalu tahu-tahu ada 1 gigi atasnya yang hilang, tapi masih tersisa akarnya. Ya ampun deh Kevin...Banyak orang kalau ngeliat Kevin tertawa geli sambil bertanya lho mana tuh giginya kok hilang...

Beberapa hari ini dia bilang gigi bulan sabitnya goyang. Diajak ke dokter gigi dia menolak. Hari ini entah mengapa kok hatinya lagi enak, dia mau diajak ke dokter gigi. Jadi kami pergi rombongan (buat jaga-jaga, siapa tahu butuh megangin tangan, kepala, dan kaki Kevin) :) .

Setiba di tempat praktek dokter gigi herannya Kevin enggak takut tuh. Kami yang menduga dia bakal nangis dan berontak sampai takjub. Dengan patuh dia bersandar di kursi dokter gigi. Bahkan sebelum disuruh dia sudah dengan suka rela membuka mulutnya. Rasanya enggak percaya deh...

Dokter gigi tersebut cewek, orangnya ramah dan sabar. Dokter gigi bilang sebaiknya gigi yang goyang itu dicabut, sedang yang satunya lagi enggak apa-apa dibiarin dulu saja. Terus gigi Kevin tersebut diberi kapas yang ada obat mati rasa. Katanya biar giginya tidur. Eh Kevin langsung merosot dari kursi tersebut mengambil posisi tidur. Dengan sabar dokter giginya menjelaskan, eh yang tidur giginya, ayo dibuka lagi ya mulutnya.

Setelah itu dokter mengambil tang dan dalam sekali tarik sudah deh selesai. Darah yang keluar juga sedikit sekali. Wah Kevin hebat deh, enggak nyangka banget. Surprise...

Sekarang giliran Steven, dengan patuh dia duduk di kursi dokter gigi tersebut, tapi waktu melihat alat yang bentuknya seperti sabit ukuran kecil itu Steven takut. Dokter gigi tersebut bilang, ya sudah biarin dulu, biar perkenalan dulu aja.

Waktu membayar ternyata dokter gigi tersebut benar-benar baik hati. Ongkosnya murah lho hanya Rp 40.000 (atau memang standarnya segithu ya?). Steven enggak membayar. Terus saat mau pulang, dokter gigi tersebut membuka lacinya dan mengambil 2 buah penghapus berbentuk mobil-mobilan, satu untuk Kevin, satunya lagi untuk Steven.

Setelah mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat anak potong rambut di salon, hari ini justru sebaliknya, saya merasa puas. Bangga karena Kevin tidak rewel dan kooperatif, juga puas akan pelayanan dokter gigi tersebut.

Read More......

Saturday, 21 February 2009

Pengalaman Anak Potong Rambut Di Salon

Setelah pensiun jadi tukang potong rambut, sekarang ganti hunting cari salon yang ok buat anak. Ternyata enggak semua salon lho mau nerima anak kecil, apalagi tidak semua kapster bisa sabar menghadapi tingkah polah anak saat potong rambut di salon.

Hari ini kami jalan-jalan di mall dan berhubung rambut anak-anak sudah mulai panjang, sekalian deh ke salon. Di salon pertama yang kami datangin resepsionisnya bertanya siapa yang mau potong rambut. Ketika saya tunjukkan kedua anak saya, resepsionis tersebut bertanya rewel enggak kalau mereka potong rambut? Saya bilang dulu sudah pernah kok potong rambut di sini. Mbak resepsionis tersebut bertanya, siapa yang biasa motong? Saya jawab cewek kok yang motong. Terus saya disuruh menunjuk Mbak yang mana yang biasa melayani memotong rambut anak saya...

Rasanya sih ada 2 kapster yang pernah motong rambut anak saya. Salah satunya saat ini lagi hamil. Entah kenapa mood mereka lagi jelek. Bahkan si resepsionis berpesan nanti kalau anaknya rewel waktu tengah-tengah potong rambut, dihentikan lho ya..Hah? Saya sampai bingung, kok ada salon kayak githu. Kalau dihentikan, enggak diselesaikan proses potong rambutnya, khan petal ntar jadinya.

Akhirnya dengan wajah terpaksa Mbak yang tidak sedang hamil menyuruh Steven, anak saya yang besar untuk duduk dan dipotong rambutnya. Air mukanya sangat tidak ramah. Dia nanya mau dipotong seperti apa, kemudian mulai bekerja.

Karena dia masang kain penutupnya kurang pas, potongan rambut mengenai leher Steven dan Steven mengeluh gatal. Dengan tampang tambah cemberut si Mbak membetulkan letak kain penutup terus mulai bekerja lagi. Melihat tampang si Mbak yang manyun hih rasanya gemes deh. Tapi melihat hasil kerjanya lumayan juga tuh. Pertamanya saya kesal tapi akhirnya luluh juga melihat hasil potongannya.

Selesai memotong rambut Steven, saya nanya, gimana Mbak kalau yang ini (Kevin), sanggup enggak. Mbak tersebut menggeleng. Ya sudah saya menuju kasir untuk membayar. Untung itu di mall banyak pilihan salon...

Sedikit berjalan, ada salon lain. Saya ajak Kevin masuk. Mbak resepsionisnya cukup ramah, dia bilang antri ya 1 orang. Ok kami menunggu. Tak lama kemudian tiba giliran Kevin. Mbak yang motong orangnya sabar dan ramah, tapi ternyata Kevin enggak tahan geli. Goyang-goyang terus kegelian. Waktu potong bagian poni, tadinya saya sudah pesan jangan kependekan, eh karena posisi kepala Kevin miring, jadinya setelah dipotong dan disisir kok jadinya aneh ya, terus dipendekin lagi. Masih enggak rata, dipotong lagi. Akhirnya...ampun deh poni Kevin pendek sekali, hii jadi aneh deh ngeliat tampangnya...

Hm ternyata milih salon untuk anak lebih susah daripada salon untuk orang dewasa. Ada yang hasil potongannya bagus tapi orangnya sangat tidak ramah, yang lainnya ramah dan sabar tapi kok hasil potongannya mengecewakan ya... :(. Hehe sudah terlanjur gimana lagi nih...Mau protes wong yang salah Kevin juga, kenapa enggak bisa anteng. Yah untung rambut bisa tumbuh lagi...

Read More......

Thursday, 5 February 2009

Berkat Air Mata Kucing, Kevin Tidak Menangis Lagi

Bulan Januari lalu entah karena sebab apa, mood Kevin sangat jelek, terutama saat baris menjelang masuk kelas. Seringkali dia merasa air matanya mau keluar. Akibatnya Kevin keluar dari barisan mencari saya. Kalau sudah githu, kacau deh...Di saat baris anak TK berkumpul menurut kelasnya, bernyanyi dengan gerakan, senam, upacara (setiap hari Senin), dsb. Selesai selesai baru mereka masuk ke kelas.

Saat tahun ajaran baru, Kevin memang bermasalah saat baris dan awal masuk kelas. Hal itu berlangsung kurang lebih selama 2 minggu. Setelah adaptasi selama kurang lebih 2 minggu baru dia mau mengikuti gerakan senam, bernyanyi bersama teman dan guru-gurunya. Tapi anehnya, Januari saat awal masuk sekolah tahu-tahu penyakit lamanya mogok saat baris kumat lagi.

Seperti yang saya ceritakan dalam artikel Permasalahan Anak: Air Mata Kevin Mau Keluar, selama bulan Januari entah berapa kali tuh dia menangis di sekolah. Sebagai ibunya, tentunya saya kepikiran, ada apa gerangan, gimana nih cara mengatasinya...

Hari Selasa tanggal 27 Januari, Kevin sudah berada di barisan. Saya merasa lega. Eh tapi tahu-tahu dia keluar dari barisan, mencari saya dengan alasan air matanya keluar lagi. Terpaksa deh saya menemaninya di barisan. Yang bikin gemas, dia enggak mau melepas tangan saya. Selesai baris, saya antar dia ke depan pintu kelas, kadang dia masih berontak sebentar, tapi setelah itu sudah tidak apa-apa.

Pulang sekolah saya tanya kenapa sih kok Kevin kalau baris air matanya suka keluar? Dia bilang soalnya tadi Kevin masih ngantuk, jadi air matanya keluar sendiri. Memang sih malam sebelumnya dia tidur agak larut, jadi paginya agak susah dibangunin. Ok hari itu dia harus tidur cepat biar enggak ada lagi alasan.

Rabu tanggal 28 Januari. Kevin berjalan sendiri menuju barisan. Saya segera ke tempat yang agak tersembunyi, duduk membelakangi barisan. Eh ternyata benar, kembali Kevin mencari saya dan untungnya tidak ketemu, dia digandeng lagi oleh guru wali kelasnya menuju barisan. Di barisan dia mau berdiri tapi tampangnya sedih dan tidak mau bersuara dan mengikuti gerakan. Pulang sekolah saat ditanya kenapa air matanya keluar alasannya soalnya di sana panas, jadi air mata Kevin keluar...

Kamis 29 Januari, menjelang baris saya sudah ingin kabur lagi. Tapi Kevin lebih cerdik, digandengnya tangan saya, tidak mau dilepas. Hm saya kalah strategi nih. Hari itu Kevin sudah kehabisan alasan kenapa air matanya menetes.

Jumat hampir saja Kevin mogok sekolah. Gara-garanya tangannya digigit nyamuk. Digunakannya hal itu sebagai alasan. Ampun deh, terpaksa deh dibujuk-bujuk. Saat dia sudah mau berangkat sekolah, saya olesi tangannya dengan salep. Eh ketahuan, huaa Kevin menangis dengan keras, tapi untung masih mau sekolah dengan pesan bilangin gurunya kalau tangan Kevin sakit jadi enggak bisa baris.

Bel berbunyi yang berarti saat baris. Kevin lari menuju kelas. Eh gurunya melihat dan mengejarnya. Kevin kembali menangis. Akhirnya dia mau beridiri di barisan tapi dengan tampang manyun dan tidak mengikuti instruksi.

Sabtu kebetulan ada acara jalan-jalan ke alun-alun Kevin. Awalnya dia sudah terlihat ceria , mau jalan berbaris membuat kereta api (memegang bahu teman) keliling alun-alun. Tapi karena hari itu hujan rintik-rintik, acara jalan-jalan di alun-alun jadi kacau, terpaksa deh berteduh di ruangan PMI. Eh tahu-tahu Kevin nangis lagi, katanya sih nyari Steven, kakaknya (saat itu TK A dan TK B dipisah).

Bu Guru Kevin menulis di buku komunikasi kalau emosi Kevin di sekolah lagi bermasalah. Saat ditanya apakah ada teman yang mengganggunya, tapi dia bilang enggak ada. Di rumah saya juga berusaha agar dia mau cerita tapi enggak berhasil juga. Kayaknya enggak ada masalah yang serius, hanya masalah psikologi saja. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman saat baris.

Sabtu sore ketika jalan-jalan di Mall, saya melihat ada stand yang menjual Air Mata Kucing, ide usil saya timbul. Saya bilang ke Kevin, kalau dia terus-menerus nangis kayak githu, ntar air matanya habis lho. Kevin Senin di sekolah masih mau nangis enggak, kalau iya, yuk beli air mata kucing. Nanti kalau Kevin nangis suaranya jadi meong meong. Kalau nangisnya keras meong meongnya juga keras. Gimana, masih mau nangis enggak? Tentu saja Kevin bilang enggak.

Hari Senin, mood Kevin masih belum bagus, tapi dia berusaha bertahan di barisan meski belum mau bersuara dan mengikuti gerakan. Hari Selasa, Rabu, Kamis syukurlah, dia sudah kembali ceria, mau baris dengan bersemangat. Lega deh rasanya.

Terima kasih buat pemilik stand air mata kucing yang telah menimbulkan ide. Berkat air mata kucing Kevin berusaha keras agar tidak menangis lagi. Mohon maaf banget atas ajaran yang enggak benar ini...

Read More......

Thursday, 29 January 2009

Ibu Dengarkan Aku

Pagi tadi di sekolah saya bersama mama-mama lainnya membahas buku "Ibu Dengarkan Aku". Kami setuju cerita tentang sepeda yang hilang yang saya tulis ulang di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku, membuat kami berpikir ulang tentang cara didik ke anak.

Semua orangtua rata-rata pasti sama deh jawabannya bila diajukan pertanyaan: seandainya anak Anda dibelikan sepeda baru, sebagian uang untuk membeli sepeda berasal dari tabungan si anak, terus kekurangannya ditambahkan oleh orangtua agar cukup. Nah di hari pertama sepeda tersebut dibeli, si anak menghilangkan sepeda tersebut karena teledor, memarkirnya sembarangan. Apa reaksi Anda?

Pasti deh orang tua akan marah. Bener enggak? Orang tua pada umumnya akan menghukum si anak dengan tujuan memberi efek jera. Biar si anak tahu kalau menghilangkan barang apalagi yang mahal itu perbuatan yang salah.

Setelah membaca buku Ibu Dengarkan Aku, kami sebagai orang tua menjadi terhenyak. Sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya bahwa si anak jauh lebih sedih daripada kita orang tuanya. Terlebih dia membelinya sebagian dari uang tabungannya. Siapa yang lebih merasa kehilangan sepeda tersebut? Tidakkah anak Anda butuh penghiburan? Yakinkah Anda dengan menghukumnya, memukulinya membuatnya lebih baik, bukannya sakit hati dan luka batin?

Cerita lain dari buku Ibu Dengarkan Aku yang tak kalah membuat trenyuh adalah cerita tentang keluarga bahagia yang sedang menanti kelahiran anak kedua. Sang kakak yang bernama Fery saat itu kelas 2 SD. Ibunya sedang hamil tua. Mereka hidup bahagia, seringkali orang tua memanggil si anak dengan Kakak Fery karena dia sudah mau punya adik.

Hari Minggu itu mereka melakukan kerja bakti. Fery mendapat tugas mencabut rumput di halaman belakang. Ayah mengepel rumah dan menggosok kamar mandi. Ibu yang perutnya sudah buncit pun tak mau ketinggalan, membantu ayah membersihkan kamar mandi.

Kemudian terdengar suara telpon berdering. Ayah berteriak pada Fery agar mengangkat telpon. Fery pun segera mencuci tangan dan kaki agar tidak mengotori lantai yang sudah dipel. Telepon terus berdering karena memang jarak Fery ke ruang tengah cukup jauh karena posisi dia saat itu di halaman belakang, terlebih dia harus cuci kaki dan tangan terlebih dahulu.

Ibu tak sabar mendengar telepon yang terus berdering. Ibu keluar dari kamar mandi untuk mengangkat telepon. Malangnya mungkin di kakinya masih tersisa sabun ditambah lagi kondisi lantai yang baru dipel, akibatnya si Ibu jatuh dan pingsan.

Fery berdiri tertegun, ketakutan dan kaget melihat kondisi ibunya. Ayah pun tak kalah kagetnya. Ayah berteriak kepada Fery agar memanggil tetangga depan. Tapi Fery seolah terpaku tak mau disuruh pergi. Ayah marah dan membentak dan memukulnya tapi Fery tetap tak mau beranjak dari tempatnya, bahkan karena ketakutan Fery malah sembunyi di kolong meja makan.

Mendengar ribut-ribut, para tetangga berdatangan dan memberi pertolongan. Saat ibunya mau dibawa ke rumah sakit, Fery ingin ikut tapi dilarang keras oleh ayahnya. Fery yang menangis meraung-raung ditentangkan oleh tetangganya.

Untunglah ibu dan adiknya selamat. Tapi ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan Fery. Ayahnya membencinya. Secara tak sengaja Fery pernah mendengar ibunya bertanya kepada ayah kenapa sampai sekarang masih marah pada Fery. Si ayah menganggap Fery sudah besar, masa dimintai tolong memanggil tentangga aja enggak mau. Terlebih kecelakaan ibu terjadi khan karena Fery enggak segera mengangkat telepon.

Bayangkan saat ibu dan adiknya selamat pun Fery masih disalahkan. Apa yang terjadi seandainya jiwa ibu dan / atau adiknya tidak tertolong? Tahukan Anda apa yang ada di pikiran Fery kenapa dia tidak mau memanggil tetangganya?

Fery pun sering menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir khan saat itu posisi ayah paling dekat dengan tempat telepon, kenapa tidak ayah sendiri yang mengangkat telepon tersebut?

Saat Fery disuruh memanggil tetangga, dia merasa ketakutan melihat ibunya dan tak ingin berpisah. Dia tak ingin meninggalkan ibunya, jadi dia enggan berangkat. Kenapa ayah tak pernah menanyakan alasannya tersebut? Mengapa ayah masih terus marah padanya?

Seringkali orangtua mencari kambing hitam dari suatu peristiwa dengan menyalahkan orang lain yang kadang kala anaknya sendiri. Akibatnya anak menderita luka batin yang sulit untuk disembuhkan.

Bagaimana menurut Anda, setujukah kalau buku Ibu Dengarkan Aku begitu menyentuh? Cobalah memahami jalan pikiran anak. Jangan buat mereka terluka batin. Seringkali memori masa kecil yang teringat saat kita dewasa adalah peristiwa yang membuat kita terluka batin. Hal ini berefek besar pada perkembangan kepribadian. Marilah kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Read More......

Wednesday, 28 January 2009

Anak Suka Memukul Teman

Punya anak nakal yang hobby nonjokin teman? Aduh sebagai orangtua kita pasti malu banget deh. Saya masih ingat betapa hancur rasanya hati saya saat Steven di bangku playgroup. Hari itu ada undangan pesta ulang tahun temannya di Mc Donald. Saya yang mengantarnya ke pesta. Saat itu kelakuan Steven lagi liar-liarnya. Saya sampai tak habis pikir kenapa dia bisa jadi senakal itu...

Rasanya enggak kurang deh saya memarahinya. Tiap hari pukulan, cubitan, omelan sudah menjadi makanan sehari-hari Steven. Sampai-sampai adik saya bertanya pernah enggak sih 1 hari aja Steven enggak dimarahin? Hah, saya sampai terhenyak...iya ya, betapa seringnya saya memarahi Steven. Apakah dengan dimarahi itu kelakukan Steven berubah? Sayangnya enggak sama sekali, malah makin menjadi.

Puncaknya saat dia di Playgroup itu. Saat pesta di Mc Donald, Steven sedang jadi rasan-rasan para guru karena kelakuannya, katanya dia habis mencakar temannya di sekolah. Saat bertemu dengan guru-guru yang memang diundang ke pesta tersebut, ada salah satu guru yang berkomentar, katanya Steven habis mencakar teman ya Bu...Aduh malu, kesal, marah bercampur aduk di hati saya. Malangnya saat itu pun di pesta dia kembali membuat ulah...

Di Mc Donald khan ada arena permainan. Steven tidak bisa diam, bergerak dengan aktif naik turun seluncuran. Saat itu ada temannya yang "hampir dicekiknya" saat di sekolah. Temannya itu anak cewek yang mungil, lucu banget. Entah kenapa Steven malah enggak suka padanya. Saat di papan seluncuran, temannya itu masih duduk di atas, belum meluncur. Eh Steven datang, hampir aja anak itu digigitnya. Bayangkan padahal di sana ada papa anak tersebut dan saya sendiri yang menjaga Steven. Bagaimana perasaan Anda kalau menghadapi hal seperti itu...

Rasanya hampir putus asa deh. Enggak tahu apa yang harus diperbuat biar Steven bisa berubah. Saat jalan-jalan ke toko buku saya sering mencari buku yang saya harapkan bisa mengubah kondisi tersebut. Banyak buku yang saya beli tapi sebagian besar isinya tips, ajaran yang kurang mengena di hati (maksudnya waktu membaca oh githu, bukunya sih bagus, tapi cuman masuk di otak karena sebagian besar teoritis, setelah itu waktu anak nakal sudah lupa tuh...).

Sampai suatu hari di Gramedia mata saya tertuju pada buku yang berjudul "Ibu Dengarkan Aku". Bukunya tipis, sayangnya terbungkus plastik sehingga tidak bisa dibaca di tempat. Tapi kata pengantarnya sangat menyentuh hati. Harganya pun tidak terlalu mahal. Tanpa pikir panjang saya beli buku tersebut.

Ternyata buku tersebut merupakan kumpulan kisah-kisah nyata. Di buku setipis itu ada 15 cerita yang dikumpulkan oleh Dra V Dwijani. Yang membuat buku tersebut berbeda dan sangat menyentuh karena buku tersebut bercerita dari sudut pandang anak. Kadang kita tidak pernah berpikir apa sih yang ada di pikiran anak saat kita memarahinya. Kalau apa yang kita lakukan selama ini tidak membuat kelakuannya membaik, berarti ada yang salah dari cara didik kita.

Membaca buku tersebut membuat air mata saya menetes. Ternyata bukan hanya orangtua yang terluka saat anak kita nakal. Anak yang kita marahi mungkin tak kalah sakit hatinya, menderita luka batin yang mungkin akan terbawa saat mereka dewasa. Terlebih bila saat kita marah kata-kata kasar terlontar. Pengusiran dari rumah, mau dikasih ke orang / panti asuhan (mis sudah mama malu punya anak seperti kamu, kalau kamu masih suka nonjokin teman dan ngambil duit orang sekalian aja jadi pencuri. Sana ambil barangmu tinggalkan rumah ini....).

Kata-kata itu terdengar aneh khan? Mana ada sih orang tua yang kayak githu ke anaknya? Tapi... saat kita marah seringkali yang terlontar memang kata-kata yang irasional, yang keluar tanpa kita pikirkan efeknya... Sekarang dilihat dari sisi anak, apa yang ditangkap dia saat mendengar kata-kata tersebut? Dia akan merasa terbuang, tidak lagi disayang. Kalau papa mama sudah enggak lagi peduli padaku, buat apa aku harus nurut. Toh sama saja, saat aku bertingkah manis, mama papa enggak pernah perhatian (seringkali kenakalan salah satu cara anak menarik perhatian orangtua).

Coba deh bagi Anda yang sedang memiliki permasalahan anak, cari buku tersebut. Saya sama sekali enggak punya hubungan baik dengan pengarang maupun penerbitnya. Jadi kalau saya promosi buku tersebut memang karena menurut saya bagus sungguhan, enggak ada maksud untuk memperoleh keuntungan apa-apa :)

Salah satu contoh cerita dari buku tersebut bisa dibaca di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku (ini bukan judul asli dari buku ya, soalnya bukunya lagi saya pinjamkan ke teman). Semua cerita di buku "Ibu Dengarkan Aku" adalah kisah nyata, anak di sana usia prasekolah - SD. Karena ceritanya dekat dengan keseharian, jadi terasa menyentuh. Karena ada 15 cerita berarti cerita dari 15 keluarga yang berbeda.

Dari buku tersebut saya baru tahu:
- saat anak kehilangan barang kesayangannya, sebenarnya tanpa dimarahin pun mereka sudah sedih. Yang perlu kita lakukan berempati dan berusaha membuat peristiwa tersebut pengalaman berharga. Agar mereka lebih berhati-hati. Dengan memarahinya hanya menambah luka batinnya.
- kalau kita memperlakukan semua anak kita dengan adil, mereka tidak akan saling iri hati. Tapi begitu mereka merasakan beda perlakuan, anak akan jadi sakit hati. Karena adik dijaga dan kalau mengganggu adik bakal dimarahi, seringkali pelampiasannya ke anak lain.
- Tidak ada anak yang senang melihat orang tua bertengkar. Mereka menjadi kehilangan sosok idola. Di cerita tersebut, mamanya dominan, anaknya jadi benci sama pria lembek. Bila dibiarkan efeknya tentu tidak baik saat dia dewasa.

Wah banyak banget nih cerita di sana yang bagus. Coba cari aja di toko buku atau search di Google. Artikel lain yang terkait dengan topik ini adalah:
- Memori masa kecil apa yang Masih Anda ingat?
- Mengatasi Permasalahan anak dengan Membacakan Cerita
- Pola Asuh dan Pengaruhnya pada Kebiasaan Anak
- Tips dan Trik Menghadapi Anak Bermasalah
- Menghilangkan Kebiasaan Suka Menjerit pada Anak

Selain itu newsletter dari www.sekolahorangtua.com juga bagus. Untuk berlangganan juga mudah, cukup isi nama dan alamat email. Secara berkala Anda akan mendapat kiriman newsletter gratis melalui email.


Read More......

 

blogger templates | Make Money Online