Monday, 23 February 2009

Pengalaman Anak ke Dokter Gigi

Sebagian besar anak kecil takut kalau diajak ke dokter gigi. Bener enggak? Kevin sejak kecil gigi depannya bermasalah. Kayaknya enggak kuat tuh. Saat baru tumbuh sih bagus, tapi...herannya beberapa waktu kemudian saya lihat kok gigi atasnya geripis ya. Saya kira dia habis menggigit-gigit mainannya. Ternyata bukan, giginya memang rapuh, pelan tapi pasti 2 gigi depannya keropos jadi seperti bulan sabit bentuknya.

Sebenarnya waktu belum parah sudah sempat diajak ke dokter gigi, tapi saat itu Kevin ketakutan dan meronta-ronta. Dokter giginya angkat tangan, enggak bisa membantu. Beberapa waktu lalu dia terbentuk dan 1 giginya lepas. Anehnya dia enggak nangis, tahu-tahu memberikan patahan giginya pada saya. Pada mulanya saya yang saat itu lagi menerima telpon tidak mengerti apa sih yang dikasih oleh Kevin. Terus tahu-tahu dia menunjuk gusinya. Baru saya sadar kalau yang diletakkan di tangan saya itu patahan gigi :) .

Jadi deh Kevin ompong. Beberapa waktu lalu tahu-tahu ada 1 gigi atasnya yang hilang, tapi masih tersisa akarnya. Ya ampun deh Kevin...Banyak orang kalau ngeliat Kevin tertawa geli sambil bertanya lho mana tuh giginya kok hilang...

Beberapa hari ini dia bilang gigi bulan sabitnya goyang. Diajak ke dokter gigi dia menolak. Hari ini entah mengapa kok hatinya lagi enak, dia mau diajak ke dokter gigi. Jadi kami pergi rombongan (buat jaga-jaga, siapa tahu butuh megangin tangan, kepala, dan kaki Kevin) :) .

Setiba di tempat praktek dokter gigi herannya Kevin enggak takut tuh. Kami yang menduga dia bakal nangis dan berontak sampai takjub. Dengan patuh dia bersandar di kursi dokter gigi. Bahkan sebelum disuruh dia sudah dengan suka rela membuka mulutnya. Rasanya enggak percaya deh...

Dokter gigi tersebut cewek, orangnya ramah dan sabar. Dokter gigi bilang sebaiknya gigi yang goyang itu dicabut, sedang yang satunya lagi enggak apa-apa dibiarin dulu saja. Terus gigi Kevin tersebut diberi kapas yang ada obat mati rasa. Katanya biar giginya tidur. Eh Kevin langsung merosot dari kursi tersebut mengambil posisi tidur. Dengan sabar dokter giginya menjelaskan, eh yang tidur giginya, ayo dibuka lagi ya mulutnya.

Setelah itu dokter mengambil tang dan dalam sekali tarik sudah deh selesai. Darah yang keluar juga sedikit sekali. Wah Kevin hebat deh, enggak nyangka banget. Surprise...

Sekarang giliran Steven, dengan patuh dia duduk di kursi dokter gigi tersebut, tapi waktu melihat alat yang bentuknya seperti sabit ukuran kecil itu Steven takut. Dokter gigi tersebut bilang, ya sudah biarin dulu, biar perkenalan dulu aja.

Waktu membayar ternyata dokter gigi tersebut benar-benar baik hati. Ongkosnya murah lho hanya Rp 40.000 (atau memang standarnya segithu ya?). Steven enggak membayar. Terus saat mau pulang, dokter gigi tersebut membuka lacinya dan mengambil 2 buah penghapus berbentuk mobil-mobilan, satu untuk Kevin, satunya lagi untuk Steven.

Setelah mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat anak potong rambut di salon, hari ini justru sebaliknya, saya merasa puas. Bangga karena Kevin tidak rewel dan kooperatif, juga puas akan pelayanan dokter gigi tersebut.

Read More......

Saturday, 21 February 2009

Pengalaman Anak Potong Rambut Di Salon

Setelah pensiun jadi tukang potong rambut, sekarang ganti hunting cari salon yang ok buat anak. Ternyata enggak semua salon lho mau nerima anak kecil, apalagi tidak semua kapster bisa sabar menghadapi tingkah polah anak saat potong rambut di salon.

Hari ini kami jalan-jalan di mall dan berhubung rambut anak-anak sudah mulai panjang, sekalian deh ke salon. Di salon pertama yang kami datangin resepsionisnya bertanya siapa yang mau potong rambut. Ketika saya tunjukkan kedua anak saya, resepsionis tersebut bertanya rewel enggak kalau mereka potong rambut? Saya bilang dulu sudah pernah kok potong rambut di sini. Mbak resepsionis tersebut bertanya, siapa yang biasa motong? Saya jawab cewek kok yang motong. Terus saya disuruh menunjuk Mbak yang mana yang biasa melayani memotong rambut anak saya...

Rasanya sih ada 2 kapster yang pernah motong rambut anak saya. Salah satunya saat ini lagi hamil. Entah kenapa mood mereka lagi jelek. Bahkan si resepsionis berpesan nanti kalau anaknya rewel waktu tengah-tengah potong rambut, dihentikan lho ya..Hah? Saya sampai bingung, kok ada salon kayak githu. Kalau dihentikan, enggak diselesaikan proses potong rambutnya, khan petal ntar jadinya.

Akhirnya dengan wajah terpaksa Mbak yang tidak sedang hamil menyuruh Steven, anak saya yang besar untuk duduk dan dipotong rambutnya. Air mukanya sangat tidak ramah. Dia nanya mau dipotong seperti apa, kemudian mulai bekerja.

Karena dia masang kain penutupnya kurang pas, potongan rambut mengenai leher Steven dan Steven mengeluh gatal. Dengan tampang tambah cemberut si Mbak membetulkan letak kain penutup terus mulai bekerja lagi. Melihat tampang si Mbak yang manyun hih rasanya gemes deh. Tapi melihat hasil kerjanya lumayan juga tuh. Pertamanya saya kesal tapi akhirnya luluh juga melihat hasil potongannya.

Selesai memotong rambut Steven, saya nanya, gimana Mbak kalau yang ini (Kevin), sanggup enggak. Mbak tersebut menggeleng. Ya sudah saya menuju kasir untuk membayar. Untung itu di mall banyak pilihan salon...

Sedikit berjalan, ada salon lain. Saya ajak Kevin masuk. Mbak resepsionisnya cukup ramah, dia bilang antri ya 1 orang. Ok kami menunggu. Tak lama kemudian tiba giliran Kevin. Mbak yang motong orangnya sabar dan ramah, tapi ternyata Kevin enggak tahan geli. Goyang-goyang terus kegelian. Waktu potong bagian poni, tadinya saya sudah pesan jangan kependekan, eh karena posisi kepala Kevin miring, jadinya setelah dipotong dan disisir kok jadinya aneh ya, terus dipendekin lagi. Masih enggak rata, dipotong lagi. Akhirnya...ampun deh poni Kevin pendek sekali, hii jadi aneh deh ngeliat tampangnya...

Hm ternyata milih salon untuk anak lebih susah daripada salon untuk orang dewasa. Ada yang hasil potongannya bagus tapi orangnya sangat tidak ramah, yang lainnya ramah dan sabar tapi kok hasil potongannya mengecewakan ya... :(. Hehe sudah terlanjur gimana lagi nih...Mau protes wong yang salah Kevin juga, kenapa enggak bisa anteng. Yah untung rambut bisa tumbuh lagi...

Read More......

Thursday, 5 February 2009

Berkat Air Mata Kucing, Kevin Tidak Menangis Lagi

Bulan Januari lalu entah karena sebab apa, mood Kevin sangat jelek, terutama saat baris menjelang masuk kelas. Seringkali dia merasa air matanya mau keluar. Akibatnya Kevin keluar dari barisan mencari saya. Kalau sudah githu, kacau deh...Di saat baris anak TK berkumpul menurut kelasnya, bernyanyi dengan gerakan, senam, upacara (setiap hari Senin), dsb. Selesai selesai baru mereka masuk ke kelas.

Saat tahun ajaran baru, Kevin memang bermasalah saat baris dan awal masuk kelas. Hal itu berlangsung kurang lebih selama 2 minggu. Setelah adaptasi selama kurang lebih 2 minggu baru dia mau mengikuti gerakan senam, bernyanyi bersama teman dan guru-gurunya. Tapi anehnya, Januari saat awal masuk sekolah tahu-tahu penyakit lamanya mogok saat baris kumat lagi.

Seperti yang saya ceritakan dalam artikel Permasalahan Anak: Air Mata Kevin Mau Keluar, selama bulan Januari entah berapa kali tuh dia menangis di sekolah. Sebagai ibunya, tentunya saya kepikiran, ada apa gerangan, gimana nih cara mengatasinya...

Hari Selasa tanggal 27 Januari, Kevin sudah berada di barisan. Saya merasa lega. Eh tapi tahu-tahu dia keluar dari barisan, mencari saya dengan alasan air matanya keluar lagi. Terpaksa deh saya menemaninya di barisan. Yang bikin gemas, dia enggak mau melepas tangan saya. Selesai baris, saya antar dia ke depan pintu kelas, kadang dia masih berontak sebentar, tapi setelah itu sudah tidak apa-apa.

Pulang sekolah saya tanya kenapa sih kok Kevin kalau baris air matanya suka keluar? Dia bilang soalnya tadi Kevin masih ngantuk, jadi air matanya keluar sendiri. Memang sih malam sebelumnya dia tidur agak larut, jadi paginya agak susah dibangunin. Ok hari itu dia harus tidur cepat biar enggak ada lagi alasan.

Rabu tanggal 28 Januari. Kevin berjalan sendiri menuju barisan. Saya segera ke tempat yang agak tersembunyi, duduk membelakangi barisan. Eh ternyata benar, kembali Kevin mencari saya dan untungnya tidak ketemu, dia digandeng lagi oleh guru wali kelasnya menuju barisan. Di barisan dia mau berdiri tapi tampangnya sedih dan tidak mau bersuara dan mengikuti gerakan. Pulang sekolah saat ditanya kenapa air matanya keluar alasannya soalnya di sana panas, jadi air mata Kevin keluar...

Kamis 29 Januari, menjelang baris saya sudah ingin kabur lagi. Tapi Kevin lebih cerdik, digandengnya tangan saya, tidak mau dilepas. Hm saya kalah strategi nih. Hari itu Kevin sudah kehabisan alasan kenapa air matanya menetes.

Jumat hampir saja Kevin mogok sekolah. Gara-garanya tangannya digigit nyamuk. Digunakannya hal itu sebagai alasan. Ampun deh, terpaksa deh dibujuk-bujuk. Saat dia sudah mau berangkat sekolah, saya olesi tangannya dengan salep. Eh ketahuan, huaa Kevin menangis dengan keras, tapi untung masih mau sekolah dengan pesan bilangin gurunya kalau tangan Kevin sakit jadi enggak bisa baris.

Bel berbunyi yang berarti saat baris. Kevin lari menuju kelas. Eh gurunya melihat dan mengejarnya. Kevin kembali menangis. Akhirnya dia mau beridiri di barisan tapi dengan tampang manyun dan tidak mengikuti instruksi.

Sabtu kebetulan ada acara jalan-jalan ke alun-alun Kevin. Awalnya dia sudah terlihat ceria , mau jalan berbaris membuat kereta api (memegang bahu teman) keliling alun-alun. Tapi karena hari itu hujan rintik-rintik, acara jalan-jalan di alun-alun jadi kacau, terpaksa deh berteduh di ruangan PMI. Eh tahu-tahu Kevin nangis lagi, katanya sih nyari Steven, kakaknya (saat itu TK A dan TK B dipisah).

Bu Guru Kevin menulis di buku komunikasi kalau emosi Kevin di sekolah lagi bermasalah. Saat ditanya apakah ada teman yang mengganggunya, tapi dia bilang enggak ada. Di rumah saya juga berusaha agar dia mau cerita tapi enggak berhasil juga. Kayaknya enggak ada masalah yang serius, hanya masalah psikologi saja. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman saat baris.

Sabtu sore ketika jalan-jalan di Mall, saya melihat ada stand yang menjual Air Mata Kucing, ide usil saya timbul. Saya bilang ke Kevin, kalau dia terus-menerus nangis kayak githu, ntar air matanya habis lho. Kevin Senin di sekolah masih mau nangis enggak, kalau iya, yuk beli air mata kucing. Nanti kalau Kevin nangis suaranya jadi meong meong. Kalau nangisnya keras meong meongnya juga keras. Gimana, masih mau nangis enggak? Tentu saja Kevin bilang enggak.

Hari Senin, mood Kevin masih belum bagus, tapi dia berusaha bertahan di barisan meski belum mau bersuara dan mengikuti gerakan. Hari Selasa, Rabu, Kamis syukurlah, dia sudah kembali ceria, mau baris dengan bersemangat. Lega deh rasanya.

Terima kasih buat pemilik stand air mata kucing yang telah menimbulkan ide. Berkat air mata kucing Kevin berusaha keras agar tidak menangis lagi. Mohon maaf banget atas ajaran yang enggak benar ini...

Read More......

 

blogger templates | Make Money Online