Wednesday, 28 January 2009

Anak Suka Memukul Teman

Punya anak nakal yang hobby nonjokin teman? Aduh sebagai orangtua kita pasti malu banget deh. Saya masih ingat betapa hancur rasanya hati saya saat Steven di bangku playgroup. Hari itu ada undangan pesta ulang tahun temannya di Mc Donald. Saya yang mengantarnya ke pesta. Saat itu kelakuan Steven lagi liar-liarnya. Saya sampai tak habis pikir kenapa dia bisa jadi senakal itu...

Rasanya enggak kurang deh saya memarahinya. Tiap hari pukulan, cubitan, omelan sudah menjadi makanan sehari-hari Steven. Sampai-sampai adik saya bertanya pernah enggak sih 1 hari aja Steven enggak dimarahin? Hah, saya sampai terhenyak...iya ya, betapa seringnya saya memarahi Steven. Apakah dengan dimarahi itu kelakukan Steven berubah? Sayangnya enggak sama sekali, malah makin menjadi.

Puncaknya saat dia di Playgroup itu. Saat pesta di Mc Donald, Steven sedang jadi rasan-rasan para guru karena kelakuannya, katanya dia habis mencakar temannya di sekolah. Saat bertemu dengan guru-guru yang memang diundang ke pesta tersebut, ada salah satu guru yang berkomentar, katanya Steven habis mencakar teman ya Bu...Aduh malu, kesal, marah bercampur aduk di hati saya. Malangnya saat itu pun di pesta dia kembali membuat ulah...

Di Mc Donald khan ada arena permainan. Steven tidak bisa diam, bergerak dengan aktif naik turun seluncuran. Saat itu ada temannya yang "hampir dicekiknya" saat di sekolah. Temannya itu anak cewek yang mungil, lucu banget. Entah kenapa Steven malah enggak suka padanya. Saat di papan seluncuran, temannya itu masih duduk di atas, belum meluncur. Eh Steven datang, hampir aja anak itu digigitnya. Bayangkan padahal di sana ada papa anak tersebut dan saya sendiri yang menjaga Steven. Bagaimana perasaan Anda kalau menghadapi hal seperti itu...

Rasanya hampir putus asa deh. Enggak tahu apa yang harus diperbuat biar Steven bisa berubah. Saat jalan-jalan ke toko buku saya sering mencari buku yang saya harapkan bisa mengubah kondisi tersebut. Banyak buku yang saya beli tapi sebagian besar isinya tips, ajaran yang kurang mengena di hati (maksudnya waktu membaca oh githu, bukunya sih bagus, tapi cuman masuk di otak karena sebagian besar teoritis, setelah itu waktu anak nakal sudah lupa tuh...).

Sampai suatu hari di Gramedia mata saya tertuju pada buku yang berjudul "Ibu Dengarkan Aku". Bukunya tipis, sayangnya terbungkus plastik sehingga tidak bisa dibaca di tempat. Tapi kata pengantarnya sangat menyentuh hati. Harganya pun tidak terlalu mahal. Tanpa pikir panjang saya beli buku tersebut.

Ternyata buku tersebut merupakan kumpulan kisah-kisah nyata. Di buku setipis itu ada 15 cerita yang dikumpulkan oleh Dra V Dwijani. Yang membuat buku tersebut berbeda dan sangat menyentuh karena buku tersebut bercerita dari sudut pandang anak. Kadang kita tidak pernah berpikir apa sih yang ada di pikiran anak saat kita memarahinya. Kalau apa yang kita lakukan selama ini tidak membuat kelakuannya membaik, berarti ada yang salah dari cara didik kita.

Membaca buku tersebut membuat air mata saya menetes. Ternyata bukan hanya orangtua yang terluka saat anak kita nakal. Anak yang kita marahi mungkin tak kalah sakit hatinya, menderita luka batin yang mungkin akan terbawa saat mereka dewasa. Terlebih bila saat kita marah kata-kata kasar terlontar. Pengusiran dari rumah, mau dikasih ke orang / panti asuhan (mis sudah mama malu punya anak seperti kamu, kalau kamu masih suka nonjokin teman dan ngambil duit orang sekalian aja jadi pencuri. Sana ambil barangmu tinggalkan rumah ini....).

Kata-kata itu terdengar aneh khan? Mana ada sih orang tua yang kayak githu ke anaknya? Tapi... saat kita marah seringkali yang terlontar memang kata-kata yang irasional, yang keluar tanpa kita pikirkan efeknya... Sekarang dilihat dari sisi anak, apa yang ditangkap dia saat mendengar kata-kata tersebut? Dia akan merasa terbuang, tidak lagi disayang. Kalau papa mama sudah enggak lagi peduli padaku, buat apa aku harus nurut. Toh sama saja, saat aku bertingkah manis, mama papa enggak pernah perhatian (seringkali kenakalan salah satu cara anak menarik perhatian orangtua).

Coba deh bagi Anda yang sedang memiliki permasalahan anak, cari buku tersebut. Saya sama sekali enggak punya hubungan baik dengan pengarang maupun penerbitnya. Jadi kalau saya promosi buku tersebut memang karena menurut saya bagus sungguhan, enggak ada maksud untuk memperoleh keuntungan apa-apa :)

Salah satu contoh cerita dari buku tersebut bisa dibaca di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku (ini bukan judul asli dari buku ya, soalnya bukunya lagi saya pinjamkan ke teman). Semua cerita di buku "Ibu Dengarkan Aku" adalah kisah nyata, anak di sana usia prasekolah - SD. Karena ceritanya dekat dengan keseharian, jadi terasa menyentuh. Karena ada 15 cerita berarti cerita dari 15 keluarga yang berbeda.

Dari buku tersebut saya baru tahu:
- saat anak kehilangan barang kesayangannya, sebenarnya tanpa dimarahin pun mereka sudah sedih. Yang perlu kita lakukan berempati dan berusaha membuat peristiwa tersebut pengalaman berharga. Agar mereka lebih berhati-hati. Dengan memarahinya hanya menambah luka batinnya.
- kalau kita memperlakukan semua anak kita dengan adil, mereka tidak akan saling iri hati. Tapi begitu mereka merasakan beda perlakuan, anak akan jadi sakit hati. Karena adik dijaga dan kalau mengganggu adik bakal dimarahi, seringkali pelampiasannya ke anak lain.
- Tidak ada anak yang senang melihat orang tua bertengkar. Mereka menjadi kehilangan sosok idola. Di cerita tersebut, mamanya dominan, anaknya jadi benci sama pria lembek. Bila dibiarkan efeknya tentu tidak baik saat dia dewasa.

Wah banyak banget nih cerita di sana yang bagus. Coba cari aja di toko buku atau search di Google. Artikel lain yang terkait dengan topik ini adalah:
- Memori masa kecil apa yang Masih Anda ingat?
- Mengatasi Permasalahan anak dengan Membacakan Cerita
- Pola Asuh dan Pengaruhnya pada Kebiasaan Anak
- Tips dan Trik Menghadapi Anak Bermasalah
- Menghilangkan Kebiasaan Suka Menjerit pada Anak

Selain itu newsletter dari www.sekolahorangtua.com juga bagus. Untuk berlangganan juga mudah, cukup isi nama dan alamat email. Secara berkala Anda akan mendapat kiriman newsletter gratis melalui email.


Related Posts by Categories



6 comments:

BlaGaBloGer said...

iya emang....
kalo dimarahin waktu kecil suka masih keingetan ampe gede....
wah... blog nya bagus banget mba...
kalo nanti saya punya anak, membantu banget nie blog nya....
huahahahah.. berapa tahun lg yah.... 8-}

Belajar Internet Marketing said...

Hehe BlaGaBloGer masih remaja ya. Nikmatilah saat-saat indah itu, yang tak akan terulang lagi. Salam manis.

yudi said...

gampang mbacanya..harus konsisten menerapkannya..btw..rangkumannya tips yang dilakukan cuman 3 atau blom diketik semua jeng?

Belajar Internet Marketing said...

Hehe banyak tuh harusnya ada 15 khan ada 15 cerita, tapi bukunya lagi dipinjam teman :)

Ok coba kutulis di artikel baru deh cerita-cerita dari buku Ibu Dengarkan Aku yang lain, tapi jangan protes ya kalau enggak persis sama, habis berdasarkan ingatan sih...

Maria Ulfah said...

Wah Mba Yusi salam kenal,
Bagus sekali infonya. Kebetulan sekali anak saya juga sperti itu. Apalagi ada adiknya yg kecil, pasti deh kalau sedang main, adiknya nangis, selalu saja saya memarahi anak saya yang pertama. Akibatnya, anak saya yang pertama di sekolah suka memukul dan mencakar temannya.
Terima kasih banyak ya..sudah berbagi..
Sangat bermanfaat sekali, InsyaAllah saya akan berusaha merubah gaya pengasuhan saya.

Yusi Setiawati said...

Hai Mbak Maria Ulfah,
Salam kenal juga...
Iya nih gaya pengasuhan kita besar pengaruhnya pada tingkah laku anak. Sebagai orang tua kita harus terus belajar :)
Semoga keluarga Mbak Maria Ulfah bahagia dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online