Thursday, 29 January 2009

Ibu Dengarkan Aku

Pagi tadi di sekolah saya bersama mama-mama lainnya membahas buku "Ibu Dengarkan Aku". Kami setuju cerita tentang sepeda yang hilang yang saya tulis ulang di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku, membuat kami berpikir ulang tentang cara didik ke anak.

Semua orangtua rata-rata pasti sama deh jawabannya bila diajukan pertanyaan: seandainya anak Anda dibelikan sepeda baru, sebagian uang untuk membeli sepeda berasal dari tabungan si anak, terus kekurangannya ditambahkan oleh orangtua agar cukup. Nah di hari pertama sepeda tersebut dibeli, si anak menghilangkan sepeda tersebut karena teledor, memarkirnya sembarangan. Apa reaksi Anda?

Pasti deh orang tua akan marah. Bener enggak? Orang tua pada umumnya akan menghukum si anak dengan tujuan memberi efek jera. Biar si anak tahu kalau menghilangkan barang apalagi yang mahal itu perbuatan yang salah.

Setelah membaca buku Ibu Dengarkan Aku, kami sebagai orang tua menjadi terhenyak. Sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya bahwa si anak jauh lebih sedih daripada kita orang tuanya. Terlebih dia membelinya sebagian dari uang tabungannya. Siapa yang lebih merasa kehilangan sepeda tersebut? Tidakkah anak Anda butuh penghiburan? Yakinkah Anda dengan menghukumnya, memukulinya membuatnya lebih baik, bukannya sakit hati dan luka batin?

Cerita lain dari buku Ibu Dengarkan Aku yang tak kalah membuat trenyuh adalah cerita tentang keluarga bahagia yang sedang menanti kelahiran anak kedua. Sang kakak yang bernama Fery saat itu kelas 2 SD. Ibunya sedang hamil tua. Mereka hidup bahagia, seringkali orang tua memanggil si anak dengan Kakak Fery karena dia sudah mau punya adik.

Hari Minggu itu mereka melakukan kerja bakti. Fery mendapat tugas mencabut rumput di halaman belakang. Ayah mengepel rumah dan menggosok kamar mandi. Ibu yang perutnya sudah buncit pun tak mau ketinggalan, membantu ayah membersihkan kamar mandi.

Kemudian terdengar suara telpon berdering. Ayah berteriak pada Fery agar mengangkat telpon. Fery pun segera mencuci tangan dan kaki agar tidak mengotori lantai yang sudah dipel. Telepon terus berdering karena memang jarak Fery ke ruang tengah cukup jauh karena posisi dia saat itu di halaman belakang, terlebih dia harus cuci kaki dan tangan terlebih dahulu.

Ibu tak sabar mendengar telepon yang terus berdering. Ibu keluar dari kamar mandi untuk mengangkat telepon. Malangnya mungkin di kakinya masih tersisa sabun ditambah lagi kondisi lantai yang baru dipel, akibatnya si Ibu jatuh dan pingsan.

Fery berdiri tertegun, ketakutan dan kaget melihat kondisi ibunya. Ayah pun tak kalah kagetnya. Ayah berteriak kepada Fery agar memanggil tetangga depan. Tapi Fery seolah terpaku tak mau disuruh pergi. Ayah marah dan membentak dan memukulnya tapi Fery tetap tak mau beranjak dari tempatnya, bahkan karena ketakutan Fery malah sembunyi di kolong meja makan.

Mendengar ribut-ribut, para tetangga berdatangan dan memberi pertolongan. Saat ibunya mau dibawa ke rumah sakit, Fery ingin ikut tapi dilarang keras oleh ayahnya. Fery yang menangis meraung-raung ditentangkan oleh tetangganya.

Untunglah ibu dan adiknya selamat. Tapi ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan Fery. Ayahnya membencinya. Secara tak sengaja Fery pernah mendengar ibunya bertanya kepada ayah kenapa sampai sekarang masih marah pada Fery. Si ayah menganggap Fery sudah besar, masa dimintai tolong memanggil tentangga aja enggak mau. Terlebih kecelakaan ibu terjadi khan karena Fery enggak segera mengangkat telepon.

Bayangkan saat ibu dan adiknya selamat pun Fery masih disalahkan. Apa yang terjadi seandainya jiwa ibu dan / atau adiknya tidak tertolong? Tahukan Anda apa yang ada di pikiran Fery kenapa dia tidak mau memanggil tetangganya?

Fery pun sering menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir khan saat itu posisi ayah paling dekat dengan tempat telepon, kenapa tidak ayah sendiri yang mengangkat telepon tersebut?

Saat Fery disuruh memanggil tetangga, dia merasa ketakutan melihat ibunya dan tak ingin berpisah. Dia tak ingin meninggalkan ibunya, jadi dia enggan berangkat. Kenapa ayah tak pernah menanyakan alasannya tersebut? Mengapa ayah masih terus marah padanya?

Seringkali orangtua mencari kambing hitam dari suatu peristiwa dengan menyalahkan orang lain yang kadang kala anaknya sendiri. Akibatnya anak menderita luka batin yang sulit untuk disembuhkan.

Bagaimana menurut Anda, setujukah kalau buku Ibu Dengarkan Aku begitu menyentuh? Cobalah memahami jalan pikiran anak. Jangan buat mereka terluka batin. Seringkali memori masa kecil yang teringat saat kita dewasa adalah peristiwa yang membuat kita terluka batin. Hal ini berefek besar pada perkembangan kepribadian. Marilah kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online