Sunday, 25 June 2017

Sharing Bagi Ortu yang Anaknya Sulit Belajar

Ahirnya Kevin berhasil juara 1 di kelas. Sebenarnya sih saat ini sudah enggak ada sistem rangking. Tapi saat pembagian raport, wali kelas Kevin bilang dia menghitung nilai beberapa anak dan kelihatannya yang peringkat 1 kelas adalah Kevin. Hal ini bukan peristiwa istimewa bagi sebagian orang. Nilai-nilai Kevin juga enggak fantastis. Tapi... mengingat masa kecil Kevin yang penuh perjuangan saat belajar, saya ingin berbagi cerita.

Saat kecil dulu Kevin terlambat bicara (speech delay). Bahkan sampai TK A kemampuan bicaranya masih mengenaskan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahami ocehannya. Hal ini tentunya menjadi kendala baginya, baik di kelas dalam hal pelajaran, maupun di pergaulan.

Untunglah menjelang kenaikan kelas TK A, kemampuan bicaranya meningkat pesat. Saat di TK B masih agak cadel jadi dia kesulitan mengeja dan menulis kata yang ada huruf r nya. Tapi dalam hal menghafal dan memahami bahasa, Kevin kelihatannya mengalami kesulitan, terutama dengan istilah yang baru didengarnya.

Saat membantu Kevin belajar di TK B, ada gambar orang buta. Saya bilang ke Kevin orang buta itu tidak bisa melihat, kalau tuli tidak bisa mendengar, bisu tidak bisa berbicara. Saya ulang berkali-kali tapi Kevin tidak juga mengerti. 

Saya ketakutan membayangkan bagaimana Kevin di SD. Saya coba berbagai cara tapi tetap saja susah sekali mengajari Kevin. Pernah saya beri dia "vitamin yang katanya bisa mencerdaskan otak" tapi ternyata Kevin alergi. Akibatnya malah bisulan. Berobat ke dokter kulit berkali-kali, susah sekali sembuhnya, bahkan tumbuh jamur di kulitnya. Ampun deh.

Pernah saya menghadap wali kelas Kevin. Saya utarakan ketakutan-ketakutan saya. Dengan bijak wali kelasnya berkata Kevin gak ada masalah kok di kelas. Dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Mengenai pelajaran SD memang belum saatnya, apalagi Kevin kelahiran bulan September, dia butuh waktu. Wali kelasnya lebih menguatirkan kondisi kulit Kevin saat itu :D

Di kelas 1 SD terlihat sulit sekali buat Kevin untuk menghafal secara utuh dan mengerti dengan sungguh pelajaran di sekolah. Butuh upaya ekstra dan kesabaran dalam mengajari Kevin. 

Enggak nyangka juga materi kelas 1 SD saat itu sudah berat. Pernah di pelajaran PKN ada materi tentang 6 agama di Indonesia lengkap dengan kitab suci, tempat ibadah, hari raya, pemuka agama. Susah sekali buat Kevin untuk menghafalkannya. Akhirnya saya buat tabel dengan warna-warni yang berbeda. Setelah berhari-hari akhirnya Kevin berhasil menghafal tabel tsb. Tapi... saat ditanya secara acak misal hari raya agama Hindu? Kevin hang, masih sering salah. Ihik sedihnya...

Di kelas 2 SD, saat materi ulangan diubah kalimatnya atau dibolak-balik, Kevin gagal paham. Pernah pulang sekolah Kevin cerita kalau dia gak ngerti apa yang ditanyakan. Besoknya saya dipanggil wali kelasnya yang heran masa pertanyaan mudah seperti ini Kevin enggak bisa. Gurunya tahu upaya saya mengajari Kevin.

Ulangan Kevin saat itu masih mendapat 80-an, yang menjadi masalah masa Kevin tidak bisa menjawab pertanyaan: apa yang dimaksud dengan kerjasama?

Dahi saya berkerut. Sebelum ulangan saya sudah memastikan Kevin hafal definisi kerjasama. Tapi kenapa Kevin tidak bisa? Begitu saya melihat Kevin berjalan mendekati saya, langsung dia saya tanya kerjasama adalah... Kevin bisa menjawab dengan benar dan lancar.

Trus kenapa kamu enggak bisa waktu ulangan? Jawab Kevin memang itu tha yang ditanyakan? Aku enggak ngerti...

Deg, saya kaget. Pelajaran berharga buat saya. Sejak hari itu saya jelaskan kalau ... adalah itu sama artinya dengan apa yang dimaksud oleh / dengan, jelaskan, apa pengertian, apa definisi....

Saat itu seberapa keras upaya saya mengajari Kevin, saya harus bisa maklum kalau dia membuat kesalahan-kesalahan konyol, khas Kevin.

Di kelas 2 SD itu Kevin sering sekali lupa menulis nama. Kalau kejadian seperti itu, di kertas ulangannya di bagian nama ditulis Bejo oleh gurunya. Pernah ada 2 anak yang lupa menulis nama. Jadi ada Bejo 1 dan Bejo 2. Ulangannya belum dibagi, cuman dibacakan nilainya. Kevin bilang dia yang Bejo 1 yang nilainya lebih bagus. Tapi hari itu emosi saya lagi memuncak karena nilai ulangan Kevin yang dibagi di bawah ekspektasi. Saya lupa nilainya, mungkin 80-an. Tapi karena saya merasa sudah mengajarinya sungguh-sungguh, kecewa banget rasanya melihat hasil yang enggak maksimal. Sementara anak-anak lain yang tidak belajar segiat itu dengan mudahnya mendapat nilai yang lebih bagus.

Karena saya lagi kesal, saya marahin Kevin karena sering sekali lupa menulis nama. Terus saya bilang kok kamu bisa yakin nilaimu yang lebih baik. Ini aja ulangan yang lebih gampang kamu cuman dapat segini.

Saking seringnya saya marahi, Kevin bilang ya sudah kalau mama enggak percaya. Beberapa hari kemudian ulangan tsb dibagi, ternyata beneran Kevin adalah Bejo 1 yang nilainya lebih bagus daripada Bejo 2. 

Kelas 3 kondisi belum membaik. Saat itu setelah 17 Agustus libur lebaran. Begitu masuk sekolah, jadwal ulangan sudah menanti. 

Hari itu dengan gembira Kevin membawa pulang hadiah lomba 17 Agustus. Kalau soal lomba ketangkasan, dulu Kevin lumayan sering menang. Lomba balap karung, kelereng, dan lomba-lomba lain. Tapi kegembiraannya lenyap saat saya menemukan ulangan yang baru dibagi hari itu.

Saya lupa ulangan apa itu. Enggak remidi tapi yang jelas lagi-lagi di bawah target. Saya begitu kecewa. Malam itu kami akan berangkat ke Bali bersama rombongan keluarga. Rencana awal liburan ya berlibur, senang-senang. Tapi...melihat nilai Kevin membuat saya kepikiran dengan jadwal ulangan saat masuk sekolah.

Saya segera menuju depan laptop. Saya ketik semua materi yang bakal jadi materi ulangan Kevin. Saya print untuk dibawa berlibur. Setiap ada kesempatan, saya suruh Kevin belajar. Saya suruh Kevin duduk di bis di sebelah saya agar saya bisa dengan mudah menjejalkan materi dan menyuruhnya menghafalkan. 

Saat itu materi ips tematik tentang sungai, danau, gunung, pantai, laut, dsb. Pada saat ke Danau Bedugul, begitu melihat danau saya langsung teringat menanyai Kevin danau adalah... Sebutkan manfaat danau!

Karena materi tematik yang luas dan kadangkala guru suka mengeluarkan materi yang tidak ada di buku, saya berusaha mengajari sebanyak mungkin. Seperti saat di pelabuhan saya jelaskan apa itu pelabuhan, saya suruh Kevin menghafalkan contoh nama pelabuhan.

Saat kami menuju Tanah Lot, terlihat sekali Kevin merasa capek dan menghindar dari saya. Air mukanya murung, tidak menikmati liburan.

Akhirnya liburan ke Bali berakhir sudah. Tapi liburan sekolah masih tersisa beberapa hari. Lha kok orang-orang mengajak menginap di villa selama 2 malam. Deg langsung terbayang gimana ini Kevin belajarnya...

Di villa saya cuman membawa bahan untuk ulangan B Jawa, materi UH yang terdekat. Untungnya Kevin sudah lumayan hafal jadi hanya tinggal review sedikit.

Masa sekolah pun mulai. Ulangan susul-menyusul. Setelah itu masa pembagian hasil ulangan. B Jawa meski enggak mendapat 100 tapi masih lumayan, sekitar 95 nilainya. Buat Kevin saat itu nilai segithu sudah bagus. Kalau target harus 100 di semua ulangan bisa stress berat deh.

Ulangan ips dan pkn dibagi bersamaan. IPS dapat 80, PKN 70. Deg ! Keviiin gimana sih harusnya mama ngajari kamu? Karena PKN kkm nya 75, berarti Kevin remidi.

Waktu itu remidi dilaksanakan di hari Sabtu, saat sekolah libur. Yang remidi PKN cuman sedikit, malah B Jawa yang lumayan banyak.

Waktu mempelajari soal PKN, saya melihat kesalahan-kesalahan konyol Kevin. Terlihat kalau Kevin belajarnya gak mantap. Tapi waktu melihat soal IPS saya kaget, kok yang keluar banyak yang menyimpang dari buku?

Memang sih tematik itu luas. Banyak pertanyaan yang pengetahuan umum dan logika. Sepanjang liburan Kevin saya suruh menghafal definisi gunung, danau, pantai, contoh dan manfaatnya tapi ternyata gak keluar.

Saat itu saya merasa capek. Rasanya usaha keras saya mengajari Kevin tidak banyak gunanya. Bertahun-tahun saya berupaya agar Kevin enggak remidi, tapi ternyata kejadian juga. Saya kalah.

Kevin saya marahi tapi dari air mukanya saya tahu dia mengeraskan hati. Ocehan saya tidak mengena. Hari itu saya menangis. Saya menulis surat ke gurunya. Saya ceritakan bagaimana Kevin sudah berusaha belajar tapi kalau materi yang keluar tidak ada di buku, bagaimana saya harus mengajarinya?

Waktu mengantar Kevin remidi, saya serahkan surat itu. Saya bertanya UH IPA yang belum dibagi, apakah Kevin remidi juga? Enggak kata gurunya, IPA Kevin dapat 100. Saya terdiam. Masih ragu. Gurunya enggak salah ingat khan? Jangan-jangan itu nilainya anak lain? Rasanya belum lega kalau belum ngeliat langsung. Ya begitulah orang paranoid.

Suatu hari saya mengajak Kevin bicara dari hati ke hati. Kamu tahu enggak Vin, waktu kamu remidi itu mama nangis lho. Kevin kaget. Mama itu sedih atau marah sih?

Saya bilang ya saking sedihnya sampai marah. Mama sudah berusaha keras ngajari kamu tapi kalau kamu gak mau diajari ya mama gak bisa apa-apa. Saya ceritakan bagaimana sedihnya saya ketika Kevin menjauhi saya, saat saya berusaha keras membuatnya mengerti dan hafal pelajaran, tapi dia enggak peduli.

Ternyata curahan hati saya itu membuat Kevin menangis. Dia menangis tersedu-sedu, enggak bisa dihentikan. Saya suruh dia mandi dengan harapan mandi bisa membantu menenangkan dan mendinginkan kepalanya. Tapi ternyata dia terus menangis. Saya panggil Kevin, saya rangkul. Sejak hari itu terjadi saling pengertian di antara kami. Kevin berjanji belajar dan berusaha sungguh-sungguh karena tidak ingin melihat saya sedih. Saya berusaha mengajarinya tanpa marah-marah.Karena ganjelan hati sudah hilang proses belajar mengajar jadi lebih menyenangkan. 

Suatu hari saya mendengar Kevin cerita teman-temannya curhat bagaimana sikap orang tuanya saat mereka remidi. Ada yang bilang kalau dimarahi, dipukuli. Terus Kevin bilang kalau aku remidi mamaku nangis. Hah? Kamu bilang githu Vin? 
Iya, khan bener mama nangis waktu itu...
Tapi khan mama malu Vin. Terus temen-temenmu bilang apa?
Kata temen-temen mending kamu Vin, kata mamaku aku bakal diusir dari rumah kalau sampai remidi.
Terus ada yang cerita kalau dia bakal diturunin di tengah jalan, disuruh pulang jalan kaki.

Hiii serem-serem ya ancaman para ortu yang tidak ingin anaknya remidi. Saya sih tahu itu sekedar ancaman. Tapi bagi anak kelas 3-4 SD, mengena banget. Mereka begitu ketakutan mendapat nilai jelek. Bahkan ada yang gak dapat 100 atau gak dapat nilai tertinggi langsung nangis.

Sebagai orangtua, kadangkala tanpa disadari kita membuat serangkaian kesalahan. Jujur, sampai saat ini pun saya masih sering berbuat salah. Kadangkala saya tahu dan sadar kalau saya salah, tapi kenapa sulit sekali untuk berubah?

Kalau saat ini saya menoleh ke masa lalu, sebenarnya Kevin bukan anak nakal. Bukan salahnya juga kalau dia tidak secerdas kakaknya. Kevin anak yang mau belajar tapi dia butuh waktu lebih dibanding rata-rata teman-temannya saat itu. 

Waktu Kevin sudah lebih besar, dia sudah bisa protes. Kalau saya mengajarinya terlalu cepat dia akan bilang mana mungkin aku hafal kalau mama ngomongnya cepat kayak githu. Mama khan tahu otakku kayak apa, aku butuh waktu buat hafalin.

Ada beberapa keputusan penting yang membuat Kevin menjadi lebih percaya diri:
- Saat Kevin kelas 1 SD melihat kemampuan menghafalnya yang mengkuatirkan, saya pernah berpikir memasukkannya ke les memori. Tapi sayangnya les tersebut terlalu jauh dari rumah. Sebagai gantinya Kevin saya ikutkan les IQ math. Benernya saat itu kemampuan matematika Kevin tidak bermasalah. Di les ini kemampuan logika Kevin diasah, Kevin belajar banyak hal menarik yang membuatnya menyenangi matematika. Pada akhirnya dia memiliki kebanggaan diri, lebih unggul dari rata-rata temannya di bidang matematika. 
Note: IQ math berbeda dengan mat olimpiade yang soalnya sering muncul di lomba-lomba. IQ math cenderung untuk membuat anak menyenangi matematika, berpikir logika, menyelesaikan masalah mat dan soal-soal cerita.

- Pada saat liburan kenaikan kelas (Kevin dari kelas 4 naik ke kelas 5), kami mengikutkan anak-anak ke I'm Gifted Camp nya Adam Khoo. Setelah camp, mereka kami ikutkan program lanjutannya, juga pindah les di AKLC. Di sana, bukan cuman anak yang belajar, para orangtua pun dibuat menyadari kesalahan-kesalahan umum yang kerap dilakukan. 

Saat saya mengantar Kevin les di AKLC, kebetulan gurunya adalah coach saat camp. Saya bertanya bagaimana Kevin saat camp, coach tsb bercerita kalau Kevin itu peserta camp di groupnya yang terkecil. Sudah kecil, kurus lagi. Saat hari pertama dia begitu tidak percaya diri. Berkali-kali dia bilang aku enggak pinter. Kokoku (kakakku) pinter, aku enggak.

Di I'm Gifted Camp diajari semua anak berharga. Tapi rupanya sudah melekat kuat di benak Kevin kalau dia itu lucu, kakaknya pinter. Pernah ada kejadian saya sedang mengobrol berdua dengan kakaknya terus kami tertawa bersama. Kevin marah. Dia bilang Koko khan enggak lucu, kenapa mama ketawa sama Koko...

Saya kaget. Begitu besar efek labeling. Kevin berpikiran kalau Koko pintar dan lucu, terus dia kebagian apanya? Kenapa semua diambil Koko?

Meski saya sudah tahu kalau saya salah, ternyata mengubah diri bukan hal yang mudah. Sama seperti Kevin yang sulit diyakinkan kalau dia pintar, saya pun berpikir demikian. Masa kayak githu dibilang pinter...

Coach bercerita di I'm Gifted Camp ada sesi anak berjalan di atas balok kayu yang digoyang dengan cara ditendang. Biasanya anak akan jatuh dan dia harus mengulanginya lagi. Mata harus fokus menatap ke tujuan, menjaga keseimbangan, siap-siap menerima gonjangan. 

Sesi itu menjelaskan proses kehidupan tidak mudah, tidak mulus. Seringkali ada gangguan atau hambatan yang membuat kita jatuh. Tapi kita harus berani mulai lagi, fokus menatap tujuan. Jatuh bangun lagi, jatuh bangun lagi.

Untuk anak yang tidak bermasalah, sesi ini bisa dilalui dengan mudah. Tapi bagi Kevin yang saat itu bermasalah, coach melihat ada sesuatu yang perlu dilakukan. Coach tsb menjelaskan: Benernya saya enggak tega, melihat Kevin begitu kecil, kurus, enggak percaya diri. Tapi kalau saya enggak melakukannya, camp itu enggak akan banyak gunanya.

Jadi di balok keseimbangan itu Kevin dibuat berkali-kali jatuh. Coach meneriakkan kata-kata tertentu yang harus dijawab oleh Kevin. Karena saya tidak melihat langsung, saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Yang jelas itu sesi yang banjir air mata buat Kevin. Tapi saat dia berhasil melaluinya, keyakinan baru dalam dirinya mulai tumbuh.

Coach tersebut berusaha keras membantu Kevin. Dalam sesi-sesi selanjutnya Kevin terlihat lebih bersemangat. Bahkan keesokan harinya, di saat teman-temannya bilang capek, katanya Kevin yang menjadi penyemangat team.

Liburan tahun lalu, Kevin ikut I'm Gifted Camp lagi. Kali ini menemani temannya yang juara 1 lomba yang mendapat hadiah gratis camp. Di camp yang kedua ini Kevin lebih enjoy. Bisa melewati balok dengan mudah. Sesi yang diajarkan juga lebih dimengerti.

Saat masuk sekolah di awal kelas 7, saat LOS Kevin dan 2 temannya yang ikut I'm Gifted Camp termasuk anak-anak yang mendapat penghargaan (dipilih 1 anak dari tiap-tiap kelas, ada 11 kelas). 

Di kelas 7 ini kepercayaan diri Kevin lebih baik. Kevin sudah belajar teknik menghafal. Pelajaran hafalan tidak lagi menjadi momok baginya. Kevin juga anak yang mau mempersiapkan diri, mencicil belajar jauh-jauh hari sebelumnya. Kebetulan juga tingkat persaingan di kelas tidak terlalu tinggi, jadi Kevin akhirnya bisa menjadi juara 1 kelas.

Liburan barusan ini Kevin ikut Life Camp yang diadakan Merry Riana. Kali ini Kevin belajar mengatasi masalah-masalah kehidupan. Saya senang mengikutkan anak camp karena saya sadar akan keterbatasan saya. Kalau saya ingin anak-anak saya tumbuh lebih maksimal, mereka membutuhkan mentor yang tepat.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam diri Kevin. Begitu juga diri saya sebagai orangtuanya. Saya hanya ingin berbagi karena sebagai orangtua kita juga tidak luput melakukan serangkaian kesalahan. Marilah kita saling memaafkan. Selamat idul fitri bagi yang merayakan.

Read More......

 

blogger templates | Make Money Online