Thursday, 16 July 2015

Berbagi Pengalaman Mengatasi Anak Bermasalah

Sudah lama saya tidak aktif menulis di blog. Kemarin tahu-tahu ada teman lama yang menyapa. Kami pertama kali berkenalan saat Steven berumur 1,5 tahun. Waktu itu saya sedang hamil Kevin. Teman lama ini begitu "terkesan" dengan tingkah laku Steven saat itu. Begitu susah diatur, tipe anak pemberontak yang suka menjerit-jerit kalau keinginannya tidak dipenuhi. Dia masih ingat kalau Steven kecil suka manjat-manjat ke papanya. Yang saya ingat, kalau ada tamu Steven kecil sering mencari perhatian dengan tingkahnya yang aneh-aneh. Waktu itu akhirnya saya minta tolong pembantu membawa Steven jalan-jalan di luar rumah supaya tidak mengganggu kami.

Setelah berbasa-basi, akhirnya teman lama ini bercerita kalau dia lagi pusing karena anak laki-lakinya yang berumur 3 tahun lagi nakal-nakalnya. Padahal dulu kakak perempuannya enggak seperti itu. Dia browsing di internet, nemu blog ini dan sempat membaca artikel-artikel lama. Dari hasil pembicaraan kami, saya jadi sadar ternyata ada gunanya juga ya berbagi pengalaman mengatasi anak bermasalah

Teman tersebut bercerita pernah waktu mereka sekeluarga naik mobil ke luar kota, anak cowoknya rewel, nangis sambil berteriak-teriak, bertengkar dengan kakaknya. Saking emosinya, dia jadi tidak konsentrasi nyetir sampai hampir tabrakan. Seringkali pulang kerja dalam kondisi capek, melihat anak nakal susah untuk mengontrol emosi. Kadang kala kakaknya kena imbas juga karena adiknya nakal. Dia sadar kondisi ini tidak sehat, tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Setelah marah-marah, seperti kebanyakan orang tua lainnya, timbul penyesalan, merasa jahat pada anak. Dia bilang pada dasarnya semua itu karena orang tua tidak mengerti ilmunya, kasihan anak yang jadi korban.

Untungnya teman ini tipe orang tua yang mau instropeksi diri, mau belajar memperbaiki diri, menerima nasehat, dan belajar dari pengalaman orang lain. Untuk orang tua dengan tipe seperti ini yakinlah masa-masa sulit itu akan berlalu. Suatu saat Anda akan merasa bangga pada anak Anda dan bisa menoleh ke belakang dengan tersenyum saat mengenang masa-masa itu.

Setiap anak, bahkan setiap orang memiliki bahasa cinta sendiri-sendiri. Ada yang haus akan kalimat pujian, ada yang merasa dicintai saat menghabiskan waktu berkualitas bersama, ada yang bahasa cintanya hadiah, ada yang suka kalau dilayani atau diperhatikan, ada pula yang butuh sentuhan fisik seperti pelukan, kecupan, digandeng tangannya. Kita perlu mengenali bahasa cinta anak-anak dan pasangan kita. Kadangkala bahasa cinta ini tidak hanya satu, bisa gabungan diantara bahasa-bahasa cinta tersebut.

Anak yang bahasa cintanya sentuhan fisik tidak akan terpenuhi tangki cintanya bila orang tua hanya menghujaninya dengan berbagai hadiah. Demikian pula anak yang bahasa cintanya waktu berkualitas akan merasa haus dan tangki cintanya kosong bila orang tuanya tidak pernah menghabiskan waktu bermain bersamanya. 

Beberapa waktu lalu keponakan saya menjadi anak yang sangat haus hadiah. Mungkin dia merasa kalau orang tuanya membelikannya mainan, itu artinya dia dicintai. Tapi karena tangki cintanya bocor, anak ini hanya bisa merasa senang sesaat setelah menerima hadiah. Tak lama kemudian dia merasa haus dan haus lagi, minta mainan lagi dan lagi.

Hal ini menimbulkan konflik diantara orang tuanya. Mamanya sih lebih cenderung mengabulkan saat anaknya minta mainan. Tapi papanya mungkin berpikir baru saja dibeliin mainan, masa minta beli lagi. Masa setiap kali ngeliat mainan semuanya minta dibeli. Hal ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. 

Saat itu kami sedang pergi liburan bersama rombongan keluarga besar naik bis tour. Setiap kali selesai berkunjung ke suatu tempat, dengan bangga anak ini memamerkan mainan barunya. Tapi setiap kali melihat mainan lainnya, anak ini selalu minta dibeliin lagi. Dia bilang kalau dia belum punya mainan yang ini. Kalau keinginannya tidak dituruti, dia akan terus merengek-rengek.

Pernah suatu ketika, mamanya tidak lagi menuruti keinginan anak itu. Di sepanjang perjalanan anak ini terus merengek, kadang merayu mamanya. Dia bertanya, " Mama enggak suka aku tha?" Dalam bayangan si anak, kalau keinginannya enggak dituruti, berarti orang tuanya gak suka (sayang) dia. Mendapat pertanyaan seperti itu, si mama menjadi bingung. Papanya yang emosi langsung menjawab dengan lantang,"Enggak suka!".

Hari demi hari berlalu,  kelakuan si anak makin menjadi. Pernah saat anak itu terus merengek-rengek, si nenek yang turun tangan, membelikan mainan yang diminta. Melihat itu papanya tambah marah. Alasan papanya enggak mbeliin mainan bukan karena uang tapi karena merasa enggak bener seperti itu terus. Masa setiap kelihatan mainan selalu minta...

Akhirnya saat anak itu minta mainan lagi, tidak ada yang berani turun tangan membelikan. Anak itu terus mengikuti mamanya sambil merengek. Semakin lama tingkat rengekannya makin parah. Saat kembali ke bis anak itu masih tetap merengek. Dengan penuh emosi papanya bilang, "Kalau kamu masih tetap meringik-ringik terus, turun di sini aja, kukasih ke tukang mainan, biar kamu dibawa Bapaknya!"

Kami semua seisi bis terdiam. Tour leader yang melihat anak itu menjadi kasihan. Anak itu yang merasa dikucilkan, tidak ada yang sayang padanya, akhirnya malah dekat dengan tour leader dan krunya. Dia pindah duduk di depan bersama mereka.

Seperti orang tua pada umumnya, setelah emosinya mereda, timbul penyesalan di hati sang ayah. Dia berusaha mendekati anaknya kembali. Si anak bertanya,"Papa mau ngasih aku apa?". Ternyata selama ini sudah menjadi kebiasaan, papanya tidak mau menuruti keinginan anaknya beli mainan, tapi sebagai gantinya papanya membelikan es cream, atau makanan.

Waktu itu kami semua ikut prihatin. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Ada yang berkomentar padahal papanya sudah keras lho mendidiknya, kok anaknya gak takut ya, tetap tidak menurut. Saat itu hati saya bergejolak. Ada keinginan untuk menolong tapi saat si anak saya ajak bicara, dia selalu mengalihkan perhatian ke hal lainnya.

Liburan berakhir. Ganjalan di hati masih belum hilang. Akhirnya dari hasil perenungan saya mulai menyadari pokok permasalahannya. Tangki cinta si anak bocor. Setiap kali diisi selalu tumpah lagi sehingga dia merasa kehausan terus-menerus. Penyebabnya? Kata-kata ancaman yang diucapkan papanya...

Bagaimana mungkin si anak merasa dicintai, sudah permintaannya tidak dituruti, masih diancam pula. Mau diturunkan di tengah jalan, dikasih ke bapak tukang mainan, dsb. Tentu saja kita sebagai orang tua tahu kalau kalimat itu hanya gertak sambal. Siapa sih orang tua normal yang tega berbuat seperti itu. Permasalahannya buat apa kita mengeluarkan kalimat ancaman yang menyakitkan hati anak? Luka batin yang ditimbulkan akibat kata-kata itu tidak bisa sembuh seketika.

Saya turuti dorongan hati untuk menulis surat via bbm. Saya beritahu kalau sebenarnya saya tidak ingin ikut campur. Tapi... kalau saya tidak bilang, mungkin orang tua tidak sadar dimana letak kesalahannya...

Saya ceritakan permasalahannya, apa dampak kata-kata ancaman itu ke dalam diri anak. Seandainya kata-kata orang tua dianggap doa kita, bagaimana jadinya kalau "doa" itu dikabulkan?

Karena kebetulan saat itu anak-anak saya baru ikut camp Adam Khoo, jadi saya mengutip nasehatnya: kalau kita menginginkan hasil yang berbeda, kita harus mengubah strategi. Kita tidak mungkin mengharapkan orang lain berubah kalau diri kita sendiri tidak berubah (For things to change, we must change first).

Adam Khoo juga mengajarkan cinta tanpa syarat ke anak. Bagaimanapun keadaan anak, orang tua harus mencintainya sepenuh hati. Anak perlu tahu saat kita marah, bukan pribadinya yang kita serang, melainkan perbuatannya.

Jadi saat kita marah, tunjukkan dengan jelas hal yang membuat kita marah adalah perbuatan salahnya. Kita tetap mencintai anak itu. Kemukakan perasaan kita dan alasan kenapa kita melarangkan berbuat seperti itu. Kalau kita mengucapkan kalimat hukuman, ucapkan kalimat yang beneran akan kita laksanakan bila si anak melanggarnya.

Untunglah si ayah bisa menerima nasehat saya dengan baik. Beberapa waktu kemudian, ketika kami bertemu lagi, sudah terlihat perubahan pada diri si anak. Dia tidak lagi menjadi pribadi yang haus mainan. Kadang dia masih mencoba meminta, tapi saat keinginannya tidak dituruti, dia sudah bisa menerimanya dengan baik. Hubungan antara ayah dan anak itu juga lebih harmonis. Ayahnya meluangkan waktu bermain bersama anaknya, benar-benar terlibat dengan sepenuh hati.

Si anak sekarang sudah merasa dirinya dicintai. Tapi seperti kondisi umumnya, semua ini butuh proses.  Baru-baru ini kami liburan ke Lombok bersama. Si anak begitu gembira bisa bermain di pantai. Dari rumah sudah disiapkannya 1 set mainan pantai, ditaruh di koper khusus buat dia. Setiap kali kami bepergian mainan pantai itu tidak lupa dibawanya. Di hari terakhir di Lombok, kami ke pantai Pink. Saat dia lengah mainan pantai itu lenyap. Anak itu begitu sedihnya, tapi akhirnya dia berhasil menguasai diri. Dia bilang, " Ya wis, gak apa-apa wis."

Tapi kesedihan hatinya membuat dia jadi rewel lagi. Ketika melihat celananya basah dan kakinya penuh pasir, dia kembali merengek-rengek, minta ganti baju. Kebetulan baju gantinya ditinggal di mobil, tidak dibawa naik kapal... Untungnya si ayah sudah bisa menghadapi anaknya dengan sabar. Akhirnya anaknya tertidur di pangkuan papanya. Ya begitulah anak-anak. Kita sebagai orang tua harus bisa belajar memahaminya dan mencintainya.

Semoga pengalaman ini bisa membuat para orang tua sadar dan mau memahami anak, mengisi tangki cintanya sesuai bahasa cinta yang dibutuhkan. 

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

 

blogger templates | Make Money Online