Tuesday, 31 March 2009

Dilema Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir

Setelah memiliki anak, seringkali wanita yang biasanya bekerja mengalami dilema, tetap meneruskan karir yang telah dibangunnya atau menjadi ibu rumah tangga untuk merawat anak. Ada yang memilih tetap melanjutkan karir tapi sebenarnya hati dan pikiran banyak tersita di rumah, terlebih saat anak sakit. Sedangkan mereka yang memilih meninggalkan karir demi merawat anak merasa kehilangan sesuatu juga, bukan hanya uang tapi juga kebanggaan diri.

Saat wanita berkarir, memiliki penghasilan sendiri, wanita akan lebih dihargai suaminya karena bisa membantu menopang keuangan, terlebih di masa krisis dimana gaji naiknya cuman sedikit sedangkan kebutuhan hidup naiknya banyak sekali. Tapi...sebagian besar wanita karir memiliki rasa bersalah juga karena sebagian besar waktunya terbuang di luar rumah. Tak jarang dia berangkat saat anaknya belum bangun dan pulang saat anaknya sudah tidur. Hati ibu mana yang tidak merasa nelangsa, didera perasaan bersalah. Seandainya saja ada perkerjaan sampingan yang hasilnya lumayan yang bisa dikerjakan dari rumah, di sela-sela waktu mengurus anak...

Bagi ibu rumah tangga, murni menggantungkan diri dari penghasilan suami seringkali dirasa tidak memuaskan. Apalagi saat anak sudah sekolah, banyak sekali pengeluaran tak terduga seperti teman ulang tahun (harus beli kado), uang foto saat ada kegiatan di sekolah, uang jajan, dsb. Kalau yang dapat suami royal dan kaya sih mungkin enggak masalah, nah kalau suami perhitungan dan ngasih uang belanja pas-pasan, bisa pusing tujuh keliling tuh. Untuk biaya hidup sampai akhir bulan saja pas-pasan, darimana duit untuk beli kado, uang kegiatan, dsb.

Pernahkah Anda mengalami hal seperti itu? Atau saat ini hal tersebut yang Anda rasakan? Perasaan frustasi saat usaha suami bangkrut, saat biaya hidup meningkat tapi gaji naiknya sedikit sekali, dsb. Coba simak pengalaman teman saya berikut ini, semoga bisa menjadi ispirasi bagi kita.

Saya memiliki seorang teman. Beberapa tahun lalu usaha suaminya bangkrut saat sang suami menderita sakit yang cukup parah. Sebagai Ibu rumah tangga, teman saya tentu bingung. Dia harus berbuat sesuatu menggantikan peran menjadi pencari nafkah untuk menyambung hidup, biaya pengobatan suami, dan biaya sekolah anak. Dengan keterbatasan sisa uang yang dimilikinya dia memutar otak, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Kalau teman saya tadi memilih melamar kerja saat suami sakit tentunya susah sekali bukan. Suami sakit butuh didampingi, butuh diantar ke dokter, butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit. Kalau melamar kerja berapa waktu yang dibutuhkan sampai kita positif diterima? Perusahaan mana yang mau karyawannya sering membolos meskipun alasannya mengantarkan suami ke dokter? Kayaknya alternatif ini enggak bisa deh.

Teman saya terus berpikir, uangnya yang tersisa semakin menipis sedangkan biaya pengobatan terus keluar. Dia sayang suaminya dan tentu sangat mengharapkan suaminya sembuh. Dia harus bisa fleksibel dalam mengatur waktu, mengantar anak ke sekolah, merawat suami yang sedang sakit, sekaligus mencari tambahan penghasilan.

Akhirnya teman saya tersebut mendapat ide. Di dekat rumahnya ada pasar. Harga barang di pasar itu lumayan murah. Dia bisa kulakan barang di pasar dan menjualnya di sekolah anaknya. Dijalankannya ide tersebut. Saat itu musim duku, dia beli 1 kilo duku, dipilihnya yang manis dan kualitasnya bagus. Dibawanya ke sekolah, kemudian dibagikannya ke ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya. Masing-masing mendapat 2 buah duku. Ibu-ibu tersebut heran dan bertanya, "Apa ini?" Dia menjawab," Sudah dicoba aja dulu, gimana rasanya, enak enggak?" Ada ibu yang bertanya,"Kamu jualan tha?" Teman saya menjawab,"Iya, kamu mau pesan tha, minimal 2 kilo ya, soalnya kalau 1 kilo cuman sedikit lho..."

Karena memang duku yang dibawa teman saya tersebut enak dan mungkin ingin menolong teman (karena tahu kondisi teman saya tersebut), banyak ibu yang mau beli duku, bahkan ada yang langsung pesan 10 kilo. Teman saya mencatat semua pesanan yang masuk.

Keesokan harinya, dengan naik angkot dia bawa pesanan duku tersebut. Karena sudah tertarget, semua duku pesanan tersebut laris manis. Teman saya mendapat uang untuk modal kulakan berikutnya dengan untung Rp 1000/kg. Teman saya berpikir, kalau dia setiap hari jualan duku, enggak mungkin teman-temannya mau beli duku tiap hari. Barang apa ya yang jadi kebutuhan ibu-ibu? Jadinya dia melakukan survey dan setiap hari mendata temannya yang pesan bawang merah, bawang putih, jagung manis, rebung, dsb. Dia selalu membeli barang sesuai pesanan dan barang dagangannya selalu habis.Keuntungan dari berjualan tersebut lumayan juga. Bisa dibuat menyambung hidup dan membantu biaya pengobatan suaminya.

Suatu hari ada teman yang memberitahu produk alami dari lebah yang dapat membantu penyembuhan berbagai penyakit. Produk tersebut Melia Propolis yang merupakan antibiotik alami, anti bakteri, anti virus, dan anti jamur alami. Jadi propolis bisa membantu menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan bakteri seperti thypus, diare / muntaber. Penyakit yang berhubungan dengan virus seperti demam berdarah, flu, TBC, dsb. Penyakit yang berhubungan dengan jamur seperti eksim, panu, keputihan, ketombe, dsb. Selain itu propolis berfungsi sebagai anti peradangan, anti kanker, detoksifikasi, penetral racun, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dsb.

Teman saya berpikir tak ada salahnya mencobakan Melia Propolis tersebut ke suaminya karena produk ini alami. Apalagi di kitab suci tertulis: keluar dari perut lebah minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. Hati teman saya menjadi yakin kalau propolis yang merupakan campuran zat yang disekresi dari kelenjar air liur lebah bisa mendatangkan kesembuhan bagi suaminya.

Ternyata benar, suaminya berangsur-angsur sembuh. Saat teman saya menceritakan kabar gembira tersebut, banyak temannya yang menjadi tertarik, ingin membeli Melia Propolis. Teman saya berpikir, dia jual jagung manis per kilo untung Rp 1000, dalam 1 hari laku 25 kilo, untungnya hanya Rp 25000. Padahal untuk itu dia harus naik angkot untuk kulakan, menimbangnya per 2 kilo, mengemasnya. Besok pagi-pagi naik angkot lagi mengantarkan pesanan ke sekolah. saat berjualan propolis, untuk 1 botol berukuran 6 ml harga distributornya Rp 80.000, dijual dengan harga Rp 100.000. Keuntungan bersih sudah terlihat di depan mata Rp 20000/botol. Usaha yang dilakukan jauh lebih ringan tapi hasilnya jauh lebih besar.

Karena propolis yang dijual berdasarkan kesaksian nyata kesembuhan suaminya itu laku keras,
banyak yang melakukan pembelian ulang. Saat ada temannya yang tertarik menjadi anggota , keesokan paginya dia heran kok ada sms di handphonenya dari PT Melia Nature, memberi ucapan selamat karena dia memperoleh bonus. Mulanya teman saya tidak percaya, disangka sms penipuan. Tapi beberapa waktu kemudian saat dia memeriksa rekening tabungan yang dipakai saat pendaftaran menjadi member, teman saya melihat kalau ternyata bonus itu benar-benar ada. Secara periodik (dalam hitungan hari) dia mendapat bonus. Karena penasaran, dia pelajari sistemnya. Ternyata memang benar sistem bonus di Melia Nature harian.

Tuhan membukakan jalan bagi teman saya tersebut. Karena kegigihannya, sikapnya yang tegar, kesetiaannya pada suami, Tuhan membantu kesembuhan suaminya melalui propolis. Selain itu, dibukakan juga jalan karir di PT Melia Nature. Saat ini teman saya tersebut sudah menjadi leader. Selain bonus sponsoring, bonus pengembangan jaringan tak kalah banyaknya., selian itu masih ada bonus unilevel, dsb. Dari penghasilannya selama sekitar 2 tahun
sebagai distributor Melia Nature, dia berhasil membeli tanah, sepeda motor, dan barusan awal tahun 2009 ini mencicil mobil Panther.

Perjuangan hidupnya berjualan dan kulakan naik ongkot sudah menjadi kenangan. Saat ini teman saya ketika mengantar anaknya ke sekolah menyetir mobil sendiri, berkat training dan seminar yang diikutinya, orang memandang kagum padanya. Banyak orang yang ingin belajar menjadi sukses seperti dirinya (termasuk saya nih).

Dari cerita teman saya tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Lihat di saat teman saya jatuh, usaha bangkrut, suami sakit, dia tidak putus asa. Dia siap mengambil alih tanggung jawab. Lihat perjuangannya naik turun angkot kulakan barang, tanpa malu dia tawarkan ke sekolah. Strateginya agar barang laku setiap hari juga patut diacungi jempol.

Nah para ibu rumah tangga yang sedang menghadapi dilema, ayo kita belajar dari contoh teman saya tersebut. Kita harus bisa berusaha mencari jalan keluar dari setiap permasalahan. Saat gaji suami hanya naik dikit, saat usahanya bangkrut, saat suami sakit, kita jangan merongrongnya terus tapi kita harus berusaha bangkit berjuang mengatasi permasalahan yang ada. Alangkah bahagianya para ibu bila dapat menyeimbangkan antara karir dengan profesi sebagai ibu rumah tangga. Semoga cerita di atas dapat menjadi motivasi dan inspirasi Anda.



Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak teman saya bergabung sebagai member Melia Nature, silakan pelajari sistemnya dan keuntungannya. Kami support Anda menuju sukses.

Related Posts by Categories



4 comments:

Anonymous said...

bravo..salut buat si Ibu!
memang kadang tekanan itu dapat menjadikan dapat menjadikan cambuk penyemangat untuk lebih berusaha..
wahh..crita postingan yg ini bener2 "maknyos" banget sis kalo makanan gitu.
aku sendiri juga ngerasain..ups..aku ini sbg suami gitu loh critanya..
bayangin..sebelum nikah istriku kerja jadi marketing pma di Jakarta, nah setelah punya anak 2 akhirnya terjadi kebimbangan yg sama yg kayak di postingan kamu ini..sudah banyak sekali melamar kerja..hampir semua diterima..aku itung2 lebih dari 20 lamaran diterima sampe pada saat terakhir interview sama GM perusahaanya..terdapat tanya jawab begini :
GM : wahh ibu punya anak ya..gimana tuh nanti ngaturnya dengan kerjaan..sementara saya butuh orang yg bener2 fokus ke pekerjaan?
istriku :p : Justru Pak..anak buat saya adalah sebagai penyemangat dalam melaksanakan pekerjaan saya nantinya..
pikiranku (iya bener..kalo bukan karena anak ngapain kerja keras..justru karena anak kita harus kerja lebih keras apalagi dengan kebutuhan2 yg ada..masak ga bertanggungjawab yah) tapi setelah bbrp hari istriku dihubungin sama GM tersebut jawabannya : Maaf..sementara ini kita lebih memilih orang yg masih single..dengan harapan orang tersebut lebih fokus..jadi Ibu sementara belum kami terima..
*duenk*
kejadian seperti itu aku itung lebih dari 10kali loh..ternyata perusahaan2 di kita banyakan seperti itu :D wahh kejadiannya setelah itu persis banget sis..
gajiku engga naek2..hahaha naekpun dikit banget, trus tabungan dah mulai abis..wahhh apalagi kalo anak sakit..hisk deh..untung kalo sakit masih ada asuransi dari kantor..
berangkat dari situ kita coba muter otak..akhirnya diputuskan untuk mengoptimalkan potensi lokal di kampung..bla bla bla..jadilah toko furniture jepara online dan yg megang usaha itu adalah istriku..dari kerjasama ke pengrajin, harga,proses finishing, pengiriman sampe quality controlnya..hehehe jadi ada kesibukan dia sekarang :p untuk onlinenya, bikin web, update content,optimasi search engine, aku yg pegang..walaupun masih belajar, lumayan deh..pengunjung rata2 100/hari dengan pageview lebih dari 700/hari..kayaknya lumayan untuk domain yg baru diregist 4bln lalu..
jadi..akan lebih bagus lagi kalo seorang Ibu Rumah Tangga yang didukung sama suaminya..jangan hanya dukungan moral..kalo bisa teknis..insyaallah akan lebih bermanfaat.
Tengkyu sis..

Belajar Internet Marketing said...

Wah istri Mas Yudie hebat tuh, tapi memang wanita yang telah berhenti kerja demi anak seringkali menghadapi kendala untuk kembali berkarir. Syukurlah Mas Yudie dan istri berhasil membuat toko online Jeparamebel.com dan sukses.
Yup setuju tuh, peran suami penting banget. Kalau suami istri bisa saling mendukung hasilnya lebih maksimal.
Salam sukses ya...

Uang internet said...

Ibu2 ada uang internet gratis udah pd tau blm nih? Ne infonya silahkan klik uang internet

Yusi said...

Thanks ya infonya. salam kenal dan salam sukses

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online