Tuesday, 31 March 2009

Dilema Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir

Setelah memiliki anak, seringkali wanita yang biasanya bekerja mengalami dilema, tetap meneruskan karir yang telah dibangunnya atau menjadi ibu rumah tangga untuk merawat anak. Ada yang memilih tetap melanjutkan karir tapi sebenarnya hati dan pikiran banyak tersita di rumah, terlebih saat anak sakit. Sedangkan mereka yang memilih meninggalkan karir demi merawat anak merasa kehilangan sesuatu juga, bukan hanya uang tapi juga kebanggaan diri.

Saat wanita berkarir, memiliki penghasilan sendiri, wanita akan lebih dihargai suaminya karena bisa membantu menopang keuangan, terlebih di masa krisis dimana gaji naiknya cuman sedikit sedangkan kebutuhan hidup naiknya banyak sekali. Tapi...sebagian besar wanita karir memiliki rasa bersalah juga karena sebagian besar waktunya terbuang di luar rumah. Tak jarang dia berangkat saat anaknya belum bangun dan pulang saat anaknya sudah tidur. Hati ibu mana yang tidak merasa nelangsa, didera perasaan bersalah. Seandainya saja ada perkerjaan sampingan yang hasilnya lumayan yang bisa dikerjakan dari rumah, di sela-sela waktu mengurus anak...

Bagi ibu rumah tangga, murni menggantungkan diri dari penghasilan suami seringkali dirasa tidak memuaskan. Apalagi saat anak sudah sekolah, banyak sekali pengeluaran tak terduga seperti teman ulang tahun (harus beli kado), uang foto saat ada kegiatan di sekolah, uang jajan, dsb. Kalau yang dapat suami royal dan kaya sih mungkin enggak masalah, nah kalau suami perhitungan dan ngasih uang belanja pas-pasan, bisa pusing tujuh keliling tuh. Untuk biaya hidup sampai akhir bulan saja pas-pasan, darimana duit untuk beli kado, uang kegiatan, dsb.

Pernahkah Anda mengalami hal seperti itu? Atau saat ini hal tersebut yang Anda rasakan? Perasaan frustasi saat usaha suami bangkrut, saat biaya hidup meningkat tapi gaji naiknya sedikit sekali, dsb. Coba simak pengalaman teman saya berikut ini, semoga bisa menjadi ispirasi bagi kita.

Saya memiliki seorang teman. Beberapa tahun lalu usaha suaminya bangkrut saat sang suami menderita sakit yang cukup parah. Sebagai Ibu rumah tangga, teman saya tentu bingung. Dia harus berbuat sesuatu menggantikan peran menjadi pencari nafkah untuk menyambung hidup, biaya pengobatan suami, dan biaya sekolah anak. Dengan keterbatasan sisa uang yang dimilikinya dia memutar otak, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Kalau teman saya tadi memilih melamar kerja saat suami sakit tentunya susah sekali bukan. Suami sakit butuh didampingi, butuh diantar ke dokter, butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit. Kalau melamar kerja berapa waktu yang dibutuhkan sampai kita positif diterima? Perusahaan mana yang mau karyawannya sering membolos meskipun alasannya mengantarkan suami ke dokter? Kayaknya alternatif ini enggak bisa deh.

Teman saya terus berpikir, uangnya yang tersisa semakin menipis sedangkan biaya pengobatan terus keluar. Dia sayang suaminya dan tentu sangat mengharapkan suaminya sembuh. Dia harus bisa fleksibel dalam mengatur waktu, mengantar anak ke sekolah, merawat suami yang sedang sakit, sekaligus mencari tambahan penghasilan.

Akhirnya teman saya tersebut mendapat ide. Di dekat rumahnya ada pasar. Harga barang di pasar itu lumayan murah. Dia bisa kulakan barang di pasar dan menjualnya di sekolah anaknya. Dijalankannya ide tersebut. Saat itu musim duku, dia beli 1 kilo duku, dipilihnya yang manis dan kualitasnya bagus. Dibawanya ke sekolah, kemudian dibagikannya ke ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya. Masing-masing mendapat 2 buah duku. Ibu-ibu tersebut heran dan bertanya, "Apa ini?" Dia menjawab," Sudah dicoba aja dulu, gimana rasanya, enak enggak?" Ada ibu yang bertanya,"Kamu jualan tha?" Teman saya menjawab,"Iya, kamu mau pesan tha, minimal 2 kilo ya, soalnya kalau 1 kilo cuman sedikit lho..."

Karena memang duku yang dibawa teman saya tersebut enak dan mungkin ingin menolong teman (karena tahu kondisi teman saya tersebut), banyak ibu yang mau beli duku, bahkan ada yang langsung pesan 10 kilo. Teman saya mencatat semua pesanan yang masuk.

Keesokan harinya, dengan naik angkot dia bawa pesanan duku tersebut. Karena sudah tertarget, semua duku pesanan tersebut laris manis. Teman saya mendapat uang untuk modal kulakan berikutnya dengan untung Rp 1000/kg. Teman saya berpikir, kalau dia setiap hari jualan duku, enggak mungkin teman-temannya mau beli duku tiap hari. Barang apa ya yang jadi kebutuhan ibu-ibu? Jadinya dia melakukan survey dan setiap hari mendata temannya yang pesan bawang merah, bawang putih, jagung manis, rebung, dsb. Dia selalu membeli barang sesuai pesanan dan barang dagangannya selalu habis.Keuntungan dari berjualan tersebut lumayan juga. Bisa dibuat menyambung hidup dan membantu biaya pengobatan suaminya.

Suatu hari ada teman yang memberitahu produk alami dari lebah yang dapat membantu penyembuhan berbagai penyakit. Produk tersebut Melia Propolis yang merupakan antibiotik alami, anti bakteri, anti virus, dan anti jamur alami. Jadi propolis bisa membantu menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan bakteri seperti thypus, diare / muntaber. Penyakit yang berhubungan dengan virus seperti demam berdarah, flu, TBC, dsb. Penyakit yang berhubungan dengan jamur seperti eksim, panu, keputihan, ketombe, dsb. Selain itu propolis berfungsi sebagai anti peradangan, anti kanker, detoksifikasi, penetral racun, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dsb.

Teman saya berpikir tak ada salahnya mencobakan Melia Propolis tersebut ke suaminya karena produk ini alami. Apalagi di kitab suci tertulis: keluar dari perut lebah minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. Hati teman saya menjadi yakin kalau propolis yang merupakan campuran zat yang disekresi dari kelenjar air liur lebah bisa mendatangkan kesembuhan bagi suaminya.

Ternyata benar, suaminya berangsur-angsur sembuh. Saat teman saya menceritakan kabar gembira tersebut, banyak temannya yang menjadi tertarik, ingin membeli Melia Propolis. Teman saya berpikir, dia jual jagung manis per kilo untung Rp 1000, dalam 1 hari laku 25 kilo, untungnya hanya Rp 25000. Padahal untuk itu dia harus naik angkot untuk kulakan, menimbangnya per 2 kilo, mengemasnya. Besok pagi-pagi naik angkot lagi mengantarkan pesanan ke sekolah. saat berjualan propolis, untuk 1 botol berukuran 6 ml harga distributornya Rp 80.000, dijual dengan harga Rp 100.000. Keuntungan bersih sudah terlihat di depan mata Rp 20000/botol. Usaha yang dilakukan jauh lebih ringan tapi hasilnya jauh lebih besar.

Karena propolis yang dijual berdasarkan kesaksian nyata kesembuhan suaminya itu laku keras,
banyak yang melakukan pembelian ulang. Saat ada temannya yang tertarik menjadi anggota , keesokan paginya dia heran kok ada sms di handphonenya dari PT Melia Nature, memberi ucapan selamat karena dia memperoleh bonus. Mulanya teman saya tidak percaya, disangka sms penipuan. Tapi beberapa waktu kemudian saat dia memeriksa rekening tabungan yang dipakai saat pendaftaran menjadi member, teman saya melihat kalau ternyata bonus itu benar-benar ada. Secara periodik (dalam hitungan hari) dia mendapat bonus. Karena penasaran, dia pelajari sistemnya. Ternyata memang benar sistem bonus di Melia Nature harian.

Tuhan membukakan jalan bagi teman saya tersebut. Karena kegigihannya, sikapnya yang tegar, kesetiaannya pada suami, Tuhan membantu kesembuhan suaminya melalui propolis. Selain itu, dibukakan juga jalan karir di PT Melia Nature. Saat ini teman saya tersebut sudah menjadi leader. Selain bonus sponsoring, bonus pengembangan jaringan tak kalah banyaknya., selian itu masih ada bonus unilevel, dsb. Dari penghasilannya selama sekitar 2 tahun
sebagai distributor Melia Nature, dia berhasil membeli tanah, sepeda motor, dan barusan awal tahun 2009 ini mencicil mobil Panther.

Perjuangan hidupnya berjualan dan kulakan naik ongkot sudah menjadi kenangan. Saat ini teman saya ketika mengantar anaknya ke sekolah menyetir mobil sendiri, berkat training dan seminar yang diikutinya, orang memandang kagum padanya. Banyak orang yang ingin belajar menjadi sukses seperti dirinya (termasuk saya nih).

Dari cerita teman saya tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Lihat di saat teman saya jatuh, usaha bangkrut, suami sakit, dia tidak putus asa. Dia siap mengambil alih tanggung jawab. Lihat perjuangannya naik turun angkot kulakan barang, tanpa malu dia tawarkan ke sekolah. Strateginya agar barang laku setiap hari juga patut diacungi jempol.

Nah para ibu rumah tangga yang sedang menghadapi dilema, ayo kita belajar dari contoh teman saya tersebut. Kita harus bisa berusaha mencari jalan keluar dari setiap permasalahan. Saat gaji suami hanya naik dikit, saat usahanya bangkrut, saat suami sakit, kita jangan merongrongnya terus tapi kita harus berusaha bangkit berjuang mengatasi permasalahan yang ada. Alangkah bahagianya para ibu bila dapat menyeimbangkan antara karir dengan profesi sebagai ibu rumah tangga. Semoga cerita di atas dapat menjadi motivasi dan inspirasi Anda.



Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak teman saya bergabung sebagai member Melia Nature, silakan pelajari sistemnya dan keuntungannya. Kami support Anda menuju sukses.

Read More......

Friday, 20 March 2009

Andai Aku Seperti Adik (Ibu Dengarkan Aku)

Melanjutkan artikel Daftar Isi Ibu Dengarkan Aku, kali ini saya lanjutkan cerita ke 3 Andai Aku Seperti Adik. Apakah Anda memiliki 2 orang anak yang tidak bisa akur? Kakak iri pada adiknya? Bisa jadi hal tersebut timbul karena perbedaan perlakuan yang kita terapkan sehingga mereka saling merasa hal tersebut tidak adil dan menimbulkan rasa iri hati. Coba simak cerita berikut ini:

Alex yang berusia 5,5 tahun memiliki adik bernama Andy (3 tahun). Sebelumnya karena perlakuan ibu terhadap mereka sama, Alex tidak pernah merasa iri pada Andy, bahkan mereka saling menyayangi.

Namun saat mereka pindah ke rumah nenek karena ibu mereka mendapat tugas belajar tak jauh dari kampung nenek, Alex merasa perlakuan semua orang berbeda. Alex merasa iri pada Andy yang lebih disayang oleh semua orang.

Setiap kali Alex dan Andy bermain kemudian Andy menangis, selalu Alex yang disalahkan. Alex merasa orang dewasa suka mengambil kesimpulan tanpa melihat faktanya. Akhirnya Alex berpikir salah atau benar, orang tetap menilai dirinya salah. Jadi untuk apa dia hanya diam, toh berbuat nakal atau tidak orang tetap menganggapnya nakal.

Suatu hari Alex dan Andy bermain di dekat kolam milik kakek. Saat melihat tanggul yang membelah kolam, Alex teringat pada lomba ketangkasan yang pernah dilihatnya di televisi. Alex bercerita pada Andy tentang keinginannya bermain lomba ketangkasan tersebut. Dengan semangat Andy mendahului berjalan menelusuri tanggul. Mereka berdua tertawa-tawa. Tiba-tiba Tante Lin melihat peristiwa tersebut dan berteriak.

Ibu dan nenek datang. Muka ibu terlihat pucat dan meminta mereka agar tetap diam. Tante Lin memanggil Om Willy, suaminya. Dengan sigap Om Willy membopong Alex dan Andy menuju ibu mereka.

Ibu langsung menangkap Alex dan membawanya ke rumah. Sambil menangis ibu memukuli pantat Alex sambil memaki,"Kamu jahat! Kamu ingin adikmu celaka ya?!" Alex menangis meraung-raung tapi tak seorang pun membelanya.

Setelah puas memukuli Alex, Ibu menangis dipeluk Tante Lin, sementara Nenek mengendong Andy, mengelus kepalanya dan mendekapnya. Alex merasa sangat iri pada Andy. Dia ingin diperlakukan seperti Andy.

Sambil memeluk Ibu, Tante Lin berkata pada Alex, "Mengapa sih kamu tidak bisa seperti adikmu? Coba kalau kamu bisa sebaik adikmu, pasti semua orang sayang sama kamu."

Seandainya berani, Alex ingin bertanya, "Mengapa mereka tidak memperlakukannya seperti Andy? Mengapa mereka lebih menyanyangi Andy?"

Alex merasa mereka semua tidak adil. Kesalahan Andy tidak pernah dinilai sebagai kesalahan, sedangkan perbuatan Alex meski itu sebagai balasan atas perbuatan Andy tetap dinilai sebagai kesalahan besar. Kenapa ibu mudah dipengaruhi orang lain sehingga mengubah perlakuannya?

Renungan:
Jika seorang pernah melakukan kesalahan, bukan berarti orang tersebut selalu melakukan kesalahan. Demikian pula tidak selamanya orang baik terhindar dari kesalahan. Ketika penilaian buruk tertuju pada anak kita, kita merasa seperti diadili. Tanpa kita sadari kita melampiaskan perasaan tertekan dengan menghukum anak kita. Kita berpikir dengan menghukum anak kita beban kita semakin ringan. Padahal justru sebaliknya, beban itu semakin berat bukan hanya bagi kita melainkan juga bagi anak kita.

Dari cerita di atas kita dapat belajar, kadangkala ada faktor lain yang membuat perlakuan kita menjadi tidak adil pada anak kita. Dulu si ibu tidak membedakan perlakuan pada kedua anaknya, maka kedua anaknya saling menyayangi tanpa rasa iri. Namun saat pindah ke rumah nenek, di mana banyak saudara yang lebih menyayangi Andy dan mengganggap Alex nakal, si Ibu menjadi tertekan dan terpengaruh, akhirnya bersikap tidak adil.

Seringkali kita menyuruh anak yang besar mengalah pada adiknya, namun bila dipikir lagi selamanya kakak lebih tua dari adik, apakah hal itu berarti kakak harus selalu mengalah pada adik? Perlakuan kita ini juga bisa memicu rasa iri hati.

Menjadi orang tua yang sempurna memang tidak mudah. Tapi setidaknya kita mau belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Read More......

Thursday, 12 March 2009

Daftar Isi Ibu Dengarkan Aku

Akhirnya hari ini buku "Ibu Dengarkan Aku" karangan Dra.V.Dwiyani sudah kembali ke rumah lagi setelah dipinjam teman sekian lamanya. Mumpung bukunya ada di depan saya, coba saya tuliskan daftar isi plus sekilas info ceritanya ya. Buku ini sangat berguna bagi para orangtua yang merasa kesulitan memahami jalan pikiran anak-anaknya, yang merasa kesal karena anaknya susah diatur, yang ining belajar cara mendidik anak dengan baik, dsb.

Cerita 1. Mengapa Aku Dihukum?
Menceritakan tentang seorang anak cowok kelas 1 SD yang mendapat hadiah sepeda. Dia sangat girang dan segera ingin memamerkan sepeda tersebut pada temannya. Tapi...karena kurang hati-hati sepeda tersebut hilang.

Seandainya Anda adalah orang tua dari anak yang menghilangkan sepeda tersebut, tindakan apa yang akan Anda ambil? Saya kira banyak orang tua yang menjawab anak tersebut patut dihukum, dengan alasan anak belajar tanggung jawab, agar anak tahu kalau dia salah, dsb. Hal tersebut juga yang dilakukan orang tua anak tersebut.

Papinya mengambil penggaris kayu, memukulkannya ke pantat anak tersebut berulang kali sambil berkata, "Dasar anak tidak tahu tanggung jawab". Si mami yang diharapkan bisa jadi dewi penolong eh malah tak kalah marahnya, sambil berteriak-teriak mengomel, menyeret anak tersebut ke dalam kamar mandi dan dikunci dari luar.

Pernahkah Anda berpikir dari sudut pandang anak Anda, apa yang dirasakannya ketika dia kehilangan sepeda tersebut? Seandainya dia berani bicara, dia ingin bertanya Mengapa papi dan mami menghukumku? Mengapa papi dan mami tidak memeluk dan menghiburku? Yang dibutuhkan anak tersebut dekapan, belaian, dan hiburan, tapi yang didapatkannya pukulan, kemarahan, dan hukuman.

Papi dan mami memang berhak marah karena sepeda tersebut hilang. Tapi sesungguhnya anak tersebut jauh lebih berduka. Sudah lama dia bermimpi ingin memiliki sepeda, bahkan uang tersebut sebagian berasal dari tabungannya. Kini anak tersebut telah kehilangan impian yang hanya sejenak menjadi kenyataan.

Dengan memarahinya seperti itu, yang terjadi luka batin pada diri anak. Si anak akan merasa dirinya tidak lebih berharga dari sebuah sepeda. Hubungan orang tua dan anak pun menjadi rusak. Seandainya orang tua tersebut berkata, "Sudahlah sayang, nanti kita nabung lagi untuk membeli sepeda, yang penting kamu selamat. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati dan lebih menjaga barang-barangmu." Kira-kira apa yang akan terjadi? Si anak akan sangat berterima kasih pada orang tuanya, merasa dirinya berharga dan dicintai dan belajar bertanggung jawab (dia sudah menghilangkan sepedanya, untuk memperoleh gantinya dia harus menabung lagi). Bagaimana, Anda setuju?

Renungan:
Ketika anak berbuat kesalahan yang menurut kita dia layak dihukum, pernahkah terlintas dalam benak Anda kalau mungkin saat itu mereka membutuhkan penghiburan Anda?

Cerita di atas pernah saya tulis di artikel Bapak Ibu Lebih Sayang Aku atau Sepedaku. Tapi karena saat itu saya menulisnya hanya berdasar memori, mohon maaf kalau ceritanya ada yang berbeda.

Cerita 2. Papa Tidak Kangen Aku!
Cerita bermula dari bunyi telepon yang berdering. Ternyata yang menelpon papa Cindy, anak cewek yang sedang belajar membaca. Mengetahui papanya menelpon, bukannya senang malah si anak menghindar, cepat-cepat masuk kamar dan tak mau keluar ketika dipanggil.

Si mama merasa kalau akhir-akhir ini Cindy sering menghindar saat papanya yang tugas di lapangan menelpon. Kalau Anda ingin tahu kenapa sikap si anak berubah, baca di artikel Bila anak tiba-tiba berubah .

Renungan:
Tanpa kita sadari kita sering membuat anak kita tidak lagi mempercayai kita. Ketika kita sadar mereka mulai menjauh, kita menjadi sakit hati dan tidak bisa menerima sikap mereka. Padahal mungkin kita pernah mengecewakan mereka sehingga anak bersikap seperti itu. Jika hal itu terjadi pada Anda, jangan tanyakan mengapa mereka melakukan itu, tapi tanyakan pada diri sendiri "Apa yang telah kuperbuat sehingga anakku menghindari aku, bahkan menolakku?"

Cerita 3: Andai Aku Seperti Adik....
Cerita 4: Enaknya Membolos!
Cerita 5: Salahkah Jika Aku Sayang Ibuku?
Cerita 6: Benarkah Mama Khawatir Kepadaku?
Cerita 7: Sakit Itu Nikmat!
Cerita 8: Bu Siksa Mengubah Sikapku!
Cerita 9: Ibu, Percayalah Kepadaku!
Cerita 10: Papaku Lembek!
Cerita 11: Cemburunya Mamaku!
Cerita 12: Kapan Papa Mengajariku?
Cerita 13: Ayah Kok Plin-Plan!
Cerita 14: Pantaskah Aku Menerima Hukuman?
Cerita 15: Asyiknya Belajar Bersama Ibu!

Berhubung ceritanya banyak, saya cicil ya...Oh ya bagi yang ingin beli bukunya langsung, buku tersebut terbitan Elex Media Komputindo. Saya sih dulu beli di Gramedia, harganya sudah lupa tuh. Kayaknya sih enggak terlalu mahal, soalnya bukunya juga tipis kok, total 86 halaman. Meski tipis tapi isinya menyentuh, terutama bila ada kisah yang menyerupai peristiwa yang kita alami. Mari kita belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Read More......

Wednesday, 4 March 2009

Pengalaman Saat Dokter Anak Langganan Tidak Praktek

Pernahkah Anda mengalami kejadian saat anak Anda sakit ternyata dokter langganan yang biasa mengobati anak Anda sedang tidak praktek? Saya pernah mengalaminya beberapa kali, dan anehnya saat dibawa ke dokter spesialis anak lainnya kok anak saya enggak kunjung sembuh ya...

Beberapa waktu lalu Steven sakit, mungkin kecapekan karena sehari sebelumnya dia outbond bersama teman-teman sekolah, orang tua, dan guru. Saat outbond itu ada acara berjalan di atas tali, meniti jembatan tali, meniti tangga tali, flying fox, berenang, dsb. Banyak aktivitas fisik. Anak-anak sih gembira sekali.

Keesokan harinya saat pagi kelihatannya sih dia enggak apa-apa. Tapi sore harinya dia bilang mual, tapi setelah makan biscuit coklat hangat dia bilang sudah enggak apa-apa. Malam harinya kami jalan-jalan ke mall. Di sana Steven memilih menu mie goreng.

Setelah makan seperempat porsi dia bilang kalau sudah. Pertamanya kami pingin marah, sudah beli kok enggak dihabisin. Tapi ketika saya mencicipi mie tersebut, aduh ternyata rasanya eneg banget, kayaknya ada rasa langu, mungkin karena udangnya kurang matang atau sudah lama.

Malam harinya tiba-tiba Steven muntah. Yang keluar mie kental, tidak lama kemudian muntah lagi, kembali yang keluar mie. Setelah itu sepanjang malam dia masih muntah lagi 2 atau 3 kali dan isinya air, volumenya lumayan banyak. Sehingga total dalam semalam dia muntah 4 atau 5 kali. Karena saat itu tengah malam saya lupa tidak memberinya banyak cairan pengganti, hanya sekedar obat muntah dan minum air putih. Tapi ternyata obat muntahnya enggak mempan.

Keesokan paginya Steven begitu lemas, tidak bertenaga. Saat pagi sudah muntah 2 kali lagi. Seharian dia hanya tiduran. Siangnya muntah lagi, begitu pula sore harinya. Kebetulan hari itu Minggu. Seharusnya dokter langganannya praktek, tapi karena masih di luar kota jadi batal praktek, digantikan oleh dokter pengganti. Saat kami sampai ke tempat praktek dokter langganan, kami merasa heran, biasanya antriannya luar biasa banyak, eh hari itu kok sepi banget. Ya begitulah dokter, meski tempat prakteknya sama tapi kalau bukan dokter langganan yang menangani, orang banyak yang batal berobat.

Karena kondisi Steven saat itu mengkuatirkan dan sudah terlanjur sampai ke sana, kami akhirnya memeriksakan Steven ke dokter pengganti. Tapi...cara memeriksa dan mendiagnosanya kok kurang meyakinkan ya. Sudah githu ternyata obatnya hanya vitamin B6, lactobacillus, dan obat untuk mengatasi asam lambung. Obatnya hanya untuk 2 hari lagi...

Hari Senin Steven tidak bisa masuk sekolah, badannya lemas banget. Obat dokter pengganti tidak membawa efek yang berarti. Malah hari itu dia muntah dengan volume sangat banyak, sampai-sampai makanan yang masuk 3 jam sebelumnya ikut keluar lagi. Saat kencing kakinya gemetar. Rasanya sedih deh, kapan sembuhnya kalau seperti itu. Seharian hanya tiduran aja. Saya telpon ke dokter langganan, dokter bilang kalau kondisinya tidak juga membaik bawa ke tempat prakteknya lagi.

Untungnya malam itu sehabis makan Steven tidur nyenyak. Praktek dokter langganan ternyata juga ramai luar biasa. Karena Steven tidur dan tidak muntah lagi, malam itu kami batal ke dokter.

Hari Selasa, Steven bangun dari tempat tidur, membuka pintu, tapi kayaknya dia masih capek, kembali tiduran lagi. Hari itu dia kembali tidak sekolah dan seharian tiduran terus tanpa melakukan aktivitas apa-apa, paling nonton televisi. Hari itu dia sudah tidak muntah, tapi sebagai gantinya diare. Ampun deh kayaknya muntaber nih...

Sore harinya Steven mengeluh perutnya sakit. Ya sudah malam itu kami kembali ke dokter langganan. Seperti biasanya praktek dokter langganan sangat ramai, hari itu banyak yang membawa hasil lab. Antrian nomer 12 tapi sudah 2 jam lebih belum sampai juga giliran Steven.

Mulanya karena capek dan masih lemas Steven tidur nyenyak di bangku. Akhirnya jam 10 malam lebih dia terbangun dan minta pulang. Saat itu sudah kurang 2 pasien lagi baru giliran Steven. Saya tanya gimana kondisinya, dia bilang perutnya masih sakit. Ya sudah periksa kalau githu. Lagian nanggung sudah antri lama banget.

Dokter bilang Steven kena muntaber. Terus diberi resep obat. Berhubung saat itu sudah malam sekali, kami langsung pulang tanpa mampir ke apotik. Sampai di rumah Steven juga langsung tidur.

Hari Rabu, Steven keluar dari kamar dan berkata kalau dia sudah sembuh, sudah bisa sekolah. Kami melongo, beneran nih? Iya kata Steven sudah enggak apa-apa kok. Akhirnya dia sekolah hari itu dan beneran enggak apa-apa.

Yang mengherankan obat belum juga dibeli kok tahu-tahu Steven langsung sembuh. Seandainya Selasa malam itu Steven enggak ke dokter langganan, akankah hari Rabu dia bangun dengan ceria dan bilang kalau dia sembuh? Kejadian ini bukan yang pertama kalinya lho ....

Read More......

 

blogger templates | Make Money Online